Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Menara Pengawal  |  Januari 2014

 SEBUAH PERCAKAPAN

Mengapa Allah Membiarkan Penderitaan?

Mengapa Allah Membiarkan Penderitaan?

Berikut ini adalah contoh percakapan dengan seorang Saksi Yehuwa. Katakanlah Saksi bernama Michelle mendatangi rumah seorang wanita bernama Sophia.

BAGAIMANA PERASAAN ALLAH MELIHAT PENDERITAAN KITA?

Michelle: Ibu Sophia, minggu lalu kita sempat bicara tentang perasaan Allah sewaktu melihat kita menderita. * Ibu bilang Ibu sering memikirkan ini, apalagi setelah mama Ibu kecelakaan. Oh iya, bagaimana kabar mama?

Sophia: Yah, kadang baik, kadang tidak. Tapi, hari ini Mama lumayan sehat.

Michelle: Wah, baguslah. Pasti sulit ya, Bu, menghadapi situasi ini.

Sophia: Iya. Saya kasihan melihat Mama menderita seperti itu.

Michelle: Kita pasti tidak suka kalau orang yang kita sayangi menderita. Minggu lalu saya janji akan membahas kenapa Allah membiarkan kita menderita padahal Dia bisa menghentikannya.

Sophia: Iya, saya ingat.

Michelle: Sebelum kita membahasnya dari Alkitab, bagaimana kalau kita ulangi sedikit topik minggu lalu?

Sophia: Boleh.

Michelle: Kita belajar bahwa bahkan seorang nabi Allah yang setia bingung kenapa penderitaan terus berlangsung. Tapi, Allah tidak pernah memarahinya atau bilang kalau dia kurang iman.

Sophia: Iya, baru waktu itu saya dengar cerita itu.

Michelle: Kita juga membahas kalau Allah Yehuwa sangat sedih waktu melihat kita menderita. Contohnya, Alkitab menyebutkan bahwa sewaktu umat Allah menderita, ”hal itu menyesakkan baginya”. * Bagaimana perasaan Ibu setelah mengetahui hal ini?

Sophia: Wah, senang sekali.

Michelle: Kita juga setuju bahwa Allah punya kuasa yang tak terbatas, jadi Dia pasti bisa mengakhiri penderitaan kapan pun Dia mau.

Sophia: Nah, itu yang saya tidak mengerti. Kenapa sampai sekarang Allah membiarkan semua hal buruk terjadi?

SIAPA YANG BENAR?

Michelle: Bagus sekali pertanyaan Ibu. Jawabannya bisa kita temukan di buku pertama dalam Alkitab, Kejadian. Apakah Ibu Sophia ingat kisah Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang?

Sophia: Iya, saya tahu kisah itu dari Sekolah Minggu. Allah melarang mereka makan buah dari satu pohon, tapi mereka melanggarnya.

Michelle: Betul sekali. Nah, sekarang kita akan baca kenapa mereka sampai berdosa. Ini  penting untuk mengetahui kenapa kita menderita. Boleh Ibu bacakan Kejadian pasal 3, ayat 1 sampai 5?

Sophia: Boleh. ”Adapun ular ialah yang paling berhati-hati dari antara semua binatang liar di padang yang telah Allah Yehuwa buat. Maka ular mengatakan kepada wanita itu, ’Apakah memang benar bahwa Allah mengatakan kamu tidak boleh memakan buah dari setiap pohon di taman ini?’ Maka wanita itu mengatakan kepada ular, ’Buah dari pohon-pohon di taman ini boleh kami makan. Tetapi mengenai makan buah dari pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah telah berfirman, ”Kamu tidak boleh memakan buahnya, tidak, kamu tidak boleh menyentuhnya agar kamu tidak mati.”’ Lalu ular mengatakan kepada wanita itu, ’Kamu pasti tidak akan mati. Karena Allah tahu bahwa pada hari kamu memakannya, matamu tentu akan terbuka dan kamu tentu akan menjadi seperti Allah, mengetahui yang baik dan yang jahat.’”

Michelle: Terima kasih. Coba kita bahas ayat ini. Pertama, perhatikan bahwa seekor ular berbicara kepada Hawa. Ayat lain dalam Alkitab menunjukkan bahwa Setan Si Iblis-lah yang sebenarnya berbicara. * Setan bertanya kepada Hawa tentang perintah Allah soal makan buah dari pohon tertentu. Di ayat tadi, apa yang Allah katakan kalau Adam dan Hawa makan?

Sophia: Mereka akan mati.

Michelle: Iya, benar. Perhatikan bahwa setelah itu Setan menuduh Allah. Dia bilang, ”Kamu pasti tidak akan mati.” Dengan kata lain, Setan bilang Allah itu pembohong!

Sophia: Oh, baru sekarang saya mengerti cerita ini.

Michelle: Tuduhan Setan itu tidak bisa langsung dijawab.

Sophia: Kenapa begitu?

Michelle: Misalnya seperti ini: Ada dua pria. Yang satu bilang dia lebih kuat dari yang lainnya. Bagaimana ini bisa dibuktikan?

Sophia: Ya, mungkin bisa langsung tes, siapa yang lebih kuat.

Michelle: Betul sekali. Mereka bisa sama-sama mengangkat benda yang berat dan akan langsung kelihatan siapa yang lebih kuat.

Sophia: Iya, bisa seperti itu.

Michelle: Nah, bagaimana kalau salah satunya mengaku bahwa dialah yang lebih jujur. Apakah itu bisa langsung dibuktikan?

Sophia: Mungkin sulit, ya.

Michelle: Benar. Kejujuran tidak sama dengan kekuatan yang bisa langsung dibuktikan dengan tes sederhana seperti tadi ya, Bu.

Sophia: Iya, ya.

Michelle: Satu-satunya cara untuk membuktikan itu adalah memberi waktu dan melihat siapa yang lebih jujur.

Sophia: Iya. Itu masuk akal.

Michelle: Sekarang, mari kita kembali ke cerita di buku Kejadian tadi. Apakah Setan bilang dia lebih kuat dari Allah?

Sophia: Tidak.

Michelle: Allah bisa saja langsung buktikan bahwa Setan salah. Tapi, Setan mengaku kalau dirinya lebih jujur dari Allah. Secara tidak langsung Setan bilang, ’Allah bohong padamu. Saya yang benar.’

Sophia: Menarik, ya.

Michelle: Allah yang berhikmat tahu cara terbaik untuk menjawab tuduhan itu. Dia memutuskan untuk membiarkan waktu berlalu. Pada akhirnya, akan terlihat siapa yang benar dan siapa yang salah.

SEBUAH MASALAH PENTING

Sophia: Tapi, setelah Hawa mati, bukankah itu membuktikan Allah benar?

 Michelle: Betul. Tapi, ada lagi yang Setan tuduhkan. Coba Ibu lihat lagi ayat 5. Apa yang Setan katakan kepada Hawa?

Sophia: Dia bilang kalau Hawa makan buah itu, matanya akan terbuka.

Michelle: Ya, dan Hawa akan menjadi ”seperti Allah, mengetahui yang baik dan yang jahat”. Jadi, menurut Setan, Allah seakan-akan menahan sesuatu yang baik dari manusia.

Sophia: Oh, begitu.

Michelle: Itu juga adalah tuduhan yang serius.

Sophia: Maksudnya?

Michelle: Setan secara tidak langsung mengatakan bahwa Hawa—dan sebenarnya semua manusia—tidak perlu diatur Allah. Untuk masalah ini pun, Yehuwa tahu bahwa cara terbaik untuk menjawab Setan adalah membiarkan dia membuktikan kata-katanya sendiri. Maka, Allah membiarkan Setan memerintah dunia ini untuk sementara. Itulah sebabnya penderitaan ada di mana-mana. * Tapi, Alkitab memberi kita harapan.

Sophia: Harapan apa?

Michelle: Ada dua. Pertama, Yehuwa siap membantu kita saat kita menderita. Misalnya, coba kita pikirkan kata-kata Raja Daud di Mazmur 31:7. Daud mengalami banyak penderitaan selama hidupnya, tapi perhatikan apa yang ia katakan kepada Allah dalam doanya. Boleh tolong Ibu bacakan?

Sophia: Boleh. ”Aku akan bergembira dan bersukacita atas kebaikan hatimu yang penuh kasih, sebab engkau telah melihat penderitaanku; engkau mengetahui kesesakan jiwaku.”

Michelle: Meskipun Daud mengalami penderitaan, dia merasa terhibur karena tahu bahwa Yehuwa melihat semua yang dia alami. Sekarang pun, Yehuwa melihat semua kesedihan kita, bahkan yang tidak dipahami orang lain. Bagaimana perasaan Ibu setelah mengetahui hal ini?

Sophia: Saya sangat tersentuh.

Michelle: Nah, harapan yang kedua, Allah tidak akan membiarkan kita terus menderita. Alkitab mengajarkan bahwa Allah akan segera mengakhiri pemerintahan Setan. Dan, Dia akan menyingkirkan hal-hal buruk yang sudah terjadi, termasuk yang dialami Ibu dan mama Ibu. Bagaimana kalau minggu depan kita bahas mengapa kita bisa yakin sebentar lagi Allah akan mengakhiri semua penderitaan? *

Sophia: Iya, boleh. Saya tunggu ya, Bu.

Adakah topik Alkitab yang belum jelas bagi Anda? Apakah Anda ingin mengetahui kepercayaan atau ibadat Saksi-Saksi Yehuwa? Kalau begitu, jangan ragu untuk bertanya kepada mereka. Mereka akan senang membahasnya dengan Anda.

^ par. 5 Lihat ”Sebuah Percakapan—Apakah Allah Prihatin dengan Penderitaan Kita”? dalam edisi 1 Juli 2013 majalah ini. Juga tersedia di www.jw.org/id.

^ par. 59 Untuk keterangan lebih lanjut, lihat pasal 9 buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan, yang diterbitkan Saksi-Saksi Yehuwa.