SINAR matahari pagi mulai mengintip dari balik dataran di sekeliling Yerikho. Dari jendela rumahnya, Rahab bisa melihat pasukan prajurit Israel berkumpul. Hari ini, seperti enam hari kemarin, mereka bersiap mengelilingi kota itu lagi. Debu beterbangan karena entakan kaki mereka dan suara tiupan tanduk memecah keheningan.

Rahab lahir dan tumbuh besar di Yerikho; ia kenal baik setiap jalan, rumah, serta pasar dan pertokoan yang penuh sesak di sana. Rahab juga sangat mengenal penduduknya. Ia tahu bahwa mereka semakin bingung dan ketakutan melihat ritual aneh yang dilakukan orang Israel. Satu kali setiap hari, prajurit Israel berbaris mengelilingi Yerikho. Suara tiupan tanduk mereka menggema di jalan-jalan dan lapangan-lapangan. Namun, Rahab tidak merasa cemas dan putus asa seperti penduduk Yerikho lainnya.

Di hari ketujuh ini, Rahab memperhatikan tentara Israel mulai berbaris mengelilingi kota itu pagi-pagi. Bersama mereka, ada imam-imam yang meniup tanduk dan membawa tabut suci yang melambangkan kehadiran Allah mereka, Yehuwa. Bayangkan perasaan Rahab saat tangannya menyentuh tali merah yang tergantung dari jendelanya. Tali itu mengingatkan Rahab akan harapannya bahwa ia dan keluarganya akan selamat dari kehancuran kota itu. Apakah Rahab pengkhianat? Di mata Yehuwa, Rahab bukan pengkhianat; ia adalah wanita yang imannya luar biasa. Mari kita ikuti cerita Rahab dari awal dan lihat apa yang dapat kita pelajari darinya.

RAHAB SI PELACUR

Rahab adalah seorang pelacur. Beberapa komentator Alkitab tidak mau menerima fakta ini sehingga mereka mengatakan bahwa Rahab hanyalah pengurus penginapan. Tetapi, Alkitab terus terang dan tidak menutup-nutupi fakta. (Yosua 2:1; Ibrani 11:31; Yakobus 2:25) Di Kanaan, profesi Rahab ini kemungkinan dianggap biasa saja. Namun, karena Yehuwa memberikan hati nurani kepada manusia, di lubuk hatinya Rahab bisa jadi merasa bersalah dan malu dengan kehidupannya. (Roma 2:14, 15) Seperti banyak orang sekarang yang menjalani kehidupan seperti itu, Rahab mungkin tidak punya pilihan lain. Ia merasa itulah satu-satunya cara untuk menghidupi keluarganya.

Rahab pasti mendambakan kehidupan yang lebih baik. Ia dikelilingi kekerasan dan kebejatan, termasuk inses dan bestialitas. (Imamat 18:3, 6, 21-24) Penyebab utamanya adalah agama. Pelacuran adalah bagian dari ibadat di kuil-kuil. Anak-anak dibakar hidup-hidup sebagai persembahan kepada dewa-dewi seperti Baal dan Molekh.

Yehuwa melihat apa yang terjadi di Kanaan. Karena parahnya kejahatan orang Kanaan, Yehuwa mengatakan, ”Negeri itu najis, dan aku akan mendatangkan kepadanya hukuman atas kesalahannya, dan negeri itu akan memuntahkan penduduknya.” (Imamat 18:25) Bagaimana Yehuwa akan menjalankan ”hukuman” itu? Bangsa Israel diberi tahu bahwa suku-suku Kanaan ’akan diusir sedikit demi sedikit’. (Ulangan 7:22, Bahasa Indonesia Masa Kini) Hal ini sesuai dengan janji Yehuwa kepada Abraham untuk memberikan negeri itu kepada keturunannya,  dan ’Allah tidak berdusta’.Titus 1:2; Kejadian 12:7.

Tetapi, Yehuwa juga menetapkan bahwa ada beberapa suku di negeri itu yang pasti akan dibinasakan. (Ulangan 7:1, 2) Sebagai ”Hakim segenap bumi” yang Maha-adil, Ia telah memeriksa isi hati semua orang dan mengukur seberapa dalam kejahatan dan kebejatan berakar dalam hati mereka. (Kejadian 18:25; 1 Tawarikh 28:9) Rahab hidup di salah satu kota yang pasti dibinasakan. Bayangkan perasaannya saat mendengar cerita-cerita tentang bangsa Israel. Ia tahu bahwa Allah orang Israel telah memimpin bangsa budak yang tertindas itu sehingga mereka menang melawan bala tentara Mesir, pasukan terkuat di dunia kala itu. Sekarang, Israel akan menyerang Yerikho! Namun, orang-orang di kota itu tidak peduli dan terus berbuat jahat. Pantas saja Alkitab menyebut bangsa Rahab, Kanaan, sebagai ”orang-orang yang bertindak tidak taat”.Ibrani 11:31.

Rahab berbeda. Selama bertahun-tahun, ia bisa jadi merenungkan cerita-cerita yang ia dengar tentang bangsa Israel dan Allah mereka, Yehuwa. Ia bisa menyimpulkan bahwa Allah ini kontras sekali dengan allah-allah orang Kanaan! Allah ini berperang demi umat-Nya, bukan menyiksa mereka. Ia tidak merendahkan, tapi meningkatkan standar moral mereka. Allah ini menganggap wanita sangat bernilai; mereka bukan objek seksual untuk diperjualbelikan dan dilecehkan dalam ibadat yang menjijikkan. Saat Rahab tahu bahwa orang-orang Israel berkemah di seberang Sungai Yordan, siap menyerbu, ia pasti mencemaskan nasib Yerikho. Apakah Yehuwa memperhatikan Rahab dan melihat hal-hal baik dalam dirinya?

Pada zaman kita, banyak orang seperti Rahab. Mereka merasa terjebak dalam kehidupan yang menyedihkan; mereka merasa tidak dianggap dan tidak berharga. Pengalaman Rahab menghibur kita karena menunjukkan bahwa Allah memperhatikan setiap orang. Meski kita menganggap diri rendah, Allah ”tidak jauh dari kita masing-masing”. (Kisah 17:27) Ia dekat. Ia siap dan sangat ingin memberikan harapan kepada orang yang beriman kepada-Nya. Apakah Rahab beriman?

IA MENYAMBUT DUA MATA-MATA ITU

Suatu hari, tak lama sebelum pasukan Israel mulai mengelilingi Yerikho, dua orang tak dikenal datang ke rumah Rahab. Mereka ingin bisa langsung diizinkan masuk, tetapi Rahab curiga. Alasannya? Di kota yang tengah diselimuti ketegangan itu, banyak orang disuruh mengawasi kemungkinan adanya penyusup Israel. Selain itu, meski rumah Rahab sering didatangi pria asing, dua pria ini berbeda. Mereka hanya mencari penginapan—bukan mencari pelacur.

Dua pria itu memang mata-mata Israel. Pemimpin mereka, Yosua, mengirim mereka untuk mencari tahu kekuatan dan kelemahan Yerikho. Yerikho adalah kota Kanaan pertama, dan mungkin yang terkuat, yang harus diserang orang Israel. Yosua ingin tahu apa yang bakal dihadapi pasukannya. Dua mata-mata itu pasti sengaja memilih rumah Rahab. Di rumah seorang pelacur, orang asing bisa berseliweran tanpa menarik perhatian.  Mungkin mereka juga berharap bisa menguping beberapa informasi berguna.

Alkitab mengatakan bahwa Rahab ”dengan murah hati menerima utusan-utusan itu”. (Yakobus 2:25) Ia mempersilakan mereka masuk dan memperbolehkan mereka tinggal, meskipun ia belum tahu pasti siapa mereka dan untuk apa mereka datang. Mungkin, ia berharap bisa tahu lebih banyak tentang Allah mereka, Yehuwa.

Tetapi tiba-tiba, beberapa utusan raja Yerikho datang! Keberadaan mata-mata Israel di rumah Rahab telah tercium. Apa yang akan Rahab lakukan? Kalau ia melindungi dua mata-mata itu, ia tidak hanya membahayakan dirinya, tapi juga keluarganya. Mereka pasti akan dibantai habis oleh penduduk Yerikho karena menampung musuh. Tetapi kemungkinan, Rahab sekarang sudah tahu siapa dua pria itu. Jika Rahab yakin bahwa Yehuwa adalah Allah yang jauh lebih baik dari allahnya sendiri, bukankah ini kesempatan baginya untuk memutuskan apakah ia akan mendukung Yehuwa?

Rahab harus bertindak cepat. Dengan cerdik, ia segera menyembunyikan dua mata-mata itu di balik tangkai-tangkai rami yang sedang dijemur di atap rumahnya yang datar. Kemudian, ia menemui para utusan raja dan mengatakan, ”Ya, pria-pria itu memang datang kepadaku, dan aku tidak tahu dari mana mereka. Dan pada waktu gerbang ditutup menjelang gelap, pria-pria itu keluar. Aku benar-benar tidak tahu ke mana pria-pria itu pergi. Cepatlah kejar mereka, sebab kamu akan dapat menyusul mereka.” (Yosua 2:4, 5) Rahab memandang wajah para utusan raja dan menunggu reaksi mereka. Bisakah Anda membayangkan jantung Rahab berdegup kencang?

Dengan menyembunyikan dua hamba Yehuwa di bawah tumpukan rami, Rahab mempertaruhkan nyawanya

Ternyata, siasatnya berhasil! Para utusan itu bergegas lari ke arah Yordan. (Yosua 2:7) Rahab pastilah menarik napas lega. Dengan strategi sederhana, ia berhasil mengelabui pria-pria beringas yang tidak berhak tahu faktanya serta menyelamatkan nyawa hamba-hamba Yehuwa.

Rahab segera naik lagi ke atap rumahnya dan memberi tahu dua mata-mata itu apa yang telah ia lakukan. Ia juga mengatakan suatu hal penting: Bangsanya sudah putus asa dan ketakutan. Ini pasti kabar yang ditunggu-tunggu para mata-mata itu. Nyali orang-orang Kanaan yang jahat itu ciut karena menghadapi Allah Yehuwa, Allahnya orang Israel! Kata-kata Rahab setelah itu menunjukkan imannya. Ia mengatakan, ”Yehuwa, Allahmu, adalah Allah di surga di atas dan di bumi di bawah.” (Yosua 2:11) Semua hal yang ia dengar tentang Yehuwa cukup membuat dia yakin akan satu hal: Allah orang Israel bisa ia andalkan. Ia beriman kepada Yehuwa.

 Rahab yakin bahwa Yehuwa akan membuat orang Israel menang. Jadi, ia memohon belas kasihan agar ia dan keluarganya tidak ikut dibunuh. Dua mata-mata itu setuju asalkan Rahab menjaga rahasia mereka dan menggantungkan seutas tali merah dari jendela rumahnya supaya pasukan Israel bisa melindungi dia dan keluarganya.Yosua 2:12-14, 18.

Dari Rahab, kita bisa belajar suatu hal penting tentang iman. Seperti kata Alkitab, ”iman timbul karena hal-hal yang didengar”. (Roma 10:17) Rahab mendengar cerita-cerita yang bisa dipercaya tentang kuasa dan keadilan Allah Yehuwa, jadi ia beriman dan percaya kepada-Nya. Sekarang, kita punya lebih banyak sumber untuk belajar tentang Yehuwa. Apakah kita akan berusaha mengenal Dia dan beriman kepada-Nya berdasarkan apa yang ada dalam Firman-Nya, Alkitab?

RUNTUHNYA TEMBOK RAKSASA

Sesuai saran Rahab, dua mata-mata itu menuruni tembok Yerikho dengan tali dari jendela rumah Rahab dan cepat-cepat pergi dengan senyap ke arah utara, ke daerah pegunungan. Di sepanjang lereng pegunungan, ada banyak gua yang bisa dipakai bersembunyi sampai keadaan lebih aman untuk kembali ke perkemahan orang Israel dan memberi tahu kabar baik yang mereka dengar dari Rahab.

Rahab beriman kepada Allah orang Israel

Belakangan, sewaktu mendengar bahwa Yehuwa sudah menghentikan aliran air Sungai Yordan secara mukjizat agar orang Israel bisa menyeberang, penduduk Yerikho pasti ketakutan. (Yosua 3:14-17) Tetapi, berita itu justru membuat Rahab semakin yakin bahwa Yehuwa tidak akan mengecewakannya.

Kemudian, pasukan Israel mulai berbaris mengelilingi Yerikho—satu kali sehari, selama enam hari. Sekarang adalah hari yang ketujuh. Hari ini, ada yang berbeda. Seperti disebutkan di awal artikel ini, mereka mulai berbaris saat matahari terbit, dan setelah mengelilingi Yerikho satu kali, orang Israel tidak berhenti. Mereka mengulanginya, lagi dan lagi. (Yosua 6:15) Sedang apa mereka sebenarnya?

Akhirnya setelah mengelilingi kota sebanyak tujuh kali, pasukan itu berhenti. Tidak ada lagi suara tiupan tanduk. Yang ada hanya keheningan. Ketegangan di kota itu kini memuncak. Kemudian, dengan aba-aba Yosua, pasukan Israel serentak berteriak sekuat tenaga. Para penjaga di atas tembok Yerikho mungkin berpikir, ’Serangan apa ini? Mereka hanya berteriak?’ Jika mereka meremehkannya, mereka salah besar. Tiba-tiba, lantai yang mereka pijak mulai bergetar. Tembok raksasa itu berguncang, retak, dan runtuh ke tanah! Perlahan, debu reruntuhan yang menutupi pandangan mulai menipis, dan terlihatlah satu bagian tembok yang masih berdiri kokoh. Itu rumah Rahab, bangunan yang menjadi monumen imannya. Bayangkan perasaan Rahab saat melihat bagaimana Yehuwa melindunginya. * Semua anggota keluarganya masih hidup!Yosua 6:10, 16, 20, 21.

Orang-orang Israel merespek Rahab karena imannya. Saat mereka melihat satu rumah berdiri tegak di antara reruntuhan tembok itu, mereka yakin bahwa Yehuwa melindungi wanita ini. Ia dan keluarganya tidak ikut dibinasakan bersama kota yang jahat itu. Seusai penyerbuan itu, Rahab diizinkan tinggal dekat perkemahan Israel. Belakangan, Rahab sendiri menjadi bagian dari bangsa Yahudi. Ia menikah dengan pria bernama Salmon. Putra mereka, Boaz, tumbuh menjadi pria yang sangat beriman. Ia menikahi Rut, seorang wanita Moab. * (Rut 4:13, 22) Raja Daud dan belakangan Sang Mesias,Yesus Kristus, adalah keturunan keluarga yang beriman ini.Yosua 6:22-25; Matius 1:5, 6, 16.

Kisah Rahab menunjukkan bahwa Yehuwa tidak pernah menganggap seseorang tidak berharga. Ia memperhatikan kita semua dan menyelami hati kita. Ia senang sewaktu menemukan secercah iman dalam hati kita, sama seperti Ia menghargai iman Rahab. Karena imannya, Rahab bertindak. Seperti kata Alkitab, ia ”dinyatakan adil-benar melalui perbuatan”. (Yakobus 2:25) Alangkah bijak jika kita mau meniru iman Rahab!

^ par. 27 Menarik, Yehuwa merespek kesepakatan yang dibuat dua mata-mata itu dengan Rahab.

^ par. 28 Kisah Rut dan Boaz dimuat dalam dua artikel ”Tirulah Iman Mereka” dalam Menara Pengawal 1 Juli dan 1 Oktober 2012.