Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Menara Pengawal  |  Oktober 2012

 Belajarlah dari Firman Allah

Bisakah Anda Hidup Kekal?

Bisakah Anda Hidup Kekal?

Artikel ini memuat pertanyaan yang mungkin pernah Anda ajukan dan memperlihatkan jawabannya dalam Alkitab Anda. Saksi-Saksi Yehuwa senang membahas jawaban ini bersama Anda.

1. Mengapa dapat dikatakan bahwa kehidupan kita singkat?

Ada kura-kura yang dapat hidup selama 150 tahun dan ada pohon yang berumur 3.000 tahun. Jika dibandingkan, masa hidup manusia jauh lebih pendek. Tetapi, kehidupan kita bisa jauh lebih bermakna daripada kehidupan kura-kura atau pohon. Allah Yehuwa menciptakan manusia dengan kemampuan untuk menikmati musik, olahraga, makan, belajar, bepergian, dan bertemu dengan orang lain. Allah menaruh dalam diri kita keinginan untuk hidup selama-lamanya.Baca Pengkhotbah 3:11.

2. Apakah kita memang bisa hidup kekal?

Yehuwa hidup selama-lamanya. Ia tidak mati. Ia adalah Sumber kehidupan, jadi Ia bisa memberikan kehidupan abadi kepada orang lain. (Mazmur 36:9; Habakuk 1:12) Lebih jauh, Ia menjanjikan kehidupan abadi kepada orang-orang yang menaati-Nya. Ia akan membalik proses penuaan.Baca Ayub 33:24, 25; Yesaya 25:8; 33:24.

Yesus menunjukkan melalui mukjizat yang ia lakukan bahwa kita bisa memercayai janji Allah mengenai kehidupan abadi dan kesehatan yang sempurna. Yesus menyembuhkan berbagai jenis penyakit dan bahkan membangkitkan orang mati.Baca Lukas 7:11-15, 18, 19, 22.

 3. Kapan kehidupan abadi akan menjadi kenyataan?

Allah ingin agar kita hidup abadi, bukan dalam dunia yang penuh dengan penderitaan dan kekerasan, melainkan dalam bumi firdaus. Ia mau kita merasa aman. (Mazmur 37:9, 29; Yesaya 65:21, 22) Seraya bumi dipulihkan menjadi Firdaus, jutaan orang yang telah mati akan dibangkitkan. Mereka yang memilih untuk menyembah dan menaati Allah akan hidup selama-lamanya.Baca Lukas 23:42, 43; Yohanes 5:28, 29.

4. Bagaimana kita bisa memperoleh kehidupan abadi?

Upaya mengenal Allah tidaklah sia-sia

Kehidupan tanpa akhir hanya bisa kita peroleh dari Allah. Jadi, kita hendaknya mendekat kepada-Nya dengan berupaya mengenal Dia. Dalam Alkitab, memperoleh pengetahuan tentang Allah disamakan dengan menyantap makanan. (Matius 4:4) Menyantap makanan sangat menyenangkan, tetapi sebagaimana menyiapkan makanan membutuhkan upaya, demikian pula dibutuhkan upaya untuk menyantap makanan rohani. Tetapi, adakah yang lebih bermanfaat daripada mendekat kepada Allah dan memperoleh kehidupan abadi?Baca Lukas 13:23, 24; Yohanes 6:27; 17:3.