Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Menara Pengawal  |  November 2010

 Kunci Kebahagiaan Keluarga

Berbicaralah dengan Anak Anda tentang Seks

Berbicaralah dengan Anak Anda tentang Seks

Lysia, * seorang remaja, berkata, ”Kadang-kadang, aku cuma ingin tahu sesuatu tentang seks, tapi kalau aku tanyakan itu kepada orang tuaku, mereka bakal mengira aku berniat macam-macam.”

Ina, ibu Lysia, berkata, ”Saya ingin sekali bisa bicara dengan putri saya tentang seks, tapi dia sangat sibuk dengan kehidupannya sendiri. Susah untuk mencari waktu senggangnya.”

DEWASA ini, seks ada di mana-mana—di TV, film, dan di berbagai papan iklan. Rupanya, satu-satunya tempat yang masih dianggap tabu untuk topik ini adalah dalam percakapan antara orang tua dan anak. ”Coba orang tuaku tahu betapa tegang dan malunya aku untuk bicara soal seks dengan mereka,” kata Michael, seorang remaja di Kanada. ”Rasanya, lebih mudah bicara soal itu dengan teman.”

Orang tua pun sering kali enggan memulai percakapan tentang seks. Dalam bukunya Beyond the Big Talk, pendidik di bidang kesehatan Debra W. Haffner menulis, ”Banyak orang tua mengatakan kepada saya bahwa mereka membelikan anak mereka buku tentang seks atau pubertas, menaruhnya di kamar sang anak, dan tidak pernah membahasnya lagi.” Haffner menyatakan bahwa pesan orang tua kepada anak mereka jelas, ”Kami ingin kalian tahu tentang tubuh kalian dan tentang seks; tapi, kami tidak mau membahasnya dengan kalian.”

Jika Anda punya anak, Anda perlu memiliki sikap yang berbeda. Sangatlah penting untuk berbicara langsung kepada anak Anda tentang seks. Pikirkan tiga alasannya:

  1. Pemahaman tentang seks telah berubah. ”Tidak ada lagi definisi yang sederhana tentang seks—hubungan suami istri,” kata John, 20 tahun. ”Sekarang, ada oral seks, seks anal, cybersex—bahkan ’sexting’ (saling kirim gambar atau pesan berbau seks) lewat ponsel.”

  2. Anak Anda kemungkinan besar akan mendengar informasi yang salah pada usia dini. ”Mereka akan mendengar tentang seks saat mereka mulai bersekolah,” kata Susi, seorang ibu, ”dan mereka tidak akan mendapatkan sudut pandang yang Anda inginkan.”

  3. Anak Anda punya pertanyaan-pertanyaan tentang seks tapi kemungkinan besar ia tidak akan memulai percakapan tentang seks dengan Anda. ”Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana memulai percakapan tentang seks dengan orang tuaku,” kata Ana, 15 tahun, dari Brasil.

 Sebenarnya, berbicara dengan anak Anda tentang seks adalah bagian dari tanggung jawab yang Allah berikan kepada Anda sebagai orang tua. (Efesus 6:4) Memang, Anda ataupun anak Anda mungkin merasa canggung untuk membicarakannya. Namun, dari sisi positifnya, banyak anak muda sependapat dengan Donna, 14 tahun, yang mengatakan, ”Kami ingin tahu tentang seks dari orang tua kami—bukan dari guru atau acara TV.” Jadi, bagaimana Anda bisa berbicara dengan anak Anda tentang topik yang penting namun yang membuat canggung ini? *

Sesuai Usia Mereka

Anak-anak akan mulai mendengar tentang seks sejak usia dini, kecuali mereka tinggal di tempat yang terisolasi. Fakta yang lebih meresahkan adalah bahwa pada ”hari-hari terakhir” ini, orang fasik akan ”menjadi lebih buruk”. (2 Timotius 3:1, 13) Sungguh menyedihkan, banyak anak dieksploitasi oleh orang dewasa untuk tujuan seksual yang menyimpang.

Karena itu, sangatlah penting bagi Anda untuk mulai mendidik anak Anda sejak mereka kecil. ”Jika Anda menunggu sampai mereka beranjak remaja,” kata Renate, seorang ibu di Jerman, ”mereka mungkin tidak mau berbicara terus terang karena perasaan malu yang timbul saat pubertas.” Kuncinya adalah memberi anak-anak informasi yang sesuai dengan usia mereka.

Untuk usia prasekolah:

Pusatkan perhatian untuk memberitahukan nama organ-organ seks, dan tegaskan bahwa tidak seorang pun boleh menyentuh organ-organ ini. ”Saya mulai mengajari anak lelaki saya sewaktu ia berusia tiga tahun,” kata Julia, seorang ibu di Meksiko. ”Saya merasa sangat khawatir karena menyadari bahwa guru, pengasuh, atau anak-anak yang lebih besar bisa saja menjadi ancaman. Dia perlu tahu bagaimana caranya melindungi diri dari orang tak dikenal.”

COBALAH INI: Latih anak Anda untuk memberikan reaksi dengan tegas jika ada orang yang mencoba bermain-main dengan organ seksnya. Misalnya, Anda dapat mengajari anak Anda untuk berkata, ”Jangan pegang-pegang! Nanti saya adukan kamu!” Yakinkan anak Anda bahwa perbuatan seperti itu harus selalu dilaporkan—sekalipun orang tersebut berjanji untuk memberi hadiah atau mengancam. *

Untuk anak-anak SD:

Gunakan tahun-tahun ini sebagai kesempatan untuk menambah pengetahuan anak Anda secara bertahap. Peter, seorang ayah, menyarankan, ”Sebelum mulai berbicara, cari tahu dulu apa yang sudah mereka ketahui dan apakah mereka punya pertanyaan. Jangan memaksa untuk membahasnya. Kemungkinan besar, topik itu akan muncul dengan sendirinya jika Anda secara rutin berbicara dengan anak Anda.”

COBALAH INI: Sering-seringlah adakan percakapan singkat ketimbang pembahasan yang panjang lebar. (Ulangan 6:6-9) Dengan demikian, Anda tidak membuat anak Anda kewalahan. Selain itu, seraya mereka beranjak dewasa, mereka akan memiliki informasi yang mereka butuhkan sesuai dengan tingkat kedewasaan mereka.

Untuk anak remaja:

Inilah saatnya untuk memastikan bahwa anak Anda memiliki cukup pengetahuan tentang aspek fisik, emosi, dan moral dari seks. ”Anak lelaki dan perempuan di sekolahku sudah mulai berkencan seks,” kata Ana, 15 tahun, yang dikutip di atas. ”Aku rasa sebagai orang Kristen, aku butuh cukup pengetahuan tentang hal itu. Meskipun rasanya malu membahas soal seks, aku harus tahu tentang hal itu.” *

Perhatikan: Anak remaja mungkin enggan bertanya karena takut orang tua mereka akan menyangka mereka melakukan hal yang tidak senonoh. Itulah yang didapati seorang ayah bernama Steven. ”Putra kami enggan membahas soal seks,” katanya. ”Namun, belakangan kami mendapati bahwa ia mengira kami curiga akan tingkah lakunya. Kami meyakinkan dia  bahwa kami membahas hal ini bukan karena kami curiga; kami hanya ingin memastikan bahwa ia dibekali untuk menolak pengaruh buruk di sekitarnya.”

COBALAH INI: Ketimbang mengajukan pertanyaan langsung kepada anak remaja Anda tentang sesuatu yang berkaitan dengan seks, tanyakan apa pandangan teman-temannya tentang hal itu. Misalnya, Anda dapat mengatakan, ”Zaman sekarang, banyak orang merasa bahwa seks oral bukan benar-benar hubungan seks. Bagaimana pendapat teman-temanmu di sekolah?” Pertanyaan tidak langsung seperti ini mungkin mempermudah anak remaja Anda untuk membuka diri dan menyatakan pandangannya.

Mengatasi Rasa Canggung

Memang, berbicara dengan anak Anda tentang seks mungkin adalah tugas orang tua yang paling sering menimbulkan rasa canggung. Namun, upaya Anda tidak akan sia-sia. ”Seraya waktu berlalu,” kata Diana, seorang ibu, ”rasa canggung itu akan berkurang, dan berbicara dengan anak Anda tentang seks bisa menjadi kesempatan untuk lebih akrab.” Steven, yang dikutip sebelumnya, setuju. ”Lebih mudah untuk bicara tentang hal-hal yang membuat canggung seperti tentang seks jika Anda membiasakan diri untuk berbicara dengan terus terang tentang topik apa pun yang timbul dalam keluarga,” katanya, lalu ia menambahkan, ”Rasa canggung itu tidak pernah hilang seluruhnya, tetapi komunikasi yang terbuka adalah urat nadi keluarga Kristen yang sehat.”

^ par. 3 Nama-nama dalam artikel ini telah diubah.

^ par. 11 Artikel ini akan membahas perlunya berbicara dengan anak Anda tentang seks. Artikel mendatang dalam rubrik ini akan membahas cara menyampaikan nilai-nilai moral dalam pembahasan semacam itu.

^ par. 16 Disadur dari halaman 171 buku Belajarlah dari sang Guru Agung, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

^ par. 19 Gunakan pasal 1-5, 28, 29, dan 33 dari buku Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis, Jilid 2, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa, untuk membahas soal seks dengan anak remaja Anda.

RENUNGKANLAH . . .

Bacalah komentar berikut ini dari anak-anak muda di seputar dunia, dan pikirkan apa jawaban Anda atas pertanyaan-pertanyaan di bawahnya.

”Orang tuaku menyuruh aku membaca artikel yang membahas soal seks, lalu bicara dengan mereka kalau aku punya pertanyaan. Lebih enak kalau mereka mau bicara lebih banyak tentang hal ini denganku.”—Ana, Brasil.

Menurut Anda, apakah memang penting untuk berbuat lebih dari sekadar memberi anak Anda bahan untuk dibaca?

”Aku tahu banyak tentang penyimpangan seks—yang kurasa tidak diketahui ayahku. Ia pasti syok kalau aku menanyakan hal-hal itu.”—Ken, Kanada.

Apa yang mungkin dikhawatirkan anak Anda sewaktu hendak berbicara kepada Anda tentang hal-hal yang menggelisahkannya?

”Sewaktu aku akhirnya punya keberanian untuk bertanya kepada orang tuaku soal seks, mereka menjawab dengan nada menuduh, ’Kenapa kamu sampai bertanya soal itu? Apa yang sudah kamu lakukan?’”—Masami, Jepang.

Sewaktu anak Anda bertanya tentang seks, bagaimana reaksi Anda bisa membuka atau menutup kesempatan untuk membahas tentang seks di kemudian hari?

”Aku akan merasa lebih nyaman kalau orang tuaku meyakinkan aku bahwa mereka dulu juga menanyakan hal yang sama, jadi tidak aneh kalau aku juga bertanya kepada mereka.”—Lisette, Prancis.

Bagaimana Anda bisa membuat anak Anda tidak canggung, sehingga ia akan merasa lebih nyaman membicarakan soal seks dengan Anda?

”Ibu bertanya kepadaku soal seks—tapi dengan nada yang lembut. Aku rasa itu penting, sehingga seorang anak tidak merasa dihakimi.”—Gerald, Prancis.

Bagaimana nada suara Anda sewaktu berbicara dengan anak Anda tentang seks? Apakah Anda perlu mengubahnya?