Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Menara Pengawal  |  Oktober 2008

Iman Membantu Saya Menghadapi Tragedi

Iman Membantu Saya Menghadapi Tragedi

 Iman Membantu Saya Menghadapi Tragedi

Sebagaimana diceritakan oleh Soledad Castillo

Beberapa kali dalam hidup saya, kesepian bisa saja membuat saya terpuruk—tetapi itu tidak terjadi. Sewaktu berumur 34 tahun, suami saya meninggal. Enam tahun kemudian, ayah saya meninggal. Delapan bulan setelah kematian ayah, saya akhirnya tahu bahwa putra tunggal saya mengidap penyakit yang tak tersembuhkan.

NAMA saya Soledad, artinya ”Kesepian”. Walaupun kedengarannya aneh, saya tidak pernah benar-benar merasa kesepian. Ketika menghadapi tragedi, saya percaya bahwa Yehuwa menyertai saya ’memegang erat tangan saya dan menolong saya sehingga saya tidak merasa takut’. (Yesaya 41:13) Perkenankanlah saya menjelaskan bagaimana saya bertahan menghadapi berbagai tragedi pribadi dan bagaimana hal itu mendekatkan saya kepada Yehuwa.

Kehidupan yang Bahagia dengan Sedikit Problem

Saya lahir di Barcelona, Spanyol, pada tanggal 3 Mei 1961, anak tunggal dari orang tua saya, José dan Soledad. Ketika saya berusia sembilan tahun, ibu saya belajar kebenaran Firman Allah. Ia telah mencari jawaban atas berbagai pertanyaan agama tetapi tidak puas dengan gerejanya. Suatu hari, dua Saksi Yehuwa mengunjunginya di rumah dan menjawab semua pertanyaannya dari Alkitab. Ia dengan sangat antusias menerima pelajaran Alkitab.

Dalam waktu singkat, ibu saya menjadi Saksi Yehuwa terbaptis, dan beberapa tahun kemudian ayah saya mengikuti contohnya. Eliana, yang memandu pelajaran itu dengan ibu segera melihat minat saya yang menggebu-gebu akan Firman Allah. Walaupun masih muda, Eliana menyarankan agar saya juga belajar. Berkat bantuan dia dan anjuran ibu, saya dibaptis pada usia 13 tahun.

Selama masa remaja, saya sering berpaling kepada Yehuwa dalam doa—khususnya sewaktu harus membuat keputusan. Terus terang, problem saya relatif sedikit selama masa remaja. Di sidang, saya punya banyak teman, dan saya akrab dengan orang tua saya. Pada tahun 1982, saya menikah dengan Felipe, seorang Saksi yang memiliki cita-cita rohani yang sama dengan saya.

Membesarkan Anak Kami untuk Mengasihi Yehuwa

Lima tahun kemudian, saya melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan yang kami namai Saúl. Saya dan Felipe senang punya anak. Kami berharap Saúl menjadi anak yang sehat, seimbang, mengasihi Allah. Saya dan Felipe menggunakan banyak waktu bersama Saúl, berbicara kepadanya tentang Yehuwa, makan bersama, membawanya ke taman, dan bermain bersamanya. Saúl senang pergi bersama Felipe untuk  membagikan kebenaran Alkitab kepada orang lain, dan pada usia dini Felipe sudah melibatkan dia dalam pelayanan, mengajari dia membunyikan bel pintu serta menawarkan risalah kepada orang-orang.

Saúl menyambut kasih dan pelatihan kami. Menjelang usia enam tahun, ia rutin mengabar bersama kami. Ia senang mendengarkan kisah-kisah Alkitab, dan menanti-nantikan pelajaran Alkitab keluarga kami. Segera setelah bersekolah, ia mulai membuat keputusan-keputusan kecil berdasarkan pengetahuannya tentang Alkitab.

Namun, ketika umur Saúl tujuh tahun, kehidupan keluarga kami berubah secara drastis. Felipe mengidap infeksi virus di paru-parunya. Selama 11 bulan, ia berjuang melawan penyakit ini, tak bisa bekerja dan sering terbaring di tempat tidur. Pada usia 36 tahun, suami saya meninggal.

Saya masih menangis kalau mengingat tahun yang sulit itu. Saya menyaksikan suami saya lambat laun takluk dalam perang melawan virus, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Selama menghadapi semua ini, saya berupaya membesarkan hati Felipe, kendati di lubuk hati saya, harapan dan rencana saya sedang hancur berkeping-keping. Saya membacakan berbagai artikel berdasarkan Alkitab untuknya, dan hal ini menguatkan kami ketika kami tidak bisa menghadiri pertemuan Kristen. Sewaktu ia meninggal, saya merasa begitu hampa.

Namun, Yehuwa menopang saya. Dengan tiada hentinya saya memohon roh-Nya. Saya bersyukur kepada-Nya atas tahun-tahun bahagia bersama Felipe dan atas harapan untuk bertemu Felipe lagi pada waktu kebangkitan. Saya memohon agar Allah membantu saya berbahagia atas kenangan akan kebersamaan yang pernah kami nikmati dan agar saya diberi hikmat untuk membesarkan anak kami sebagai orang Kristen sejati. Meskipun amat pedih, saya merasa terhibur.

Orang tua saya serta saudara-saudari di sidang jemaat memberi saya banyak dukungan. Namun, saya harus mengambil inisiatif untuk belajar Alkitab bersama Saúl dan mengajari dia bagaimana melayani Yehuwa. Bekas atasan saya menawari saya pekerjaan bagus di kantor, tetapi saya lebih suka melakukan pekerjaan pembersihan agar bisa menggunakan lebih banyak waktu bersama Saúl dan menemani dia sewaktu pulang sekolah.

Satu ayat menandaskan bagi saya pentingnya pelatihan rohani untuk Saúl, ”Latihlah anak laki-laki menurut jalan untuknya; bahkan pada waktu ia tua, ia tidak akan menyimpang darinya.” (Amsal 22:6) Ayat ini memberi saya harapan bahwa jika saya sebisa mungkin membicarakan nilai-nilai rohani kepada Saúl, Yehuwa akan memberkati upaya saya. Memang, saya harus membuat beberapa pengorbanan secara ekonomi, tetapi saya perlu menggunakan waktu bersama putra saya, dan bagi saya ini jauh lebih penting daripada keuntungan materi apa pun.

Sewaktu Saúl berumur 14 tahun, ayah saya meninggal. Saúl amat terpukul, karena kematian kakeknya kembali mengingatkan dia akan semua kepedihan yang dirasakan ketika ayahnya  meninggal. Ayah saya juga memberikan teladan kasih akan Yehuwa. Setelah kematiannya, Saúl menyimpulkan bahwa dialah satu-satunya ”pria” dalam keluarga, dan dia kini harus mengurus ibu dan neneknya.

Perjuangan Melawan Leukemia

Delapan bulan setelah kematian ayah saya, dokter keluarga kami memberi tahu saya agar membawa Saúl ke rumah sakit setempat, karena ia menderita kelelahan yang ekstrem. Setelah menjalani serangkaian tes, para dokter menginformasikan kepada saya bahwa Saúl mengidap leukemia. *

Selama dua setengah tahun berikutnya, Saúl keluar masuk rumah sakit seraya berjuang mengatasi kanker dan menjalani kemoterapi yang para dokter gunakan dalam upaya melawan kanker. Pada enam bulan pertama program perawatan, keadaannya membaik selama kira-kira 18 bulan. Tetapi, kanker itu muncul lagi, dan Saúl kembali menjalani kemoterapi singkat yang begitu melemahkan. Kanker ini jinak selama beberapa waktu saja, dan Saúl tidak sanggup mengatasi kemoterapi ketiga. Saúl telah membaktikan kehidupannya kepada Allah dan menyatakan keinginannya untuk dibaptis sebagai salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa, tetapi ia meninggal persis pada usia 17 tahun.

Para dokter sering menyarankan transfusi darah untuk meredam jenis kemoterapi yang agresif. Tentu saja, transfusi tidak bisa menyembuhkan penyakit. Ketika para dokter pertama kali mendiagnosis leukemia, saya dan Saúl harus menjelaskan bahwa kami tidak bisa menerima perawatan ini, karena kami ingin menaati hukum Yehuwa untuk ”menjauhkan diri . . . dari darah”. (Kisah 15:19, 20) Pada beberapa kesempatan tanpa kehadiran saya, Saúl harus meyakinkan para dokter bahwa ini adalah keputusannya sendiri. (Lihat  kotak di halaman 31.)

Akhirnya, para dokter menyimpulkan bahwa Saúl adalah anak yang dinyatakan dewasa yang mengerti dengan jelas dampak penyakit ini atas dirinya. Mereka setuju untuk merespek pendirian kami dan menawarkan perawatan tanpa darah, meskipun kami terus ditekan untuk mengubah keputusan kami. Saya merasa bangga terhadap Saúl sewaktu mendengarkan dia menjelaskan pendiriannya di hadapan para dokter. Jelaslah, dia telah mengembangkan hubungan yang akrab dengan Yehuwa.

Pada musim panas ketika kami pertama kali tahu Saúl mengidap penyakit ini, buku Mendekatlah kepada Yehuwa dirilis pada kebaktian distrik di Barcelona. Buku yang sangat berharga ini terbukti menjadi jangkar yang mengukuhkan kami seraya kami menghadapi hari-hari mendatang yang tidak pasti dan mengecilkan hati. Selama berjam-jam di rumah sakit, kami membaca sebagian isinya bersama-sama. Selama masa-masa sulit selanjutnya, kami selalu mengingat isinya. Ayat di Yesaya 41:13 itulah, disebut dalam kata pengantar buku ini, yang menjadi sangat bermakna bagi kami. Ayat itu berbunyi, ”Akulah Yehuwa, Allahmu, yang memegang erat tangan kananmu, Pribadi yang berfirman kepadamu, ’Jangan takut. Akulah yang akan menolong engkau.’”

Iman Saúl Menyentuh Hati Orang Lain

Sikap Saúl yang matang dan optimis amat mengesankan para dokter dan perawat di Rumah Sakit Vall d’Hebrón. Ia disayangi oleh segenap tim yang merawatnya. Kepala hematolog yang menangani kasus kanker sejak itu merawat anak-anak Saksi lainnya yang menderita leukemia, memberi mereka respek yang dalam dan martabat. Ia ingat keputusan teguh Saúl untuk membela kepercayaannya, keberaniannya menghadapi kematian, dan sikapnya yang ceria terhadap kehidupan. Tim perawat memberi tahu Saúl bahwa ia adalah pasien terbaik yang pernah mereka rawat di bangsal itu. Mereka mengatakan bahwa ia tak  pernah mengeluh dan tak pernah kehilangan rasa humor—bahkan menjelang kematiannya.

Seorang psikolog memberi tahu saya bahwa banyak anak yang menghadapi penyakit stadium terminal pada usia ini cenderung memberontak terhadap para dokter dan orang tua karena gelisah dan frustrasi. Ia memperhatikan bahwa hal ini tidak terjadi pada kasus Saúl. Ketenangan dan sikap positif Saúl membuat dia kagum. Ini memberi kesempatan bagi Saúl dan saya untuk memberikan kesaksian kepadanya tentang iman kami.

Saya pun ingat bagaimana Saúl secara tidak langsung membantu seorang Saksi di sidang jemaat kami. Ia menderita depresi selama kurang lebih enam tahun, dan obat-obatan tidak memperbaiki kondisinya. Pada beberapa kesempatan, ia menginap di rumah sakit untuk menjaga Saúl. Ia memberi tahu saya bahwa sikap Saúl dalam menghadapi leukemia sangat mengesankan dia. Ia memperhatikan bahwa meski sangat lemah, Saúl berupaya membesarkan hati semua orang yang menjenguknya. ”Teladan Saúl memberi saya keberanian untuk melawan depresi,” kata Saksi ini.

Kini, tiga tahun telah berlalu sejak Saúl meninggal. Tentu saja, saya masih merasa pedih. Saya tidak kuat, tetapi Allah memberi saya ”kuasa yang melampaui apa yang normal”. (2 Korintus 4:7) Saya telah belajar bahwa berbagai pengalaman yang paling sulit dan memedihkan hati sekalipun bisa punya pengaruh positif. Belajar menghadapi kematian suami, ayah, dan putra saya, telah membantu saya menjadi orang yang tidak mementingkan diri dan lebih memahami orang-orang yang menderita. Yang paling penting, hal ini mendekatkan saya kepada Yehuwa. Saya bisa menghadapi hari-hari mendatang tanpa rasa takut karena Bapak surgawi saya masih menolong saya. Ia masih menggenggam tangan saya.

[Catatan Kaki]

^ par. 19 Saúl mengidap leukemia limfoblastik, kanker darah tipe ganas yang merusak sel darah putih.

[Kotak/Gambar di hlm. 31]

 PERNAHKAH ANDA BERTANYA-TANYA?

Anda mungkin pernah mendengar bahwa Saksi-Saksi Yehuwa tidak menerima transfusi darah. Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa?

Pendirian berdasarkan Alkitab ini sering disalahmengerti. Kadang, orang mengira bahwa Saksi-Saksi Yehuwa menolak semua perawatan medis atau bahwa mereka sama sekali tidak menghargai kehidupan. Hal itu sama sekali tidak benar. Saksi-Saksi Yehuwa mengupayakan perawatan medis yang tersedia bagi mereka dan anggota keluarga mereka. Namun, mereka mengupayakan penanganan medis tanpa darah. Mengapa?

Pendirian mereka didasarkan atas hukum fundamental yang Allah berikan kepada umat manusia. Segera setelah Air Bah zaman Nuh, Allah mengizinkan Nuh dan keluarganya untuk makan daging binatang. Allah menetapkan satu larangan ini: Mereka tidak boleh makan darah. (Kejadian 9:3, 4) Semua manusia dari segala ras adalah keturunan Nuh, maka hukum ini berlaku bagi seluruh umat manusia. Hukum ini tak pernah dibatalkan. Lebih dari delapan abad kemudian, Allah kembali meneguhkan hukum tersebut kepada bangsa Israel, dengan menjelaskan bahwa darah itu suci, menggambarkan jiwa, atau kehidupan itu sendiri. (Imamat 17:14) Lebih dari 1.500 tahun kemudian, para rasul Kristen memerintahkan semua orang Kristen agar ”tetap menjauhkan diri . . . dari darah”.Kisah 15:29.

Bagi Saksi-Saksi Yehuwa, jelas tidak mungkin menjauhkan diri dari darah sementara pada saat yang sama memasukkan darah ke dalam tubuh melalui transfusi. Karena itu, mereka berkukuh meminta perawatan alternatif. Pendirian berdasarkan Alkitab tersebut malah sering menghasilkan standar yang lebih tinggi dalam perawatan medis. Tidak mengherankan mengapa banyak orang yang bukan Saksi-Saksi Yehuwa pun meminta perawatan medis tanpa darah.

[Gambar di hlm. 29]

Dengan suami saya, Felipe, dan putra kami, Saúl

[Gambar di hlm. 29]

Orang tua saya, José dan Soledad

[Gambar di hlm. 30]

Satu bulan sebelum Saúl meninggal