Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Menara Pengawal—Edisi Pelajaran  |  September 2015

 KISAH HIDUP

Berkat Yehuwa Memperkaya Hidup Saya

Berkat Yehuwa Memperkaya Hidup Saya

SAYA lahir pada 1927 di Wakaw, sebuah kota kecil di Saskatchewan, Kanada. Ayah dan Ibu punya tujuh anak, empat putra dan tiga putri. Jadi sejak kecil, saya terbiasa dikelilingi banyak orang.

Keluarga kami merasakan dampak dari ekonomi yang buruk pada tahun 1930-an yang dikenal sebagai Depresi Besar. Kami tidak kaya, tapi kami tidak kekurangan makanan. Kami punya beberapa ekor ayam dan seekor sapi, jadi di rumah selalu ada telur, susu, krim, keju, dan mentega. Setiap anggota keluarga kami punya tugas di peternakan atau di rumah.

Saya punya banyak kenangan manis tentang masa itu, seperti harumnya apel yang memenuhi ruangan. Sewaktu Ayah pergi ke kota pada musim gugur untuk menjual hasil peternakan, ia biasanya pulang membawa satu peti apel yang baru dipetik. Senang sekali rasanya bisa makan apel yang segar setiap hari!

KELUARGA KAMI BELAJAR KEBENARAN

Saya berusia enam tahun sewaktu orang tua saya mendengar kebenaran. Kakak sulung saya, Johnny, meninggal tak lama setelah lahir. Orang tua saya yang sangat sedih bertanya kepada pastor di kota kami, ”Sekarang Johnny ada di mana?” Pastor itu bilang bahwa Johnny belum dibaptis, jadi ia tidak ada di surga. Pastor itu juga berkata bahwa kalau orang tua saya membayarnya, ia akan berdoa agar Johnny masuk surga. Bagaimana perasaan Saudara kalau mendengar hal itu? Ayah dan Ibu sangat kecewa sehingga tidak mau lagi berbicara dengan sang pastor. Namun, mereka masih bertanya-tanya tentang keadaan Johnny.

Suatu hari, Ibu menemukan sebuah buku kecil berjudul Where Are the Dead? yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Ia membacanya dengan bersemangat. Saat Ayah pulang, ia langsung bercerita, ”Aku tahu di mana Johnny! Dia sedang tidur, tapi suatu hari dia akan bangun.” Malam itu, ayah saya membaca seluruh buku kecil itu. Ayah dan Ibu merasa terhibur setelah tahu bahwa menurut Alkitab, orang yang mati sedang tidur dan akan dibangkitkan.Pkh. 9:5, 10; Kis. 24:15.

Kebenaran membuat hidup kami tenang dan bahagia. Orang tua saya mulai belajar Alkitab dengan para Saksi dan berhimpun di sidang kecil di Wakaw, yang para anggotanya kebanyakan adalah keturunan Ukraina. Tidak lama setelahnya, Ayah dan Ibu ikut mengabar.

Kemudian, kami pindah ke British Columbia dan disambut dengan hangat di sebuah sidang di sana. Saya senang kalau mengenang bagaimana keluarga kami mempersiapkan Menara Pengawal untuk perhimpunan hari Minggu. Pada waktu itulah kami semua mulai sangat mengasihi Yehuwa dan kebenaran Alkitab. Saya dapat merasakan bahwa hidup kami semakin bermakna dan Yehuwa memberkati kami.

 Memang, tidaklah mudah bagi kami anak-anak untuk menceritakan kepercayaan kami kepada orang lain. Namun, satu hal membantu kami. Saya dan adik saya, Eva, sering menyiapkan topik pengabaran untuk bulan itu, lalu memperagakannya di Perhimpunan Dinas. Cara ini bagus sekali karena kami belajar untuk berani berbicara tentang Alkitab kepada orang lain meski kami pemalu. Saya sangat mensyukuri pelatihan yang kami dapatkan untuk mengabar!

Sewaktu kecil, kami sangat gembira kalau ada penginjil sepenuh waktu yang menginap di rumah. Misalnya, kami senang sekali sewaktu pengawas wilayah kami, Jack Nathan, berkunjung dan tinggal bersama kami. * Ia punya banyak cerita yang menarik, dan pujiannya yang tulus membuat kami ingin melayani Yehuwa dengan setia.

Saya pernah berpikir, ”Kalau saya sudah besar, saya mau jadi seperti Saudara Nathan.” Pada waktu itu, saya tidak menyangka teladannya mendorong saya untuk menjalani dinas sepenuh waktu. Ketika berusia 15 tahun, saya memutuskan untuk melayani Yehuwa. Pada 1942, saya dan Eva dibaptis.

BERBAGAI UJIAN IMAN

Selama Perang Dunia II, semangat cinta tanah air memuncak. Miss Scott, seorang guru yang sangat tidak toleran, mengeluarkan tiga adik saya dari sekolah. Mengapa? Karena mereka menolak untuk hormat bendera. Miss Scott lalu meminta guru saya mengeluarkan saya juga. Namun, guru saya berkata, ”Ini negara bebas, dan kita berhak untuk menolak ikut upacara kenegaraan.” Meski Miss Scott memaksa, guru saya dengan tegas berkata, ”Keputusan saya sudah bulat.”

Miss Scott menjawab, ”Kamu tidak berhak memutuskan. Saya akan melaporkan kamu kalau kamu tidak mengeluarkan Melita.” Guru saya menjelaskan kepada Ayah dan Ibu bahwa ia tidak ingin kehilangan pekerjaan, jadi ia terpaksa mengeluarkan saya meski ia tahu itu salah. Meski tidak lagi bersekolah, kami bisa mendapatkan bahan pelajaran dan belajar di rumah. Tak lama setelahnya, kami pindah ke tempat yang jauhnya 32 kilometer dari rumah lama kami. Di sana, kami kembali bersekolah.

Selama tahun-tahun perang, publikasi kita dilarang, namun kami terus mengabar dari rumah ke rumah dengan Alkitab. Hasilnya, kami semakin terampil memberitakan kabar baik Kerajaan dengan menggunakan Alkitab saja. Dan, kami pun semakin matang secara rohani serta merasakan dukungan Yehuwa.

MEMULAI DINAS SEPENUH WAKTU

Saya punya bakat menata rambut dan bahkan mendapat beberapa penghargaan untuk itu

Setelah saya dan Eva lulus sekolah, kami segera menjadi perintis. Untuk menafkahi diri, awalnya saya bekerja di toko swalayan. Kemudian, saya mengambil kursus tata rambut selama enam bulan. Tata rambut adalah hobi saya. Saya akhirnya bekerja di sebuah salon dua hari seminggu, dan juga mengajarkan keahlian itu dua kali sebulan. Dengan begitu, saya bisa menunjang dinas sepenuh waktu saya.

Pada 1955, saya berencana menghadiri kebaktian ”Kerajaan yang Berkemenangan” di New York City, AS, dan Nuremberg, Jerman.  Namun, sebelum saya ke New York, saya bertemu Saudara Nathan Knorr dari kantor pusat. Ia dan istrinya menghadiri kebaktian di Vancouver, Kanada. Selama kunjungan mereka, saya diminta menata rambut Saudari Knorr. Saudara Knorr senang melihat hasilnya dan ingin bertemu saya. Ketika mengobrol, saya memberi tahu dia bahwa saya berencana mengunjungi New York sebelum pergi ke Jerman. Ia pun mengundang saya bekerja di Betel Brooklyn selama sembilan hari.

Perjalanan itu mengubah hidup saya. Di New York, saya bertemu dengan seorang saudara muda bernama Theodore (Ted) Jaracz. Setelah berkenalan, saya kaget ketika ditanya, ”Apakah kamu perintis?” Saya menjawab, ”Bukan.” Teman saya, LaVonne, mendengar percakapan ini lalu menyela, ”Ya, dia perintis.” Dengan bingung, Ted bertanya kepada LaVonne, ”Siapa yang benar, kamu atau dia?” Saya pun menjelaskan bahwa saya pernah merintis dan ingin mulai lagi setelah kembali dari kebaktian.

PRIA ROHANI YANG MENJADI SUAMI SAYA

Ted lahir pada 1925 di Kentucky, AS. Ia dibaptis pada usia 15 tahun. Meski tidak ada anggota keluarganya yang menerima kebenaran, dua tahun kemudian ia menjadi perintis biasa. Itulah awal dari hampir 67 tahun kariernya dalam dinas sepenuh waktu.

Pada Juli 1946, saat berusia 20 tahun, Ted lulus dari kelas ketujuh Sekolah Alkitab Gilead Menara Pengawal. Setelahnya, ia melayani sebagai pengawas wilayah di Cleveland, Ohio. Sekitar empat tahun kemudian, ia ditugasi sebagai hamba cabang di Australia.

Ted hadir di kebaktian di Nuremberg, Jerman. Kami bergaul bersama dan jatuh cinta. Saya senang karena Ted bercita-cita untuk melayani Yehuwa segenap jiwa. Ia mencintai pekerjaannya, serius menjalankan tugasnya, namun selalu ramah. Saya bisa merasakan bahwa ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Setelah kebaktian itu, Ted kembali ke Australia dan saya ke Vancouver. Tapi, kami terus surat-menyurat.

Setelah sekitar lima tahun di Australia, Ted kembali ke Amerika Serikat lalu merintis di Vancouver. Saya senang karena keluarga saya sangat menyukai dia. Kakak saya, Michael, sangat menyayangi saya sehingga sering khawatir jika ada saudara muda yang mendekati saya. Namun, Michael langsung menyukai Ted. ”Melita,” katanya, ”dia pria yang baik. Kamu harus baik kepadanya dan hati-hati jangan sampai kehilangan dia.”

Setelah menikah pada 1956, kami menikmati tahun-tahun bahagia dalam dinas sepenuh waktu

Saya juga sangat menyukai Ted dan kami pun menikah pada 10 Desember 1956. Kami merintis di Vancouver, kemudian di Kalifornia, dan belakangan kami ditugaskan dalam pekerjaan wilayah di Missouri dan Arkansas. Selama kira-kira 18 tahun dalam pekerjaan keliling di banyak daerah di Amerika Serikat, kami tinggal di rumah yang berbeda setiap minggu. Kami menikmati banyak hal luar biasa dalam pelayanan dan pergaulan yang menyenangkan dengan saudara-saudari. Ketidaknyamanan yang kami rasakan karena harus berpindah-pindah terbayar oleh semua itu.

Saya sangat merespek Ted karena ia menghargai hubungannya dengan Yehuwa. Bagi Ted, dinas sucinya kepada Pribadi terbesar di alam semesta sangatlah bernilai. Kami senang membaca dan belajar Alkitab bersama. Pada malam hari, sebelum beristirahat, kami berlutut di dekat tempat tidur, dan Ted berdoa bagi kami. Lalu, kami berdoa sendiri-sendiri. Kalau Ted sedang memikirkan masalah serius, ia akan turun dari tempat tidur, berlutut lagi, dan memanjatkan doa yang panjang  dalam hati. Saya sangat kagum karena ia mau berdoa kepada Yehuwa tentang hal-hal besar maupun kecil.

Beberapa tahun setelah kami menikah, Ted memberi tahu saya bahwa ia akan makan dan minum lambang-lambang Peringatan. Ia berkata, ”Aku sudah mendoakan hal ini dengan sungguh-sungguh supaya bisa yakin benar bahwa inilah yang Yehuwa ingin aku lakukan.” Saya tidak terlalu kaget ketika tahu bahwa ia telah diurapi oleh roh Allah untuk melayani di surga kelak. Saya merasa mendapat hak istimewa besar untuk mendukung salah satu saudara Kristus.Mat. 25:35-40.

DINAS SUCI DALAM BIDANG LAIN

Pada 1974, tanpa disangka, Ted diundang untuk menjadi anggota Badan Pimpinan Saksi-Saksi Yehuwa. Kami kemudian diminta untuk melayani di Betel Brooklyn. Di sana, saya bekerja sebagai penata griya atau di salon.

Sebagai bagian dari tugasnya, Ted diminta mengunjungi banyak cabang. Ia khususnya memperhatikan pekerjaan pengabaran di negeri-negeri di balik Tirai Besi. Sekali waktu, ketika kami berlibur di Swedia, Ted berkata, ”Melita, pengabaran dilarang di Polandia, dan aku ingin sekali membantu saudara-saudari di sana.” Jadi, kami mengurus visa dan pergi ke Polandia. Ted menemui beberapa saudara yang mengawasi pengabaran di sana, dan mereka berjalan jauh supaya tidak ada yang bisa mendengar percakapan mereka. Mereka mengadakan rapat yang serius selama empat hari, tapi saya senang melihat Ted sangat puas karena bisa membantu keluarga rohaninya.

Kami kembali mengunjungi Polandia pada November 1977. Untuk pertama kalinya, negeri itu mendapat kunjungan resmi anggota Badan Pimpinan, yaitu F.W. Franz, Daniel Sydlik, dan Ted. Pekerjaan kita masih dilarang, tapi tiga anggota Badan Pimpinan itu bisa berbicara kepada para pengawas keliling, perintis, dan Saksi kawakan di berbagai kota.

Ted dan yang lainnya di Kementerian Hukum di Moskow setelah pelarangan atas pekerjaan kita dicabut

Tahun berikutnya, sewaktu Milton Henschel dan Ted mengunjungi Polandia, mereka bertemu dengan para pejabat yang sudah lebih toleran terhadap kita dan kegiatan kita. Pada 1982, pemerintah Polandia mengizinkan saudara-saudari mengadakan kebaktian-kebaktian satu hari. Setahun setelahnya, kebaktian-kebaktian yang lebih besar diadakan, kebanyakan di gedung sewaan. Pada 1985, meski masih dilarang, kami diizinkan mengadakan empat kebaktian di beberapa stadion besar. Pada Mei 1989, saat kebaktian-kebaktian yang lebih besar sedang direncanakan, Saksi-Saksi Yehuwa mendapat pengakuan hukum dari pemerintah Polandia. Ini salah satu hal yang sangat istimewa dalam hidup Ted.

Kebaktian distrik di Polandia

 MENGHADAPI KESEHATAN YANG MENURUN

Pada 2007, kami mengadakan perjalanan untuk menghadiri penahbisan kantor cabang di Afrika Selatan. Di Inggris, tekanan darah Ted tinggi, dan seorang dokter menyarankan agar ia tidak meneruskan perjalanan. Setelah Ted pulih, kami kembali ke Amerika Serikat. Tapi, beberapa minggu kemudian, ia terkena stroke berat yang membuat sisi kanan tubuhnya lumpuh.

Pemulihan Ted lambat, dan awalnya ia tidak bisa pergi ke kantor. Tapi, kami sangat bersyukur karena ia bisa bicara dengan normal. Meski terbatas, ia berusaha menjalankan rutinnya, bahkan ikut dalam rapat mingguan Badan Pimpinan melalui telepon dari kamar kami.

Ted sangat mensyukuri terapi fisik yang ia terima di klinik Betel. Perlahan-lahan, gerakan anggota tubuhnya mulai kembali normal. Ia bisa menjalankan sebagian tugas teokratisnya, dan ia selalu berusaha untuk ceria.

Tiga tahun kemudian, ia mendapat serangan stroke kedua dan meninggal dengan tenang pada Rabu, 9 Juni 2010. Meski saya dari dulu tahu bahwa Ted akan menyelesaikan kehidupannya di bumi, saya tidak bisa menggambarkan betapa sedihnya saya dan betapa rindunya saya kepadanya. Namun, setiap hari saya berterima kasih kepada Yehuwa atas apa yang bisa saya lakukan untuk mendukung Ted. Kami berdua menggunakan lebih dari 53 tahun dalam dinas sepenuh waktu. Saya bersyukur kepada Yehuwa atas bantuan Ted yang membuat saya lebih dekat dengan Bapak surgawi saya. Saya yakin ia sekarang sangat puas dan senang dengan tugas barunya.

MENGHADAPI TANTANGAN BARU DALAM HIDUP

Saya senang sekali bekerja dan memberikan pelatihan di salon Betel

Setelah menghabiskan tahun-tahun yang sibuk dan menyenangkan bersama suami saya, saya harus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan. Saya dan Ted senang sekali berkenalan dengan tamu-tamu di Betel dan di Balai Kerajaan kami. Sekarang, setelah suami tercinta tidak lagi bersama saya dan saya tidak sekuat dulu, pergaulan saya lebih terbatas. Tetapi, saya masih senang bergaul bersama saudara-saudari di Betel dan di sidang. Rutin Betel tidaklah mudah, namun dinas ini sangatlah menyukacitakan. Dan, saya masih sangat mencintai dinas pengabaran. Meski saya cepat lelah dan tidak bisa berjalan lama, saya sangat puas karena bisa ikut dalam kesaksian di jalan dan memandu pelajaran Alkitab.

Kalau melihat hal-hal mengerikan di dunia, saya sangat bersyukur karena bisa melayani Yehuwa bersama seorang teman hidup yang luar biasa! Berkat Yehuwa benar-benar telah memperkaya hidup saya.Ams. 10:22.

^ par. 13 Kisah hidup Saudara Jack Nathan dimuat di Menara Pengawal 1 September 1990, halaman 10-14.