Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Menara Pengawal—Edisi Pelajaran  |  Januari 2014

Terus Melayani Yehuwa pada Usia Senja

Terus Melayani Yehuwa pada Usia Senja

”Ingatlah Penciptamu yang Agung.”​—PKH. 12:1.

1, 2. (a) Salomo diilhami untuk menuliskan nasihat apa kepada kaum muda? (b) Mengapa nasihat Salomo juga bisa diterapkan kepada orang Kristen yang berusia 50-an atau lebih?

YEHUWA mengilhami Raja Salomo untuk menuliskan nasihat ini kepada kaum muda, ”Ingatlah Penciptamu yang Agung pada hari-hari masa mudamu, sebelum hari-hari yang menyebabkan malapetaka mulai datang.” Apa artinya ”hari-hari yang menyebabkan malapetaka”? Ini memaksudkan usia lanjut. Salomo menggunakan kata-kata puitis untuk menggambarkan problem para lansia: kaki dan tangan gemetaran, gigi tanggal, mata mulai rabun, pendengaran berkurang, rambut putih, tubuh yang bungkuk dan kaku. Maka tidak heran, Salomo memberi tahu kita agar mengingat Sang Pencipta yang Agung selagi muda.​—Baca Pengkhotbah 12:1-5.

2 Ada banyak orang Kristen berusia 50-an atau lebih yang masih kuat. Mereka mungkin sudah beruban, tapi tidak memiliki problem-problem kesehatan yang Salomo gambarkan. Apakah mereka yang sudah banyak makan asam garam kehidupan ini juga bisa menerapkan nasihat Salomo kepada kaum muda,  ”Ingatlah Penciptamu yang Agung”? Pertama-tama, apa maksudnya nasihat itu?

3. Apa artinya mengingat Pencipta Agung kita?

3 Saudara mungkin sudah bertahun-tahun melayani Yehuwa, tapi ada baiknya Saudara sewaktu-waktu merenungkan betapa agungnya Pencipta kita. Kehidupan adalah pemberian yang luar biasa. Rancangan dari ciptaan Allah itu begitu rumit sampai-sampai kita tidak bisa benar-benar memahaminya. Karya-Nya begitu beragam sehingga kita bisa menikmati hidup ini dengan cara yang beragam pula. Kalau kita merenungkan ciptaan Yehuwa, kita akan teringat lagi betapa besar kasih, hikmat dan kuasa-Nya. (Mz. 143:5) Namun, hal itu juga akan mengingatkan kita pada apa yang Ia minta dari kita. Setelah merenungkan semua hal ini, kita tentu tergugah untuk memperlihatkan rasa syukur dengan melayani Dia semaksimal mungkin sepanjang hidup kita.​—Pkh. 12:13.

KELEBIHAN DI USIA SENJA

4. Apa yang bisa direnungkan oleh orang Kristen yang sudah punya banyak pengalaman hidup? Mengapa?

4 Jika Saudara sudah berumur, renungkanlah, ’Apa yang akan saya lakukan sekarang, selagi masih kuat dan sehat?’ Sebagai orang Kristen yang punya banyak pengalaman, Saudara memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Misalnya, Saudara bisa meneruskan kepada kaum muda apa yang Saudara pelajari dari Yehuwa. Saudara bisa membina orang lain dengan menceritakan berbagai pengalaman sewaktu melayani Allah. Raja Daud berdoa agar bisa melakukan hal ini. Ia menulis, ”Oh, Allah, engkau telah mengajar aku sejak masa mudaku. . . . Bahkan sampai aku tua dan beruban, oh, Allah, janganlah meninggalkan aku, sampai aku menceritakan tentang lenganmu kepada generasi itu, kepada semua orang yang akan datang, tentang keperkasaanmu.”​—Mz. 71:17, 18.

5. Bagaimana orang-orang Kristen yang sudah berumur bisa meneruskan apa yang telah mereka pelajari?

5 Bagaimana Saudara bisa mengajarkan hikmat yang telah Saudara peroleh selama bertahun-tahun? Mungkin Saudara bisa mengundang anak-anak muda ke rumah untuk mengobrol dan membina mereka. Atau, Saudara bisa mengajak mereka mengabar sehingga mereka bisa melihat bahwa Saudara menikmati pelayanan. Elihu mengatakan, ”Usialah yang seharusnya berbicara, dan banyaknya tahun-tahun, itulah yang seharusnya memberitahukan hikmat.” (Ayb. 32:7) Rasul Paulus menasihati wanita-wanita Kristen yang berpengalaman agar menjadi teladan melalui perkataan dan perbuatan. Ia menulis, ”Hendaklah wanita-wanita yang sudah berumur . . . menjadi guru dari apa yang baik.”​—Tit. 2:3.

YANG BISA SAUDARA LAKUKAN UNTUK MEMBANTU ORANG LAIN

6. Mengapa orang Kristen yang sudah berpengalaman hendaknya tidak meremehkan kemampuan mereka?

6 Ada banyak hal yang bisa Saudara lakukan sebagai orang Kristen yang sudah berpengalaman. Perhatikan apa yang sekarang Saudara pahami, yang tidak Saudara mengerti 30 atau 40 tahun yang lalu. Saudara tahu caranya menerapkan prinsip-prinsip Alkitab dalam berbagai situasi. Saudara punya kemampuan untuk menyentuh hati orang melalui kebenaran Alkitab. Kalau Saudara seorang penatua, Saudara tahu caranya membantu saudara-saudari yang telah membuat keputusan yang tidak bijaksana. (Gal. 6:1) Mungkin Saudara berpengalaman dalam memimpin kegiatan di sidang, berbagai departemen kebaktian, atau pembangunan Balai Kerajaan. Saudara tahu caranya menyarankan para dokter agar menggunakan metode-metode pembedahan tanpa darah. Sekalipun Saudara baru dibaptis, Saudara punya pengalaman hidup yang berharga. Misalnya, Saudara mungkin punya resep yang manjur dalam  membesarkan anak. Orang Kristen yang sudah berumur menjadi sumber anjuran dengan mengajar, membimbing, dan menguatkan saudara-saudari mereka.​—Baca Ayub 12:12.

7. Pelatihan apa yang bisa diberikan oleh mereka yang sudah berumur kepada yang lebih muda?

7 Apa lagi yang bisa Saudara lakukan untuk orang lain? Mungkin Saudara bisa memberikan contoh kepada yang lebih muda caranya memulai dan memandu PAR. Saudari-saudari bisa memberikan saran kepada ibu-ibu muda caranya bisa tetap berdinas meski harus mengurus anak mereka yang masih kecil. Saudara-saudara bisa mengajar anak-anak muda cara memberikan khotbah dengan bersemangat dan menjadi penyiar yang lebih terampil. Sewaktu mengajak mereka mengunjungi saudara-saudari lansia, Saudara bisa menunjukkan caranya membesarkan hati mereka. Sekalipun sudah tidak sekuat dulu, Saudara masih memiliki kesempatan bagus untuk melatih kaum muda. Alkitab mengatakan, ”Keindahan orang muda adalah kekuatannya, dan kesemarakan orang yang sudah tua adalah uban di kepalanya.”​—Ams. 20:29.

MELAYANI DI TEMPAT YANG LEBIH MEMBUTUHKAN

8. Apa yang rasul Paulus lakukan meski umurnya bertambah?

8 Rasul Paulus tetap sangat sibuk melayani Yehuwa sekalipun umurnya bertambah. Ketika ia dibebaskan dari penjara di Roma, sekitar tahun 61 M, ia sudah bertahun-tahun bekerja keras dan bertekun dalam banyak ujian sebagai utusan injil. Ia bisa saja memutuskan untuk mengabar dan hidup tenang di Roma. (2 Kor. 11:23-27) Saudara-saudara di sana pasti senang jika ia bisa terus membantu mereka. Tapi, Paulus melihat bahwa negeri-negeri lain lebih membutuhkan bantuan rohani. Maka, bersama Timotius dan Titus, ia pergi ke Efesus, Kreta, dan mungkin ke Makedonia. (1 Tim. 1:3; Tit. 1:5) Kita tidak tahu apakah ia juga pergi ke Spanyol, tapi ia memang punya rencana untuk ke sana.​—Rm. 15:24, 28.

9. Kapan Petrus pindah ke tempat yang lebih membutuhkan? (Lihat gambar di bagian awal.)

9 Rasul Petrus mungkin sudah berumur 50 tahun lebih ketika ia pindah ke tempat yang lebih membutuhkan. Dari mana kita tahu? Kalau ia sebaya dengan Yesus atau lebih tua sedikit, berarti umurnya kira-kira 50 tahun ketika ia mengadakan rapat dengan rasul-rasul lain di Yerusalem pada tahun 49 M. (Kis. 15:7) Tidak lama setelah itu, Petrus pindah ke Babilon, mungkin untuk mengabar kepada banyak orang Yahudi di daerah itu. (Gal. 2:9) Di sanalah ia menulis surat terilhamnya yang pertama, sekitar tahun 62 M. (1 Ptr. 5:13) Pindah ke tempat yang lebih membutuhkan mungkin tidak mudah. Tapi, Petrus tidak ingin usia jadi penghalang untuk terus menikmati sukacita melayani Yehuwa sepenuhnya.

10, 11. Apa yang dilakukan Robert dan istrinya di usia senja?

10 Dewasa ini, ada banyak orang Kristen berusia 50-an atau lebih yang menyadari bahwa situasi mereka telah berubah dan kini bisa mencoba cara-cara baru dalam pelayanan. Ada yang pindah ke tempat yang lebih membutuhkan pemberita Kerajaan. Inilah yang dilakukan oleh Robert dan istrinya. Ketika berumur kira-kira 55, mereka menyadari bahwa mereka bisa melayani Yehuwa dengan cara lain. Putra tunggal mereka sudah dewasa dan keluar rumah. Orang tua mereka pun sudah meninggal. Mereka mendapat sedikit warisan, dan berpikir bahwa kalau rumah mereka dijual, mereka bisa melunasi utang dan menutup biaya hidup sampai Robert mendapat uang pensiunnya. Mereka mendengar bahwa banyak orang di Bolivia mau belajar Alkitab dan biaya hidup di sana lebih murah. Maka, mereka memutuskan untuk pindah. Robert mengatakan, ”Menyesuaikan diri di tempat baru memang tidak mudah. Segalanya begitu berbeda dengan kehidupan kami dulu di Amerika. Tapi, upaya kami sangat diberkati.”

 11 Robert menambahkan, ”Sekarang, kehidupan kami diisi dengan kegiatan rohani. Beberapa PAR kami dibaptis. Satu keluarga yang belajar dengan kami sangat sederhana dan tinggal di desa yang jauhnya beberapa kilometer. Tapi setiap minggu, beberapa dari keluarga itu berhimpun sekalipun harus menempuh perjalanan yang sulit ke kota. Bayangkan betapa senangnya kami melihat keluarga itu terus maju dan putra sulung mereka mulai merintis!”

KEBUTUHAN DI LADANG BERBAHASA ASING

12, 13. Setelah Brian pensiun, apa yang dia dan istrinya lakukan?

12 Sidang dan kelompok berbahasa asing bisa mendapat banyak manfaat dari teladan saudara-saudari berusia senja. Dan, mengabar di daerah berbahasa asing seperti itu bisa sangat menyenangkan. Contohnya, Brian dari Inggris menulis bahwa setelah pensiun pada usia 65, ia dan istrinya merasa hidup mereka membosankan. Brian mengatakan, ”Anak-anak kami sudah keluar rumah, dan kami jarang menemukan peminat yang mau belajar Alkitab. Lalu, saya bertemu seorang peneliti muda dari Cina di universitas setempat. Ketika diundang berhimpun, ia mau datang, dan ia mau belajar Alkitab. Setelah beberapa minggu, ia mengajak rekannya, juga seorang Cina, ke perhimpunan. Dua minggu kemudian, ia mengajak temannya yang ketiga, lalu yang keempat.

13 ”Sewaktu akhirnya pemuda Cina yang kelima meminta PAR, saya pikir, ’Umur saya sudah 65, tapi tidak berarti saya harus pensiun dari dinas kepada Yehuwa.’ Maka, saya bertanya kepada istri saya, yang dua tahun lebih muda dari saya, apakah dia mau belajar bahasa Cina. Lalu, kami belajar melalui rekaman. Itu sepuluh tahun yang lalu. Mengabar di ladang berbahasa asing membuat kami merasa muda lagi. Kalau dihitung-hitung, ada 112 orang Cina yang pernah studi dengan kami! Kebanyakan sudah berhimpun, salah seorang dari mereka sekarang menjadi perintis.”

Saudara masih bisa meluaskan pelayanan pada usia senja (Lihat paragraf 12, 13)

MENIKMATI APA YANG BISA SAUDARA LAKUKAN

14. Apa yang hendaknya tidak dilupakan orang-orang Kristen di usia 50-an? Bagaimana teladan Paulus menggugah mereka?

14 Tentu saja, karena keadaan setiap  orang Kristen di usia 50-an berbeda-beda, tidak semua bisa mencoba hal baru dalam pelayanan. Ada yang kesehatannya kurang baik, dan yang lain harus mengurus anak atau orang tua lansia. Tapi, jangan lupa bahwa Yehuwa menghargai apa pun yang Saudara lakukan untuk melayani-Nya. Jadi, sekalipun Saudara kadang merasa kecewa karena tidak bisa melakukan apa yang Saudara inginkan, nikmatilah apa yang bisa Saudara lakukan. Ingatlah rasul Paulus. Selama bertahun-tahun, ia menjadi tahanan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan utusan injilnya. Namun, ia berbicara tentang Alkitab kepada siapa saja yang datang berkunjung, dan memperkuat iman mereka.—Kis. 28:16, 30, 31.

15. Mengapa orang-orang Kristen lansia sangat dihargai?

15 Yehuwa juga sangat menghargai pelayanan saudara-saudari yang sudah sangat berumur. Salomo mengakui bahwa pada masa tua problem kesehatan bisa mulai muncul. Tapi, Alkitab mengingatkan kita bahwa Yehuwa memperhatikan apa pun yang dilakukan orang Kristen lansia untuk memuji Dia. (Luk. 21:2-4) Sidang-sidang menghargai teladan kesetiaan dan ketekunan saudara-saudari lansia ini.

16. Kesempatan apa yang tidak mungkin diperoleh Hana? Tapi, apa yang dapat ia lakukan untuk ibadat kepada Yehuwa?

16 Dalam Alkitab, ada kisah tentang seorang wanita lansia yang setia bernama Hana. Ia berusia 84 tahun ketika Yesus lahir. Karena usianya, ia tidak bisa melayani Yehuwa seperti orang lain. Ia tidak mungkin menjadi murid Yesus, diurapi dengan roh kudus, atau mengabar. Tapi, ia senang melayani Yehuwa dengan cara-cara lain. Misalnya, setiap pagi dan petang ia pergi ke halaman bait dan berdoa dalam hati selama kira-kira setengah jam sewaktu imam mempersembahkan dupa kepada Yehuwa. Menurut Alkitab, ia ”tidak pernah meninggalkan bait, memberikan dinas suci malam dan siang”. (Luk. 2:36, 37) Justru pada saat ia sedang berada di bait, ia melihat bayi Yesus. Ia memberi tahu semua orang bahwa Yesus akan menjadi Mesias dan membebaskan Yerusalem.​—Luk. 2:38.

17. Bagaimana sidang bisa membantu kaum lansia atau yang sakit untuk tetap beribadat?

17 Dewasa ini, kita hendaknya memikirkan bantuan apa yang bisa kita berikan kepada saudara-saudari yang lansia atau sakit. Ada banyak saudara-saudari lansia yang ingin sekali berhimpun atau menghadiri kebaktian, tapi tidak bisa. Bagaimana sidang bisa membantu? Di beberapa tempat, sidang mengatur agar mereka mendengarkan acara perhimpunan melalui telepon. Di tempat lain, hal ini mungkin tidak bisa dilakukan. Meski para lansia tidak bisa berhimpun, mereka tetap bisa mendukung ibadat sejati. Misalnya, mereka bisa mendoakan kemajuan sidang-sidang.​—Baca Mazmur 92:13, 14.

18, 19. (a) Bagaimana orang Kristen lansia bisa membina orang lain? (b) Siapa yang bisa menerapkan nasihat, ”Ingatlah Penciptamu yang Agung”?

18 Orang Kristen lansia bisa jadi tidak menyadari bahwa mereka bisa sangat membina orang lain. Perhatikan Hana, yang selama bertahun-tahun dengan setia pergi ke bait. Ia mungkin tidak menyadari bahwa teladan dan kasihnya untuk Yehuwa akan dicatat dalam Alkitab dan bisa membina kita dewasa ini. Demikian pula, kasih kita kepada Yehuwa tidak pernah akan dilupakan oleh saudara-saudari kita. Itulah sebabnya Firman Allah mengatakan, ”Uban di kepala adalah mahkota keindahan apabila didapati di jalan keadilbenaran.”​—Ams. 16:31.

19 Memang, kita masing-masing punya keterbatasan dalam melayani Yehuwa. Tapi, selagi masih kuat dan sehat, bertekadlah untuk terus mengindahkan nasihat ini, ”Ingatlah Penciptamu yang Agung, . . . sebelum hari-hari yang menyebabkan malapetaka mulai datang.”​—Pkh. 12:1.