Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Menara Pengawal—Edisi Pelajaran  |  Agustus 2013

Pertanyaan Pembaca

Pertanyaan Pembaca

Di perhimpunan, apakah orang tua boleh duduk bersama anaknya yang dipecat?

Kita tidak perlu terlalu mempersoalkan di mana seseorang yang dipecat seharusnya duduk di Balai Kerajaan. Majalah ini sering menganjurkan orang tua Saksi untuk memberikan bantuan rohani kepada anak mereka yang dipecat, yang masih tinggal bersama mereka. Seperti yang ditunjukkan dalam Menara Pengawal 1 Oktober 2001, halaman 16-18, orang tua bahkan bisa mengadakan PAR dengan anak di bawah umur yang dipecat, yang masih tinggal serumah. Dengan demikian, mudah-mudahan anak itu bisa teranjurkan sehingga ia bisa memperbaiki tingkah lakunya.

Jadi, di Balai Kerajaan, tampaknya tidak menjadi soal jika anak tersebut duduk dengan tenang bersama orang tuanya. Karena orang yang dipecat tidak diharuskan duduk di barisan paling belakang, seorang anak yang dipecat boleh duduk di sebelah orang tuanya, di mana pun mereka duduk. Orang tua berupaya memenuhi kebutuhan rohani anak mereka. Maka, mereka pasti ingin agar si anak mendapat manfaat sebesar-besarnya dari perhimpunan. Mereka lebih mudah membantu si anak jika ia duduk bersama mereka, dan bukannya duduk sendirian di tempat lain.

Namun, bagaimana jika seorang anak yang dipecat tidak lagi tinggal bersama orang tuanya? Apakah ia tidak boleh duduk bersama mereka di perhimpunan? Selama ini, publikasi kita telah menjelaskan bagaimana seharusnya sikap seorang Saksi terhadap pergaulan dengan kerabat yang dipecat yang tidak tinggal serumah. * Kerabat orang yang dipecat tidak boleh mencari-cari kesempatan untuk bergaul dengannya. Tapi, situasinya tentu sangat berbeda jika orang yang dipecat duduk dengan tenang di sebelah kerabatnya selama perhimpunan. Jika anggota keluarga yang setia memiliki sikap yang benar terhadap kerabat mereka yang dipecat dan mereka berupaya menaati nasihat mengenai pergaulan dengannya, kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.1 Kor. 5:11, 13; 2 Yoh. 11.

Selama orang yang dipecat itu menyadari keadaan dirinya, tidaklah menjadi soal apakah dia duduk di sebelah kerabatnya atau di samping anggota sidang lainnya. Dalam situasi tertentu, mengatur-atur tempat duduk seseorang bisa menimbulkan berbagai masalah. Jika semua yang hadir, termasuk kerabat yang setia, berupaya menerapkan prinsip Alkitab tentang pemecatan, dan jika soal tempat duduk orang yang dipecat tidak menimbulkan sandungan, kita tidak perlu mempermasalahkan seseorang mau duduk di mana selama perhimpunan. *

^ par. 6 Keterangan ini memperbarui apa yang dimuat dalam The Watchtower 1 April 1953, halaman 223.