Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Sadarlah!  |  No. 5 2016

 POTRET MASA LALU

Aristoteles

Aristoteles

LEBIH dari 2.300 tahun yang lalu, Aristoteles berperan penting dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Hasil karyanya dianggap menarik oleh banyak orang dan telah diterjemahkan dan dipelajari secara luas. Profesor sejarah James MacLachlan menulis bahwa pandangan Aristoteles soal alam semesta sangat memengaruhi penduduk Eropa selama hampir 2.000 tahun. Pandangannya bahkan memengaruhi ajaran Katolik dan Protestan, juga Islam.

Minatnya Sangat Luas

Aristoteles menulis tentang seni, astronomi, biologi, etika, bahasa, hukum, magnet, metafisika, gerak, kesenangan, puisi, politik, psikologi, dan seni berpidato, termasuk soal jiwa yang menurutnya bisa mati. Tapi, dia lebih dikenal dengan karyanya di bidang biologi dan logika.

Para ahli Yunani kuno mengandalkan pengamatan, kesimpulan, dan logika untuk menjelaskan alam. Dimulai dengan apa yang dianggap sebagai kebenaran, mereka percaya bahwa jika mereka memikirkan dengan serius kebenaran itu, mereka akan mendapat kesimpulan yang benar.

Karena dipengaruhi oleh filsafat itu, mereka berhasil membuat beberapa kesimpulan yang benar, salah satunya adalah keteraturan dalam alam semesta. Sayangnya, pengamatan mereka dibatasi oleh indra mereka, sehingga orang-orang hebat termasuk Aristoteles keliru. Misalnya, mereka percaya bahwa planet dan bintang bergerak mengelilingi bumi. Saat itu, pernyataan tersebut dianggap benar. Buku The Closing of the Western Mind berkata, ”Logika dan pengetahuan kelihatannya meneguhkan  pandangan orang Yunani bahwa bumi adalah pusat alam semesta.”

Pandangan keliru itu mungkin tidak terlalu masalah jika hanya terjadi dalam dunia sains. Tapi kenyataannya tidak demikian.

Gereja Katolik Menerima Gagasan Aristoteles

Pada masa ”Kekristenan” di Eropa, sekitar tahun 500 M hingga 1500 M, beberapa ajaran Aristoteles dianggap kebenaran, jadi umumnya itu diterima sebagai fakta. Itu terjadi setelah para teolog Katolik Roma, terutama Thomas Aquinas (±  1224-1274), memasukkan pandangan Aristoteles dalam teologi mereka. Jadi, pandangan Aristoteles bahwa bumi yang tidak bergerak terletak di pusat alam semesta menjadi ajaran Katolik. Ajaran itu juga dipercayai oleh pemimpin Protestan seperti Calvin dan Luther yang mengatakan bahwa itu sesuai Alkitab.—Lihat kotak ” Mereka Keliru Menyimpulkan Isi Alkitab”.

Beberapa ajaran Aristoteles dianggap kebenaran

Charles Freeman berkata, ”Dalam beberapa bidang, [ajaran Aristoteles] dan Katolik sulit dibedakan.” Dan, ada kabar bahwa Aquinas ”membaptis” Aristoteles menjadi pengikut Katolik. Kenyataannya menurut Freeman, ”Aquinas-lah yang menjadi pengikut Aristoteles.” Dan, itulah yang terjadi dalam gereja. Akibatnya, Galileo, ahli astronomi dan matematika dari Italia, yang berani menunjukkan bukti bahwa bumi mengelilingi matahari, diadili dan dipaksa untuk menyangkal penemuannya. * Padahal, Aristoteles sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan itu bisa berubah. Andai saja gereja punya pandangan yang sama seperti Aristoteles!

^ par. 11 Lihat ”Bentrokan Galileo dengan Gereja” di majalah Sedarlah! edisi 22 April 2003.