Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Sadarlah!  |  No. 2 2016

 TOPIK UTAMA

Apakah Alkitab Hanya Buku Biasa?

Apakah Alkitab Hanya Buku Biasa?

Alkitab selesai ditulis sekitar dua ribu tahun yang lalu. Sejak saat itu, banyak buku lain datang dan pergi. Tapi, Alkitab tetap ada. Perhatikan fakta berikut.

  • Alkitab tetap bertahan meski sering diserang oleh orang-orang yang berkuasa. Misalnya selama Abad Pertengahan, di beberapa negeri yang mengaku Kristen, buku An Introduction to the Medieval Bible menulis bahwa ”memiliki dan membaca Alkitab dalam bahasa sehari-hari sering dianggap sesat dan menyimpang”. Di zaman itu, para ahli yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa sehari-hari atau mendukung pembelajaran Alkitab bisa dieksekusi, dan beberapa memang dibunuh.

  • Meski banyak ditentang, Alkitab tetap menjadi buku yang paling banyak disebarluaskan. Diperkirakan lima miliar salinan Alkitab, seluruh atau sebagian, telah dicetak dalam lebih dari 2.800 bahasa. Ini sangat berbeda dengan buku filosofi, sains, dan buku lain yang penyebarluasannya mungkin terbatas dan bisa cepat ketinggalan zaman.

  • Alkitab membantu melestarikan dan mengembangkan bahasa. Terjemahan bahasa Jerman oleh Martin Luther sangat berpengaruh untuk bahasa itu. Edisi pertama King James Version ”kemungkinan adalah buku yang paling besar pengaruhnya yang pernah diterbitkan” dalam bahasa Inggris.

  • Alkitab ”sangat memengaruhi budaya Barat, tidak hanya dalam bidang kepercayaan dan praktek agama, tapi juga seni, sastra, hukum, politik, dan banyak bidang lainnya”.The Oxford Encyclopedia of the Books of the Bible.

Ini hanyalah beberapa fakta yang membuat Alkitab unik. Tapi, mengapa buku itu sangat terkenal? Mengapa orang rela mati untuk itu? Beberapa alasannya adalah: Alkitab berisi ajaran moral dan rohani yang sangat bagus. Alkitab membantu kita mengerti akar penyebab penderitaan dan masalah manusia. Dan yang lebih penting, Alkitab berjanji bahwa masalah-masalah itu akan berakhir. Alkitab bahkan memberi tahu bagaimana itu akan terjadi.

 Alkitab Memberikan Pemahaman Moral dan Rohani

Pendidikan sekuler memang penting. Tapi, surat kabar Ottawa Citizen di Kanada menulis, ”Pendidikan . . . yang menghasilkan gelar pada nama Anda . . . tidak menjamin kecerdasan moral.” Banyak orang yang berpendidikan tinggi, termasuk pemimpin dalam bidang bisnis dan pemerintahan, menipu, mencurangi, dan mencuri. Ini mengakibatkan ”krisis kepercayaan yang parah”, kata penelitian global yang diterbitkan oleh Edelman, lembaga hubungan masyarakat.

Alkitab berfokus pada pendidikan moral dan rohani. Alkitab memberi kita pemahaman tentang ”keadilbenaran, keadilan, dan kelurusan hati, seluruh haluan mengenai apa yang baik”. (Amsal 2:9) Sebagai contoh, Stephen yang berusia 23 tahun, dipenjara di Polandia. Di sana, dia mulai belajar dan menghargai nasihat Alkitab. Dia menulis, ”Saya sekarang mengerti apa artinya ’hormatilah bapakmu dan ibumu’. Saya juga belajar untuk mengendalikan emosi saya, terutama amarah yang berlebihan.”Efesus 4:31; 6:2.

Ayat Alkitab yang menyentuh hati Stephen adalah Amsal 19:11, ”Pemahaman seseorang pasti memperlambat kemarahannya, dan adalah keindahan di pihaknya untuk memaafkan pelanggaran.” Sekarang, ketika Stephen menghadapi situasi yang sulit, dia mencoba memikirkan hal itu dengan tenang dan menerapkan prinsip Alkitab yang cocok. Dia berkata, ”Saya merasa bahwa Alkitab adalah buku panduan yang terbaik.”

Maria yang adalah Saksi Yehuwa, dihina di depan umum oleh seorang wanita yang berprasangka. Hal ini menimbulkan keributan. Tapi, Maria tidak membalas, dia tetap tenang dan jalan terus. Wanita itu jadi malu sendiri dan mencari Saksi-Saksi Yehuwa. Sebulan kemudian, dia akhirnya bertemu lagi dengan Maria. Dia meminta maaf dan memeluk Maria. Dia sadar bahwa kepercayaan Maria-lah yang membuat  Maria bisa mengendalikan diri dan bersikap lembut. Hasilnya? Wanita yang tadinya berprasangka dan lima anggota keluarganya memutuskan untuk belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi Yehuwa.

Yesus Kristus berkata bahwa ”hikmat dibuktikan adil-benar oleh perbuatannya”. (Matius 11:19) Ada banyak bukti bahwa prinsip Alkitab memang bermanfaat! Itu membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Prinsip itu ”membuat orang yang kurang berpengalaman berhikmat”, ”menyebabkan hati bersukacita”, dan ”membuat mata bersinar” karena mengerti hal-hal moral dan rohani.Mazmur 19:7, 8.

Alkitab Menjelaskan Penderitaan dan Masalah Manusia

Saat meneliti wabah penyakit, para peneliti mencoba menemukan akar penyebab wabah itu. Penelitian seperti ini juga perlu dilakukan untuk mengerti ”wabah” penderitaan dan masalah manusia. Alkitab sangat berguna karena mencatat awal sejarah manusia, saat masalah itu pertama kali muncul.

Buku Kejadian menjelaskan bahwa masalah manusia dimulai ketika manusia yang pertama melawan Allah. Mereka mau memutuskan sendiri apa yang benar dan salah, padahal itu adalah hak Pencipta kita. (Kejadian 3:1-7) Sayangnya, sejak saat itu banyak orang membuat standar mereka sendiri. Hasilnya? Sejarah manusia dipenuhi konflik, penindasan, serta masalah moral dan rohani, bukannya kebebasan dan kebahagiaan. (Pengkhotbah 8:9) Alkitab menulis, ”Manusia . . . tidak mempunyai kuasa untuk mengarahkan langkahnya.” (Yeremia 10:23) Tapi, kabar baiknya adalah percobaan manusia untuk membuat standar moral sendiri akan segera berakhir.

 Alkitab Memberikan Harapan

Allah menyayangi orang-orang yang menghargai kuasa dan standar-Nya. Maka, Alkitab meyakinkan kita bahwa Dia tidak akan selamanya membiarkan penderitaan dan masalah. Orang jahat ”akan memakan buah jalan mereka”, atau menerima akibat perbuatan mereka. (Amsal 1:30, 31) Sebaliknya, ”orang-orang yang lembut hati akan memiliki bumi, dan mereka akan benar-benar mendapatkan kesenangan yang besar atas limpahnya kedamaian”.Mazmur 37:11.

”[Allah] menghendaki agar segala macam orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran.”1 Timotius 2:3, 4.

Allah akan mewujudkan bumi yang penuh damai sesuai janji-Nya melalui ”Kerajaan Allah”. (Lukas 4:43) Kerajaan ini adalah pemerintahan dunia, dan melaluinya Allah akan menyatakan hak-Nya untuk memerintah atas manusia. Yesus mengaitkan Kerajaan itu dengan bumi saat dia berdoa, ”Biarlah kerajaanmu datang. Biarlah kehendakmu terjadi . . . di atas bumi.”Matius 6:10.

Rakyat Kerajaan Allah akan melakukan kehendak Allah dan mengakui Sang Pencipta sebagai Penguasa yang sah, bukan manusia. Korupsi, keserakahan, ketidakadilan ekonomi, prasangka ras, dan perang tidak akan ada lagi. Kita benar-benar akan punya satu dunia, satu pemerintahan, dan satu standar moral dan rohani.Penyingkapan (Wahyu) 11:15.

Kunci untuk bisa melihat dunia baru itu adalah pengetahuan. Satu Timotius 2:3, 4 berkata, ”[Allah] menghendaki agar segala macam orang diselamatkan dan memperoleh  pengetahuan yang saksama tentang kebenaran.” Kebenaran ini mencakup ajaran Alkitab tentang undang-undang Kerajaan Allah, yaitu hukum dan prinsip Kerajaan itu. Misalnya, hal ini bisa didapat dalam Khotbah Yesus Kristus di Gunung. (Matius, pasal 5-7) Saat Anda membaca tiga pasal itu, cobalah bayangkan bagaimana kehidupan kita nanti ketika semua orang menjalankan nasihat Yesus.

Apakah kita perlu heran bahwa Alkitab adalah buku yang paling banyak disebarluaskan? Tentu tidak! Ajarannya membuktikan bahwa buku itu berasal dari Allah. Dan, penyebarluasannya menunjukkan bahwa Allah ingin agar orang-orang dari semua bahasa dan bangsa belajar tentang Dia, dan merasakan berkat-berkat Kerajaan-Nya.Kisah 10:34, 35.