Langsung ke konten

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Pilih bahasa Indonesia

Disiplin—Bukti Kasih Allah

Disiplin—Bukti Kasih Allah

”Yehuwa mendisiplin semua yang Dia sayangi.”​—IBR. 12:6.

NYANYIAN: 123, 86

1. Apa yang Alkitab katakan tentang disiplin?

APA yang ada di pikiran Saudara ketika mendengar kata ”disiplin”? Banyak orang langsung terpikir ”hukuman”. Tapi, disiplin tidak hanya memaksudkan hal itu. Di banyak ayat, kata disiplin sering diterjemahkan menjadi ”didikan”. Alkitab mengatakan bahwa disiplin bermanfaat bagi kita dan kadang menyebutkannya bersamaan dengan pengetahuan, hikmat, kasih, dan kehidupan. (Ams. 1:2-7; 4:11-13) Dengan mendisiplin kita, Allah menunjukkan bahwa Dia menyayangi kita dan ingin agar kita hidup selamanya. (Ibr. 12:6) Disiplin dari Allah kadang berupa hukuman, tapi hukuman itu tidak kejam atau menyiksa. Malah, makna utama kata ”disiplin” adalah didikan, seperti yang diberikan orang tua yang pengasih kepada anaknya.

2, 3. Apa yang tercakup dalam memberikan disiplin? (Lihat gambar di awal artikel.)

2 Sebagai contoh, katakanlah seorang anak bernama Doni bermain bola di dalam rumah. Ibunya berkata, ”Doni, jangan main bola di dalam rumah. Nanti ada yang pecah.” Tapi, Doni tidak mendengarkan ibunya dan terus bermain. Akibatnya, dia memecahkan vas bunga. Apa yang dilakukan ibunya untuk  mendisiplin dia? Disiplin ibunya mencakup ajaran dan hukuman. Dia mengajar dengan menjelaskan mengapa perbuatan Doni salah. Dia ingin agar anaknya mengerti bahwa menaati orang tua itu penting dan bahwa aturan yang diberikan itu memang perlu dan masuk akal. Lalu, ibunya menghukum dia dengan mengambil bolanya untuk sementara. Dengan begitu, Doni akan ingat bahwa kalau dia tidak taat, akan ada akibatnya.

3 Sebagai orang Kristen, kita adalah bagian dari ”rumah tangga Allah”. (1 Tim. 3:15) Bapak kita, Yehuwa, berhak memutuskan mana yang benar dan salah, serta mendisiplin kita jika kita tidak menaati-Nya. Saat kita melakukan kesalahan dan mendapat disiplin yang pengasih dari Yehuwa, itu bisa membuat kita ingat pentingnya menaati Dia. (Gal. 6:7) Allah sangat menyayangi kita dan tidak mau kita menderita.​—1 Ptr. 5:6, 7.

4. (a) Yehuwa ingin kita melatih orang lain dengan cara apa? (b) Apa yang akan kita bahas di artikel ini?

4 Disiplin yang berdasarkan Alkitab bisa melatih seorang anak atau pelajar Alkitab untuk menjadi pengikut Kristus. Dengan menggunakan Alkitab, kita membantu mereka untuk mengerti mana yang benar dan salah, serta untuk menjalankan semua perintah Yesus. (Mat. 28:19, 20; 2 Tim. 3:16) Yehuwa ingin agar kita melatih mereka seperti itu, supaya mereka juga bisa membantu orang lain menjadi pengikut Kristus. (Baca Titus 2:11-14.) Sekarang, mari kita bahas tiga pertanyaan penting ini: (1) Bagaimana disiplin dari Allah membuktikan bahwa Dia menyayangi kita? (2) Apa yang bisa kita pelajari dari contoh orang-orang yang didisiplin Allah? (3) Bagaimana kita bisa meniru Yehuwa dan Putra-Nya saat memberi disiplin?

ALLAH MENDISIPLIN DENGAN PENGASIH

5. Bagaimana disiplin dari Yehuwa membuktikan bahwa Dia menyayangi kita?

5 Yehuwa mengoreksi, mendidik, dan melatih kita karena Dia sayang kepada kita. Dia ingin agar kita tetap dekat dengan-Nya dan hidup selamanya. (1 Yoh. 4:16) Dia tidak pernah menghina atau membuat kita merasa tidak berharga. (Ams. 12:18) Sebaliknya, Yehuwa berfokus pada sifat-sifat baik kita dan memberi kita kebebasan memilih. Yehuwa mendisiplin kita melalui Alkitab, publikasi, orang tua, atau para penatua. Apakah kita memandang semua itu sebagai bukti kasih Yehuwa? Saat kita ”salah langkah”, bahkan sebelum kita menyadarinya, para penatua akan mengoreksi kita dengan lembut dan pengasih. Dengan melakukannya, mereka sebenarnya mencerminkan kasih Yehuwa.​Gal. 6:1.

6. Mengapa disiplin membuktikan kasih Allah, bahkan ketika seseorang tidak boleh lagi menjalankan tugas tertentu?

6 Kadang, orang yang didisiplin tidak hanya dinasihati. Jika dia melakukan dosa serius, dia tidak boleh lagi menjalankan tugas tertentu di sidang. Tapi, disiplin yang diterimanya adalah bukti bahwa Allah menyayangi dia. Mengapa? Karena disiplin itu bisa membuat dia sadar bahwa dia perlu lebih sering belajar Alkitab, merenung, dan berdoa. Hal-hal itu bisa memperkuat hubungan-Nya dengan Yehuwa. (Mz. 19:7) Setelah beberapa waktu, dia mungkin mendapatkan kembali tanggung jawab atau tugas-tugasnya yang dulu. Bagaimana dengan pemecatan? Itu pun sebenarnya bukti kasih Yehuwa, karena hal itu melindungi sidang dari pengaruh buruk. (1 Kor. 5:6, 7, 11) Dan karena disiplin dari Allah  selalu adil, pemecatan akan membuat seseorang sadar bahwa dosanya sangat serius, sehingga dia bisa tergerak untuk bertobat.​—Kis. 3:19.

DISIPLIN YEHUWA TERBUKTI BERMANFAAT

7. Siapa Syebna itu, dan sifat buruk apa yang dia miliki?

7 Untuk memahami pentingnya disiplin, mari kita bahas pengalaman dari dua orang yang didisiplin Yehuwa. Yang pertama adalah Syebna, orang Israel yang hidup di zaman Raja Hizkia, dan yang kedua Graham, seorang saudara di zaman kita. Syebna adalah seorang ”pengurus istana”, kelihatannya istana Raja Hizkia. Dia punya kedudukan yang tinggi. (Yes. 22:15) Tapi kemudian, Syebna menjadi sombong dan ingin dianggap penting. Dia bahkan membuat kuburan yang mewah untuk dirinya sendiri dan mengendarai ’kereta-kereta yang mulia’.​—Yes. 22:16-18.

Jika kita rendah hati dan mau berubah, kita akan diberkati (Lihat paragraf 8-10)

8. Bagaimana Yehuwa mendisiplin Syebna, dan apa hasilnya?

8 Karena Syebna ingin dimuliakan, Allah memberikan jabatannya kepada Eliakim. (Yes. 22:19-21) Ini terjadi ketika Sanherib raja Asiria berniat untuk menyerang Yerusalem. Belakangan, Sanherib mengutus para pejabatnya ke Yerusalem, bersama pasukannya yang besar, untuk menakut-nakuti orang Yahudi dan membuat Raja Hizkia menyerah. (2 Raj. 18:17-25) Hizkia pun mengutus Eliakim dan dua orang lainnya untuk menemui mereka. Salah satunya adalah Syebna, yang saat itu menjadi sekretaris. Ini menunjukkan bahwa Syebna sepertinya sudah belajar untuk menjadi rendah hati. Dia tidak tersinggung atau mengasihani diri. Sebaliknya, dia rela menerima jabatan yang lebih rendah. Ada tiga hal yang bisa kita pelajari dari contoh Syebna.

9-11. (a) Pelajaran penting apa yang bisa kita pelajari dari contoh Syebna? (b) Apa yang ingin Saudara tiru dari cara Yehuwa memperlakukan Syebna?

9 Pertama, Syebna diturunkan dari jabatannya. Ini mengingatkan kita bahwa ”kesombongan berujung pada kehancuran”. (Ams. 16:18) Jika Saudara punya tugas khusus di sidang dan Saudara dianggap penting, apakah Saudara akan tetap rendah hati? Ingatlah, semua kesanggupan dan keberhasilan kita berasal dari Yehuwa. (1 Kor. 4:7) Rasul Paulus menasihati kita agar ’tidak menilai diri kita lebih tinggi daripada yang sebenarnya, tapi menilai diri kita apa adanya’.​—Rm. 12:3.

10 Kedua, teguran keras yang Yehuwa berikan kepada Syebna menunjukkan bahwa Yehuwa percaya Syebna bisa berubah. (Ams. 3:11, 12) Jika Saudara tidak boleh lagi menjalankan tugas tertentu di sidang, tirulah Syebna.  Jangan marah atau tersinggung. Teruslah layani Yehuwa dengan sepenuh hati, dan pandanglah disiplin itu sebagai bukti bahwa Yehuwa menyayangi Saudara. Ingatlah, Bapak kita memberkati orang yang rendah hati. (Baca 1 Petrus 5:6, 7.) Disiplin yang pengasih dari Yehuwa bisa membentuk kita jika kita mau dibentuk seperti tanah liat yang lunak.

11 Ketiga, cara Yehuwa memperlakukan Syebna adalah contoh yang bagus bagi orang tua dan penatua. Meski Yehuwa membenci dosa, Dia tetap menyayangi orang yang berdosa dan mencari hal-hal baik dari orang itu. Jika Saudara adalah orang tua atau penatua, apakah Saudara meniru cara Yehuwa mendisiplin?​—Yud. 22, 23.

12-14. (a) Apa reaksi beberapa orang yang didisiplin Yehuwa? (b) Bagaimana Firman Allah membantu seorang saudara berubah, dan apa hasilnya?

12 Sayangnya, beberapa orang begitu sakit hati ketika didisiplin, sampai-sampai mereka menjauh dari Allah dan sidang. (Ibr. 3:12, 13) Apakah mereka masih bisa dibantu? Ya! Seorang saudara bernama Graham pernah dipecat, dan belakangan diterima kembali. Tapi setelah itu, dia tidak lagi mengabar atau berhimpun. Meski begitu, seorang penatua berupaya mendekati dia, dan Graham akhirnya meminta untuk belajar Alkitab dengannya.

13 Penatua itu bercerita, ”Dulu, Graham punya sifat sombong. Dia kritis terhadap para penatua yang menangani kasus pemecatannya. Jadi kami beberapa kali membahas ayat-ayat tentang kesombongan dan pengaruhnya. Graham mulai memeriksa diri dengan bantuan Firman Allah, dan dia tahu bahwa dia perlu berubah. Hasilnya luar biasa! Dia sadar bahwa selama ini, sifat sombongnya itu seperti ’balok’ di matanya, yang membuatnya seolah-olah buta. Setelah mengakui bahwa masalahnya adalah sikapnya yang kritis, dia segera berubah. Dia mulai teratur berhimpun, sungguh-sungguh mempelajari Firman Allah, dan berdoa tiap hari. Dia juga menjalankan kewajiban rohaninya sebagai kepala keluarga. Istri dan anak-anaknya pun senang.”​—Luk. 6:41, 42; Yak. 1:23-25.

14 Penatua itu melanjutkan, ”Suatu hari, Graham mengatakan sesuatu yang membuat saya tersentuh. Dia bilang, ’Saya sudah lama mengenal kebenaran, dan saya bahkan pernah merintis. Tapi baru sekarang saya bisa berkata dengan jujur bahwa saya menyayangi Yehuwa.’” Tak lama kemudian, Graham ditugaskan untuk mengedarkan mikrofon di perhimpunan, dan dia senang mendapat tugas itu. Penatua itu berkata, ”Saya belajar dari dia bahwa orang yang menerima disiplin Allah dengan rendah hati akan diberkati!”

TIRULAH ALLAH DAN KRISTUS SAAT MENDISIPLIN

15. Apa yang harus kita lakukan agar disiplin yang kita berikan mudah diterima?

15 Untuk menjadi guru yang baik, kita harus menjadi murid yang baik. (1 Tim. 4:15, 16) Begitu juga, jika Saudara digunakan Yehuwa untuk mendisiplin orang lain, Saudara harus rendah hati dan mau dibimbing Yehuwa. Kalau orang lain melihat bahwa Saudara rendah hati, mereka akan merespek Saudara dan lebih mudah  menerima nasihat Saudara. Mari kita lihat teladan Yesus.

16. Apa yang kita pelajari dari Yesus tentang mendisiplin dan mengajar?

16 Yesus selalu menaati Bapaknya, bahkan saat hal itu sulit dilakukan. (Mat. 26:39) Dia mengakui bahwa ajaran dan hikmatnya berasal dari Bapaknya. (Yoh. 5:19, 30) Karena Yesus rendah hati dan taat, dia menjadi guru yang berbelaskasihan, dan orang yang tulus senang berada di dekatnya. (Baca Matius 11:29.) Kata-kata Yesus yang baik hati bisa menguatkan orang-orang yang kecil hati dan lelah. (Mat. 12:20) Dia tidak menjadi kesal sewaktu para rasulnya bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka. Sebaliknya, dia mengoreksi mereka dengan lembut dan pengasih.​—Mrk. 9:33-37; Luk. 22:24-27.

17. Bagaimana para penatua bisa menggembalakan sidang dengan baik?

17 Para penatua perlu meniru Kristus sewaktu memberikan disiplin berdasarkan Alkitab. Dengan begitu, mereka menunjukkan bahwa mereka mau dibimbing oleh Allah dan Putra-Nya. Rasul Petrus menulis, ”Gembalakan kawanan domba Allah yang dipercayakan kepada kalian. Kalian harus melayani sebagai pengawas, tidak dengan terpaksa, tapi dengan rela di hadapan Allah, dengan bersemangat, bukan demi mencari keuntungan yang tidak jujur, tidak memerintah umat Allah, tapi menjadi teladan bagi kawanan.” (1 Ptr. 5:2-4) Jika para penatua rela tunduk kepada Allah dan Kristus, itu akan bermanfaat bagi mereka dan orang-orang yang mereka gembalakan.​—Yes. 32:1, 2, 17, 18.

18. (a) Tanggung jawab apa yang Yehuwa berikan kepada orang tua? (b) Bagaimana Allah membantu orang tua?

18 Bagaimana dengan disiplin, atau didikan, dalam keluarga? Yehuwa menasihati kepala keluarga, ”Jangan buat anak-anak kalian kesal. Sebaliknya, besarkan mereka dengan didikan dan nasihat Yehuwa.” (Ef. 6:4) Apakah hal ini memang penting? Amsal 19:18 berkata, ”Didiklah anakmu selama masih ada harapan. Jangan sampai kamu bertanggung jawab atas kematiannya.” Ya, Yehuwa akan meminta pertanggungjawaban orang tua jika mereka tidak mendidik anak mereka! (1 Sam. 3:12-14) Tapi, Yehuwa bisa memberikan hikmat dan kekuatan yang dibutuhkan, jika mereka berdoa memintanya serta mengikuti bimbingan Firman dan kuasa kudus-Nya.​—Baca Yakobus 1:5.

BELAJAR UNTUK HIDUP DAMAI SELAMANYA

19, 20. (a) Apa berkatnya jika kita menerima disiplin Allah? (b) Apa yang akan kita bahas di artikel berikutnya?

19 Jika kita mau menerima disiplin Allah dan meniru Yehuwa dan Yesus saat mendisiplin, kita akan mendapat berkat yang limpah! Akan ada kedamaian dalam keluarga dan sidang, dan kita semua akan merasa aman, dihargai, dan disayangi. Di masa depan, kita akan merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang lebih besar lagi. (Mz. 72:7) Dengan memberikan disiplin, Bapak kita Yehuwa mempersiapkan kita untuk hidup selamanya sebagai satu keluarga yang harmonis. (Baca Yesaya 11:9.) Jika kita mengingat hal ini, kita akan memandang disiplin Yehuwa sebagai bukti bahwa Dia sangat menyayangi kita.

20 Di artikel berikutnya, kita akan belajar lebih banyak tentang disiplin dalam keluarga dan sidang. Kita juga akan membahas tentang caranya mendisiplin diri dan tentang satu hal yang lebih menyakitkan daripada mendapat disiplin.