Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Menara Pengawal—Edisi Pelajaran  |  April 2017

Buatlah Yehuwa Senang dengan Merelakan Diri!

Buatlah Yehuwa Senang dengan Merelakan Diri!

”Karena bangsa itu merelakan diri, diagungkanlah Yehuwa.”—HAK. 5:2.

NYANYIAN: 150, 10

1, 2. (a) Menurut Elifaz dan Bildad, apa pandangan Allah terhadap pelayanan kita? (b) Bagaimana sebenarnya pandangan Yehuwa?

RIBUAN TAHUN lalu, ada tiga pria yang berbicara dengan hamba Allah yang setia bernama Ayub. Salah satunya adalah Elifaz, keturunan Teman. Dia bertanya kepada Ayub, ”Dapatkah seorang laki-laki berguna bagi Allah, sehingga seseorang yang memiliki pemahaman berguna baginya? Apakah Yang Mahakuasa merasa senang jika engkau adil-benar, atau mendapat keuntungan jika engkau membuat jalanmu tidak bercela?” (Ayb. 22:1-3) Bagi Elifaz, jawaban atas semua pertanyaan ini adalah tidak. Lalu, pria lainnya yang bernama Bildad, keturunan Syuah, mengatakan bahwa manusia tidak mungkin dianggap benar oleh Allah.—Baca Ayub 25:4.

2 Elifaz dan Bildad ingin agar Ayub merasa bahwa upayanya untuk melayani Yehuwa itu sia-sia. Mereka ingin agar Ayub berpikir bahwa bagi Allah, manusia tidak lebih berharga daripada ngengat, belatung, atau cacing. (Ayb. 4:19; 25:6) Sekilas, kata-kata Elifaz dan Bildad menunjukkan bahwa mereka rendah hati. (Ayb. 22:29) Yehuwa memang hebat, dan jika dibandingkan dengan-Nya, kita tidak ada apa-apanya. Jika kita ada di puncak gunung atau melihat ke bawah dari pesawat, kita bisa merasa bahwa manusia sangat kecil dan tidak berarti. Tapi, apakah itu yang Yehuwa rasakan terhadap pelayanan dan kerja keras kita untuk Kerajaan-Nya? Tidak!  Yehuwa mengatakan kepada Elifaz, Bildad, dan pria ketiga, Zofar, bahwa kata-kata mereka tidak benar. Lalu, Allah berkata bahwa Dia senang kepada Ayub dan menyebutnya ”hambaku”. (Ayb. 42:7, 8) Jadi, yakinlah bahwa manusia yang tidak sempurna bisa ”berguna bagi Allah”.

”APA YANG ENGKAU BERIKAN KEPADANYA”?

3. Apa yang Elihu katakan tentang upaya kita untuk melayani Yehuwa, dan apa maksudnya?

3 Ketika Ayub dan ketiga pria itu bercakap-cakap, seorang pemuda yang bernama Elihu mendengarkan mereka. Ketika mereka selesai berbicara, Elihu bertanya kepada Ayub tentang Yehuwa, ”Jika engkau berada di pihak yang benar, apa yang engkau berikan kepada [Allah], atau apa yang ia terima dari tanganmu?” (Ayb. 35:7) Apakah Elihu juga bermaksud bahwa tindakan kita untuk Allah itu sia-sia? Tidak. Yehuwa mengoreksi tiga pria tadi, tapi tidak mengoreksi Elihu. Makna kata-kata Elihu itu berbeda. Yang dia maksud adalah walaupun kita menyembah Yehuwa, itu bukan berarti Dia bergantung kepada kita. Yehuwa punya segala sesuatu. Tidak ada yang bisa kita lakukan yang bisa membuat-Nya menjadi lebih kaya atau lebih kuat. Malah, semua hal baik atau bakat yang kita miliki berasal dari Allah. Meski begitu, Dia ingin melihat cara kita menggunakannya.

4. Bagaimana perasaan Yehuwa jika kita berbuat baik kepada orang lain?

4 Jika kita berbuat baik kepada hamba Yehuwa lainnya, Dia akan menganggap bahwa kita melakukan itu untuk-Nya. Amsal 19:17 mengatakan, ”Ia yang mengasihani orang kecil memberikan pinjaman kepada Yehuwa, dan perlakuannya akan dibalaskan kepadanya oleh Dia.” Yehuwa sebenarnya melihat setiap kali kita berbelaskasihan kepada orang lain. Dan walaupun Dia adalah Pencipta alam semesta, Dia mau menganggap tindakan kita itu sebagai pinjaman kepada-Nya yang akan Dia bayar dengan banyak hal yang luar biasa. Yesus, putra Allah, juga menegaskan hal ini.—Baca Lukas 14:13, 14.

5. Pertanyaan apa yang akan kita bahas?

5 Dulu, Yehuwa mengundang Nabi Yesaya untuk menjadi wakil-Nya dan melayani-Nya dengan cara yang istimewa. (Yes. 6:8-10) Yesaya rela menerima undangan ini dan berkata, ”Ini aku! Utuslah aku.” Sekarang, Yehuwa juga mengundang manusia yang beriman kepada-Nya untuk ikut bekerja bagi-Nya. Ada banyak hamba Yehuwa yang menunjukkan semangat yang sama seperti Yesaya. Mereka rela melayani Yehuwa dengan berbagai cara dan di berbagai tempat, meski harus menghadapi berbagai kesulitan. Tapi, mungkin ada yang berpikir, ’Kesempatan untuk merelakan diri bagi Yehuwa memang suatu hak istimewa. Tapi, apakah yang saya lakukan ini memang ada gunanya? Bukankah tanpa bantuan saya pun, kehendak Yehuwa tetap akan terjadi?’ Apakah Saudara pernah berpikir seperti itu? Untuk menjawab semua pertanyaan tadi, mari kita bahas beberapa kejadian dalam kehidupan dua hamba Yehuwa di masa lalu, yaitu Debora dan Barak.

ALLAH MENGUBAH RASA TAKUT MENJADI KEBERANIAN

6. Mengapa kelihatannya pasukan Yabin bisa dengan mudah menumpas orang Israel?

6 Barak adalah seorang prajurit Israel, dan Debora adalah seorang nabiah. Pada waktu itu, bangsa Israel sudah 20 tahun ’ditindas dengan bengis’ oleh Yabin, raja Kanaan. Pasukannya sangat kejam dan bengis. Ini membuat bangsa Israel yang tinggal di desa-desa takut keluar rumah. Yabin mempunyai 900 kereta kuda bersabit besi, sedangkan bangsa Israel tidak punya perlengkapan yang cocok untuk berperang.—Hak. 4:1-3, 13; 5:6-8. *

7, 8. (a) Apa yang pertama-tama Yehuwa perintahkan kepada Barak? (b) Bagaimana orang Israel bisa sampai mengalahkan pasukan Yabin? (Lihat gambar di awal artikel.)

 7 Meski begitu, Yehuwa memerintahkan Barak melalui Nabiah Debora, ”Pergi dan menyebarlah di Gunung Tabor, dan bawalah sertamu sepuluh ribu orang dari antara putra-putra Naftali dan dari antara putra-putra Zebulon. Dan aku pasti akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dan kereta-kereta perangnya dan orang-orangnya kepadamu di Wadi Kisyon, dan aku akan menyerahkan dia ke tanganmu.”—Hak. 4:4-7.

8 Maka, dimulailah pencarian untuk orang-orang yang mau merelakan diri. Akhirnya, terkumpullah 10.000 orang di Gunung Tabor. Lalu, Barak dan pasukannya berperang dengan pasukan musuh di Taanakh. (Baca Hakim-Hakim 4:14-16.) Apakah Yehuwa membantu orang Israel? Ya. Tiba-tiba, terjadilah hujan lebat sehingga medan perang yang tadinya kering menjadi berlumpur. Hal ini menguntungkan orang Israel. Barak akhirnya mengejar pasukan Sisera sejauh 24 kilometer sampai ke Harosyet. Sewaktu melarikan diri, kereta kuda Sisera terjebak dalam lumpur. Jadi, dia turun dari kereta kuda dan lari ke Zaananim, mungkin dekat Kedes. Di sana, Sisera bersembunyi di sebuah tenda milik Yael. Sisera sangat lelah, lalu tertidur nyenyak. Saat dia sedang tidur, Yael dengan berani membunuhnya. (Hak. 4:17-21) Yehuwa membuat orang Israel menang atas musuh-musuh mereka! *

CARA BERPIKIR YANG SANGAT BERBEDA

9. Apa yang kita pelajari dari Hakim-Hakim 5:20, 21 tentang peperangan melawan Sisera?

9 Kita bisa tahu lebih banyak tentang kejadian di Hakim-Hakim pasal 4 dengan membaca pasal selanjutnya. Hakim-Hakim 5:20, 21 berkata, ”Dari langit bintang-bintang berperang, dari orbitnya mereka berperang melawan Sisera. Aliran deras Kisyon menghanyutkan mereka.” Apakah ini berarti bahwa orang Israel dibantu malaikat? Atau, apakah itu berarti ada hujan meteor? Alkitab tidak menjelaskannya. Tapi, sepertinya masuk akal untuk berpikir bahwa Yehuwa menyelamatkan umat-Nya dengan membuat hujan yang sangat lebat di tempat itu dan pada saat yang tepat. Ini membuat 900 kereta kuda Sisera tidak bisa bergerak bebas. Di Hakim-Hakim 4:14, 15, kita membaca bahwa Yehuwa disebutkan tiga kali sebagai penyebab kemenangan bangsa Israel. Jadi, tidak ada dari 10.000 orang yang merelakan diri itu yang bisa menyombongkan diri mereka.

10, 11. Apa Meroz itu, dan mengapa itu dikutuk?

10 Nah, mari kita bahas hal yang sangat menarik. Setelah orang Israel menang, Debora dan Barak menyanyikan pujian kepada Yehuwa. Mereka bernyanyi, ”’Kutukilah Meroz,’ kata malaikat Yehuwa, ’Kutukilah penduduknya tanpa henti, karena mereka tidak datang membantu Yehuwa, membantu Yehuwa bersama orang-orang perkasa.’”—Hak. 5:23.

11 Apa sebenarnya Meroz itu? Kita tidak tahu pasti karena kutukan atas Meroz ini menjadi kenyataan sampai-sampai tidak ada lagi informasi apa pun soal Meroz. Bisa jadi, Meroz adalah kota yang penduduknya tidak merelakan diri untuk berperang. Saat Barak mencari sukarelawan, ada 10.000 orang yang merelakan diri untuk berperang melawan orang Kanaan. Jadi, penduduk Meroz pasti tahu soal pencarian ini. Kemungkinan lainnya, Meroz adalah kota yang dilewati Sisera sewaktu dia melarikan diri dari Barak. Jadi, orang-orang Meroz bisa saja menangkap Sisera, tapi mereka tidak melakukannya. Bisa jadi, mereka melihat prajurit yang jahat ini lari melewati jalan-jalan di kota mereka! Mereka sebenarnya bisa melakukan sesuatu untuk mendukung Yehuwa yang bisa membuat mereka diberkati. Tapi, sewaktu ada kesempatan  untuk mendukung Yehuwa, mereka diam saja. Ini sangat berbeda dengan tindakan Yael yang berani.—Hak. 5:24-27.

12. Perbedaan apa yang ditunjukkan orang-orang yang ada di Hakim-Hakim 5:9, 10, dan bagaimana ini hendaknya memengaruhi kita?

12 Di Hakim-Hakim 5:9, 10, kita belajar bahwa 10.000 orang yang merelakan diri punya cara berpikir yang sangat berbeda dengan yang tidak merelakan diri. Debora dan Barak memuji ”para komandan Israel, yang menjadi sukarelawan di antara bangsa itu”. Ini sangat berbeda dengan ”para penunggang keledai betina yang merah kekuning-kuningan” yang memandang rendah pekerjaan untuk menjadi sukarelawan. Mereka ”duduk di atas permadani yang mewah” dan ”berjalan di jalan”, yang artinya menikmati kehidupan yang nyaman. Ini berbeda dengan para sukarelawan yang rela berperang bersama Barak di lereng berbatu di Tabor dan di lembah berawa di Kisyon. Orang-orang yang ingin hidup nyaman diperintahkan untuk: ”Pikirkanlah!” Mereka perlu memikirkan tentang kesempatan yang terlewatkan karena tidak merelakan diri untuk Yehuwa. Kita pun perlu memikirkan apakah kita menahan diri untuk bekerja bagi Yehuwa.

13. Apa perbedaan antara suku Ruben, Dan, serta Asyer dengan suku Zebulon dan Naftali?

13 Ke-10.000 sukarelawan bisa melihat sendiri tindakan Yehuwa sebagai Penguasa Tertinggi. Mereka bisa menceritakan pengalaman itu kepada orang lain saat berbicara tentang ”tindakan-tindakan yang adil-benar dari Yehuwa”. (Hak. 5:11) Sebaliknya, suku Ruben, Dan, serta Asyer lebih memikirkan kekayaan mereka, seperti ternak, kapal, dan pelabuhan mereka, daripada memikirkan Yehuwa. (Hak. 5:15-17) Tapi tidak semua suku seperti itu. Suku Zebulon dan Naftali bahkan rela mati demi mendukung Debora dan Barak. (Hak. 5:18) Ada pelajaran penting dari cara berpikir yang sangat berbeda ini.

”DIAGUNGKANLAH YEHUWA”

14. Bagaimana kita bisa menunjukkan bahwa kita mendukung pemerintahan Yehuwa?

14 Sekarang, kita tidak berperang lagi untuk mendukung pemerintahan Yehuwa. Kita menunjukkan dukungan kita dengan bersemangat dan berani memberitakan kabar baik. Sekaranglah saatnya sukarelawan  sangat dibutuhkan dalam organisasi Yehuwa. Jutaan saudara-saudari dan anak-anak muda merelakan diri untuk melakukan berbagai dinas sepenuh waktu. Misalnya, banyak yang merintis, bekerja di Betel, dan membangun Balai Kerajaan. Ada juga yang menjadi sukarelawan di kebaktian. Beberapa penatua juga bekerja keras sebagai Panitia Penghubung Rumah Sakit dan mengorganisasi kebaktian. Kita bisa yakin bahwa Yehuwa menghargai kerelaan kita untuk melayani-Nya dengan cara apa pun dan bahwa Dia tidak akan melupakan perbuatan kita.—Ibr. 6:10.

Sebelum membuat keputusan, pikirkan pengaruhnya atas keluarga dan sidang Saudara (Lihat paragraf 15)

15. Apa yang bisa kita lakukan agar kita tidak kehilangan semangat untuk bekerja bagi Yehuwa?

15 Kita juga perlu memikirkan apakah kita memang suka merelakan diri. Kita bisa merenungkan, ’Apakah saya membiarkan orang lain selalu lebih banyak bekerja daripada saya? Apakah saya lebih mementingkan hal-hal materi daripada melayani Yehuwa? Atau, apakah saya meniru iman dan keberanian Barak, Debora, Yael, dan ke-10.000 sukarelawan dengan menggunakan segala sesuatu yang saya miliki untuk melayani Yehuwa? Apakah saya memikirkan untuk pindah ke kota atau negeri lain agar saya bisa mendapatkan lebih banyak uang dan hidup lebih nyaman? Apakah saya sudah mempertimbangkan pengaruhnya terhadap keluarga dan sidang saya dan mendoakan hal ini?’ *

16. Walaupun Yehuwa mempunyai segala sesuatu, apa yang bisa kita berikan kepada-Nya?

16 Yehuwa memberi kita kesempatan yang luar biasa untuk mendukung pemerintahan-Nya. Sejak zaman Adam dan Hawa, Iblis ingin agar manusia mendukungnya dan bukan Yehuwa. Jadi, dengan mendukung Yehuwa, kita jelas-jelas menunjukkan kepada Setan pilihan kita. Kita tergerak untuk merelakan diri bagi Yehuwa karena iman dan kesetiaan kita. Ini membuat Yehuwa sangat senang. (Ams. 23:15, 16) Allah bisa menggunakan dukungan dan kesetiaan kita untuk menjawab ejekan Setan. (Ams. 27:11) Jadi, yang bisa kita berikan kepada Yehuwa adalah ketaatan kita. Dan, itu sangat berharga bagi-Nya dan membuat Dia sangat bahagia.

17. Apa yang kita pelajari dari Hakim-Hakim 5:31 tentang masa depan?

17 Bumi akan segera dipenuhi dengan orang-orang yang mendukung pemerintahan Yehuwa. Ini pasti sangat kita nantikan. Perasaan kita sama seperti Debora dan Barak yang bernyanyi, ”Biarlah semua musuhmu lenyap, oh, Yehuwa, dan biarlah orang-orang yang mengasihi engkau menjadi seperti pada waktu matahari terbit dalam keperkasaannya.” (Hak. 5:31) Itu akan terjadi saat Yehuwa mengakhiri dunia Setan yang jahat. Ketika perang Armagedon dimulai, Yehuwa tidak membutuhkan sukarelawan dari umat manusia untuk membinasakan musuh. Kita hanya perlu ’tetap berdiri’ dan ’melihat keselamatan dari Yehuwa’. (2 Taw. 20:17) Sebelum itu terjadi, kita punya kesempatan yang luar biasa untuk mendukung pemerintahan Yehuwa dengan berani dan bersemangat.

18. Apa manfaat kerelaan Saudara untuk melayani Yehuwa bagi orang lain?

18 Debora dan Barak memulai nyanyian kemenangan mereka dengan memuji Yehuwa, bukan manusia. Mereka bernyanyi, ”Karena bangsa itu merelakan diri, diagungkanlah Yehuwa.” (Hak. 5:1, 2) Demikian pula, jika kita melayani Yehuwa dengan cara apa pun yang dibutuhkan, orang-orang lain juga akan ikut bersemangat untuk memuji Yehuwa.

^ par. 6 Sabit adalah pisau yang panjang, tajam, dan kadang melengkung. Sabit ini dipasang pada kereta kuda, mungkin pada poros rodanya, sehingga menjadi mesin penghancur yang mematikan.

^ par. 8 Keseluruhan kisah yang menegangkan ini ada di Menara Pengawal 1 Agustus 2015, hlm. 12-15.

^ par. 15 Baca artikel ”Khawatir Soal Uang” di Menara Pengawal 1 Juli 2015.