Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Menara Pengawal—Edisi Pelajaran  |  April 2017

”Apa yang Engkau Ikrarkan, Bayarlah”

”Apa yang Engkau Ikrarkan, Bayarlah”

”Engkau harus membayar ikrarmu kepada Yehuwa.”​—MAT. 5:33.

NYANYIAN: 63, 59

1. (a) Apa persamaan antara Yefta dan Hana? (Lihat gambar di awal artikel.) (b) Pertanyaan apa yang akan kita jawab?

YEFTA adalah seorang pemimpin yang berani dan pejuang yang perkasa. Hana adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana. Mereka berdua adalah penyembah Yehuwa. Tapi, mereka punya persamaan lain. Yefta dan Hana sama-sama membuat ikrar kepada Yehuwa dan memenuhinya. Mereka menjadi contoh yang bagus bagi pria dan wanita yang memilih untuk membuat ikrar kepada Yehuwa. Sekarang, mari kita cari tahu jawaban atas tiga pertanyaan berikut: Apa ikrar itu? Seberapa serius ikrar yang dibuat kepada Allah? Apa yang bisa kita pelajari dari Yefta dan Hana?

2, 3. (a) Apa ikrar itu? (b) Apa yang Alkitab katakan tentang berikrar kepada Allah?

2 Dalam Alkitab, ikrar adalah janji yang serius kepada Allah. Misalnya, seseorang bisa berjanji kepada Yehuwa untuk melakukan atau memberikan sesuatu, mengambil suatu jenis dinas, atau menghindari hal tertentu. Ikrar adalah pilihan dan bukan kewajiban. Tapi, jika seseorang memilih untuk berikrar, Yehuwa menganggap serius ikrar itu sehingga itu harus dihormati dan dipenuhi. Dalam Alkitab, ikrar sama pentingnya dengan sumpah. Saat seseorang bersumpah, dia benar-benar berjanji untuk melakukan atau menghindari sesuatu. (Kej. 14:22, 23; Ibr. 6:16, 17) Menurut Alkitab, bagaimana seharusnya kita memandang ikrar kepada Allah?

3 Menurut Hukum Musa, jika seseorang berikrar kepada  Yehuwa, ”ia tidak boleh melanggar perkataannya. Ia harus melakukannya sesuai dengan semua yang telah keluar dari mulutnya”. (Bil. 30:2) Lalu, Salomo menulis, ”Apabila engkau mengucapkan suatu ikrar kepada Allah, jangan ragu-ragu membayarnya, karena ia tidak senang kepada orang-orang bebal. Apa yang engkau ikrarkan, bayarlah.” (Pkh. 5:4) Yesus juga mengajar bahwa ikrar kepada Allah itu serius. Dia berkata, ”Telah dikatakan kepada mereka yang hidup di zaman purba, ’Jangan bersumpah tanpa melaksanakannya, tetapi engkau harus membayar ikrarmu kepada Yehuwa.’”—Mat. 5:33.

4. (a) Seberapa serius ikrar yang dibuat kepada Allah? (b) Apa yang akan kita pelajari dari Yefta dan Hana?

4 Janji apa pun yang kita buat kepada Yehuwa harus dipandang sangat serius. Ini akan memengaruhi hubungan kita dengan-Nya. Daud memperjelas hal itu dengan menulis, ”Siapakah yang boleh naik ke gunung Yehuwa, dan siapakah yang boleh berdiri di tempatnya yang kudus? Siapa pun yang . . . tidak mengangkat sumpah dengan tipu daya.” (Mz. 24:3, 4) Sekarang, kita akan mempelajari ikrar Yefta dan Hana serta perjuangan mereka untuk memenuhi ikrar tersebut.

MEREKA MEMENUHI IKRAR MEREKA KEPADA ALLAH

5. Apa ikrar Yefta, dan apa hasilnya?

5 Yefta berjanji kepada Yehuwa sebelum berperang melawan orang Ammon. Bangsa itu adalah musuh umat Allah. (Hak. 10:7-9) Yefta memohon kemenangan dari Yehuwa, dan dia berikrar, ”Jika engkau sungguh-sungguh memberikan putra-putra Ammon ke tanganku, pastilah terjadi bahwa orang yang keluar dari pintu-pintu rumahku, yang keluar untuk menemuiku pada waktu aku kembali dengan damai dari putra-putra Ammon, akan menjadi milik Yehuwa.” Allah menjawab doa Yefta dan membuatnya menang. Saat Yefta pulang, putrinya yang tersayang keluar menyambutnya. Dialah yang akan ”menjadi milik Yehuwa”. (Hak. 11:30-34) Kehidupan putri Yefta akan segera berubah.

6. (a) Apakah mudah bagi Yefta dan putrinya untuk memenuhi ikrar kepada Yehuwa? Jelaskan. (b) Apa yang kita pelajari tentang ikrar dari Ulangan 23:21, 23 dan Mazmur 15:4?

6 Untuk memenuhi ikrar ayahnya, putri Yefta harus meninggalkan rumah dan tinggal di tabernakel untuk melayani Yehuwa. Apakah Yefta terlalu terburu-buru saat membuat janji itu? Tidak. Malah, Yefta mungkin sudah memikirkan bahwa orang pertama yang menyambutnya bisa jadi adalah putrinya. Meski begitu, memenuhi ikrarnya kepada Yehuwa pastilah tidak mudah untuk Yefta ataupun putrinya. Ketika Yefta melihat putrinya, hatinya pun hancur. Tak lama kemudian, putrinya pergi untuk ’menangisi keperawanannya’. Mengapa? Yefta tidak punya putra, dan sekarang putri satu-satunya tidak akan menikah. Silsilah keluarga Yefta akan berakhir. Tapi, Yefta dan putrinya tahu bahwa perasaan mereka bukan yang terpenting. Yefta berkata, ”Aku telah membuka mulutku kepada Yehuwa, dan aku tidak dapat menariknya kembali.” Lalu putrinya berkata, ”Lakukanlah kepadaku menurut apa yang telah keluar dari mulutmu.” (Hak. 11:35-39) Yefta dan putrinya adalah orang-orang yang setia. Mereka tidak akan terpikir untuk melanggar ikrar mereka kepada Yehuwa, walaupun itu sangat sulit dipenuhi.—Baca Ulangan 23:21, 23; Mazmur 15:4.

7. (a) Apa ikrar Hana? (b) Mengapa dia membuat ikrar itu, dan apa hasilnya? (c) Apa pengaruh ikrar Hana atas Samuel? (Lihat catatan kaki.)

7 Hana juga berikrar kepada Yehuwa saat hidupnya sedang susah. Dia sangat sengsara karena tidak bisa punya anak. Ini membuatnya ditindas dan dihina. (1 Sam. 1:4-7, 10, 16) Dia mencurahkan perasaannya kepada Yehuwa  dan berjanji, ”Oh, Yehuwa yang berbala tentara, jika engkau sungguh-sungguh mau melihat penderitaan budak perempuanmu ini dan mengingatku, dan tidak melupakan budakmu ini dan memberi budakmu ini seorang anak laki-laki, aku akan memberikan dia kepada Yehuwa sepanjang hari-hari kehidupannya, dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” * (1 Sam. 1:11) Yehuwa mendengar doa Hana. Pada tahun berikutnya, dia melahirkan seorang putra yang dinamai Samuel. Hana senang sekali! Tapi, dia tidak melupakan ikrarnya kepada Allah. Saat putranya lahir, dia berkata, ”Dari Yehuwa-lah aku telah memintanya.”—1 Sam. 1:20.

8. (a) Apakah memang mudah bagi Hana untuk memenuhi ikrarnya? (b) Bagaimana Mazmur 61 mengingatkan Saudara tentang Hana?

8 Sewaktu Samuel berusia sekitar 3 tahun, Hana memenuhi janjinya kepada Yehuwa. Dia membawa Samuel kepada Imam Besar Eli di tabernakel di Syilo. Dia berkata, ”Sehubungan dengan anak inilah aku berdoa agar Yehuwa mengabulkan permintaanku yang sungguh-sungguh yang kuajukan kepadanya. Maka aku pun meminjamkan dia kepada Yehuwa. Sepanjang umur hidupnya, dia adalah orang yang diminta untuk diserahkan kepada Yehuwa.” (1 Sam. 1:24-28) Sejak saat itu, Samuel tinggal di tabernakel. Alkitab berkata bahwa ”Samuel, anak laki-laki itu, terus bertambah besar seraya Yehuwa menyertainya”. (1 Sam. 2:21) Memenuhi ikrar ini pasti tidak mudah bagi Hana. Dia akan jarang bertemu dengan anaknya yang sangat dia sayangi. Dia tidak bisa melihat masa kecilnya. Hana pasti ingin menggendong, bermain, dan membesarkan anaknya. Tapi, Hana menganggap serius ikrarnya kepada Yehuwa. Dia rela mengorbankan hal-hal yang penting demi memenuhi janjinya kepada Allah.—1 Sam. 2:1, 2; baca Mazmur 61:1, 5, 8.

Apakah Saudara membayar ikrar Saudara kepada Yehuwa?

9. Apa yang akan kita bahas sekarang?

9 Kita sudah membahas bahwa ikrar kepada Yehuwa sangatlah penting. Sekarang, mari kita jawab dua pertanyaan ini: Ikrar apa saja yang bisa kita buat? Seberapa serius kita perlu memenuhi ikrar-ikrar ini?

IKRAR PEMBAKTIAN SAUDARA

Ikrar pembaktian (Lihat paragraf 10)

10. Ikrar terpenting apa yang bisa dibuat seorang Kristen? Apa arti ikrar itu?

10 Ikrar terpenting bagi seorang Kristen adalah ikrar yang dia buat sewaktu membaktikan kehidupannya kepada Yehuwa melalui doa. Dalam doanya, dia berjanji bahwa apa pun yang terjadi, dia akan menggunakan kehidupannya untuk melayani Yehuwa selamanya. Yesus berkata bahwa kita ”menyangkal” diri kita sendiri. Ini berarti kita mengutamakan kepentingan Yehuwa, bukan diri sendiri. (Mat. 16:24) Sejak saat itu, ”kita adalah milik Yehuwa”. (Rm. 14:8) Kita akan memandang serius pembaktian kita dan merasa seperti pemazmur yang berkata, ”Apa balasanku kepada Yehuwa atas segala hal baik yang diberikannya kepadaku? Ikrarku akan kubayar kepada Yehuwa, ya, di depan seluruh umatnya.”—Mz. 116:12, 14.

11. Apa yang Saudara tunjukkan kepada orang-orang ketika Saudara dibaptis?

11 Apakah Saudara sudah membaktikan kehidupan Saudara kepada Yehuwa dan menunjukkannya dengan baptisan air? Jika ya, itu bagus sekali! Ingatkah Saudara ketika sang pengkhotbah bertanya apakah Saudara telah membaktikan diri kepada Yehuwa dan mengerti bahwa ”dengan membaktikan diri dan dibaptis, Saudara akan dikenal sebagai Saksi-Saksi Yehuwa”? Ketika Saudara menjawab ”Ya”, semua yang hadir tahu bahwa Saudara sudah membaktikan diri dan memenuhi syarat untuk dibaptis sebagai pelayan  terlantik dari Allah Yehuwa. Yehuwa pasti senang sekali melihat keputusan Saudara!

12. (a) Pertanyaan apa saja yang perlu selalu kita pikirkan? (b) Petrus menasihati kita untuk menambah apa saja?

12 Saat dibaptis, Saudara berjanji kepada Yehuwa untuk hidup demi Dia dan melakukan apa pun demi mengikuti perintah-Nya. Tapi, baptisan barulah langkah awal. Setelah itu, kita semua perlu terus memeriksa diri. Kita bisa memikirkan, ’Apakah saya sudah lebih dekat dengan Yehuwa sejak saya dibaptis? Apakah saya masih melayani-Nya dengan sepenuh hati? (Kol. 3:23) Apakah saya rajin berdoa? Apakah saya membaca Alkitab setiap hari? Apakah saya berhimpun dengan teratur? Apakah saya berdinas sesering mungkin? Atau, apakah saya tidak bersemangat lagi melakukan hal-hal ini?’ Petrus mengingatkan kita bahwa kita bisa menjadi tidak aktif dalam melayani Yehuwa. Ini perlu kita hindari dengan berupaya keras untuk terus menambah iman, pengetahuan, ketekunan, dan pengabdian kepada Allah.—Baca 2 Petrus 1:5-8.

13. Apa yang harus diingat oleh seorang Kristen yang sudah membaktikan diri dan dibaptis?

13 Setelah kita berikrar untuk melayani Yehuwa, ikrar itu tidak bisa ditarik lagi. Jika seseorang merasa tidak sanggup lagi melayani  Yehuwa atau hidup sebagai orang Kristen, dia tidak bisa beralasan bahwa dia sebenarnya tidak pernah membaktikan diri kepada Allah dan bahwa baptisannya tidak sah. * Jika seseorang yang sudah membaktikan diri kepada Yehuwa melakukan dosa serius, dia perlu bertanggung jawab kepada Yehuwa dan sidang. (Rm. 14:12) Yesus berkata bahwa ada yang ’meninggalkan kasih mereka yang mula-mula’. Kita tidak mau menjadi orang yang seperti itu. Sebaliknya, kita ingin agar Yesus berkata kepada kita, ”Aku tahu perbuatanmu, kasih, iman, pelayanan, dan ketekunanmu, dan bahwa perbuatanmu yang belakangan lebih banyak daripada yang sebelumnya.” (Pny. 2:4, 19) Kita mau membuat Yehuwa senang dengan tetap bersemangat menjalani ikrar pembaktian kita.

IKRAR PERKAWINAN SAUDARA

Ikrar perkawinan (Lihat paragraf 14)

14. Apa ikrar terpenting kedua yang bisa dibuat seseorang, dan mengapa?

14 Ikrar terpenting kedua yang bisa dibuat seseorang adalah ikrar perkawinan. Perkawinan itu suci. Ikrar perkawinan adalah sesuatu yang sangat serius bagi Yehuwa. Ketika mempelai pria dan wanita mengucapkan ikrar, mereka sebenarnya membuat janji di hadapan Yehuwa dan di hadapan orang-orang yang hadir. Mereka biasanya berjanji untuk saling mencintai, menyayangi, dan menghormati ”selama [mereka] berdua hidup bersama di bumi sesuai dengan pengaturan Allah untuk perkawinan”. Dalam pernikahan lainnya, kata-kata yang diucapkan mungkin tidak persis sama, tapi kedua mempelai tetap berikrar kepada Allah. Setelah berikrar, mereka menjadi suami dan istri. Allah ingin agar perkawinan bertahan seumur hidup. (Kej. 2:24; 1 Kor. 7:39) Yesus berkata, ”Apa yang telah Allah letakkan di bawah satu kuk hendaknya tidak dipisahkan manusia.” Pasangan yang akan menikah tidak boleh berpikir bahwa jika perkawinan mereka tidak bahagia, mereka tinggal bercerai saja.—Mrk. 10:9.

15. Mengapa orang Kristen tidak boleh memandang perkawinan seperti orang-orang lain?

15 Memang, tidak ada perkawinan yang sempurna karena tidak ada manusia yang sempurna. Itulah alasannya Alkitab mengatakan bahwa setiap orang yang menikah kadang ”akan mengalami kesengsaraan”. (1 Kor. 7:28) Sekarang, banyak orang tidak menganggap serius perkawinan. Mereka berpikir bahwa jika perkawinan mereka tidak bahagia, mereka tinggal mengakhirinya. Tapi, pria dan wanita Kristen tidak berpikir seperti itu. Mereka tahu bahwa mereka membuat ikrar perkawinan di hadapan Allah. Jika ikrar itu mereka langgar, itu sama seperti berbohong kepada Allah, dan Allah membenci pembohong. (Im. 19:12; Ams. 6:16-19) Orang Kristen yang sudah menikah perlu mengingat kata-kata Rasul Paulus, ”Apakah engkau terikat kepada seorang istri? Berhentilah mencari kelepasan.” (1 Kor. 7:27) Paulus mengatakan hal itu karena dia tahu bahwa Yehuwa juga membenci suatu perceraian yang sudah direncanakan dengan licik.—Mal. 2:13-16.

16. Apa yang Alkitab katakan tentang perceraian dan perpisahan?

16 Yesus mengajarkan bahwa satu-satunya dasar Alkitab untuk bercerai adalah jika salah satu pasangan melakukan percabulan dan pasangan yang dirugikan memilih untuk tidak mengampuninya. (Mat. 19:9; Ibr. 13:4) Bagaimana jika seseorang berpisah dari pasangannya? Alkitab mencatat tentang hal itu. (Baca 1 Korintus 7:10, 11.) Memang, Alkitab tidak menyebutkan alasan apa saja yang membuat seseorang boleh berpisah. Tapi, ada saatnya seorang Kristen mungkin berpikir bahwa dia benar-benar perlu  berpisah dari pasangannya. Misalnya, ada yang merasa bahwa kehidupannya atau hubungannya dengan Yehuwa sangat terancam jika dia tetap hidup bersama dengan pasangan yang kejam atau murtad. *

17. Apa yang bisa dilakukan pasangan Kristen agar perkawinan mereka langgeng?

17 Jika sepasang suami istri meminta nasihat dari penatua agar perkawinan mereka lebih bahagia, para penatua bisa bertanya apakah mereka sudah menonton video Apa Itu Cinta Sejati? dan mempelajari brosur Keluarga Anda Bisa Bahagia. Dua bahan ini membahas prinsip Alkitab yang bisa memperkuat perkawinan. Satu pasangan berkata, ”Sejak kami mulai mempelajari brosur itu, perkawinan kami jadi lebih bahagia.” Seorang saudari yang sudah menikah selama 22 tahun sempat berpikir bahwa perkawinannya akan berakhir. Lalu, dia menonton video itu. Dia berkata, ”Kami berdua memang sudah dibaptis, tapi sifat kami sangat berbeda. Jadi, video ini sangat cocok! Perkawinan kami jadi jauh lebih baik.” Jelaslah, jika suami istri menerapkan prinsip Yehuwa dalam perkawinan, hubungan mereka akan lebih bahagia dan kuat.

IKRAR PELAYAN SEPENUH-WAKTU KHUSUS

18, 19. (a) Apa yang telah dilakukan oleh banyak orang tua Kristen? (b) Ikrar apa yang dibuat oleh para pelayan sepenuh-waktu khusus, dan bagaimana mereka memenuhi ikrar itu?

18 Di awal artikel, kita telah membahas ikrar Yefta dan Hana. Karena ikrar yang mereka buat, putri Yefta dan putra Hana membaktikan seluruh kehidupan mereka kepada Yehuwa dengan cara yang istimewa. Demikian pula, banyak orang tua Kristen memotivasi anak-anak mereka untuk memulai dinas sepenuh waktu dan berfokus melayani Yehuwa. Kita semua juga bisa memotivasi anak-anak muda yang sudah memulai dinas sepenuh waktu untuk terus bersemangat dalam dinas.—Hak. 11:40; Mz. 110:3.

Ikrar dinas sepenuh-waktu khusus (Lihat paragraf 19)

19 Sekarang, ada sekitar 67.000 anggota Ordo Pelayan Sepenuh-Waktu Khusus Saksi-Saksi Yehuwa Sedunia. Ada yang bekerja di Betel, menjadi sukarelawan konstruksi, melakukan pekerjaan keliling, atau mengawasi perawatan dan penggunaan Balai Kebaktian atau fasilitas sekolah Alkitab. Ada juga yang bekerja keras sebagai perintis istimewa, utusan injil, atau instruktur lapangan. * Mereka semua telah membuat ”Ikrar Ketaatan dan Kesahajaan”. Dalam ikrar ini, mereka berjanji untuk bekerja keras, mengerjakan tugas apa pun dari organisasi Yehuwa, hidup sederhana, dan tidak bekerja duniawi kecuali diizinkan. Yang khusus, atau istimewa, bukanlah orang-orang itu, tapi tugas yang mereka kerjakan. Mereka rendah hati dan bertekad untuk memenuhi ikrar mereka selama berada dalam dinas sepenuh-waktu khusus.

20. Bagaimana seharusnya kita memandang ikrar kita kepada Allah, dan mengapa?

20 Dalam artikel ini, kita telah membahas tiga ikrar yang bisa kita buat kepada Allah. Saudara mungkin sudah membuat beberapa ikrar ini. Dan, kita tahu bahwa ikrar ini adalah sesuatu yang serius. Jadi, kita perlu melakukan segala sesuatu untuk memenuhinya. (Ams. 20:25) Jika kita tidak memenuhi ikrar kita kepada Yehuwa, akibatnya bisa sangat buruk. (Pkh. 5:6) Jadi, mari kita tiru sang pemazmur yang berkata kepada Yehuwa, ”Aku akan melantunkan melodi bagi namamu selama-lamanya, agar aku dapat membayar ikrarku dari hari ke hari.”—Mz. 61:8.

^ par. 7 Hana berjanji kepada Yehuwa bahwa jika dia mendapat seorang putra, anak itu akan menjadi seorang Nazir seumur hidupnya. Ini berarti bahwa anaknya akan dikhususkan untuk melayani Yehuwa.—Bil. 6:2, 5, 8.

^ par. 13 Para penatua sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum menyatakan bahwa seseorang memenuhi syarat untuk dibaptis. Jadi, sangat jarang baptisan seseorang dinyatakan tidak sah.

^ par. 16 Lihat artikel ”Pandangan Alkitab tentang Perceraian dan Perpisahan” yang ada di Apendiks pada buku ”Tetaplah Berada dalam Kasih Allah”.

^ par. 19 Instruktur lapangan adalah saudara-saudara yang mengajar di Sekolah bagi Penginjil Kerajaan, Sekolah bagi Penatua Sidang, atau Sekolah bagi Pengawas Wilayah dan Istri. Biasanya, mereka mengajar di Balai Kebaktian, Balai Kerajaan, atau fasilitas sekolah.