Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Menara Pengawal  |  No. 6 2017

 TOPIK UTAMA | APA HADIAH YANG TERBAIK?

Upaya Mencari Hadiah Terbaik

Upaya Mencari Hadiah Terbaik

Menemukan hadiah yang terbaik untuk seseorang memang tidak mudah. Itu bergantung pada orang yang menerimanya. Apa yang dia anggap hadiah terbaik mungkin tidak sama dengan anggapan orang lain.

Misalnya, bagi seorang remaja, mungkin alat elektronik terbaru adalah hadiah terbaik. Tapi, orang dewasa mungkin lebih menghargai hadiah yang bisa memberikan kenangan manis, seperti barang yang dia warisi dari orang tuanya. Di beberapa kebudayaan, hadiah yang disukai orang muda dan tua adalah uang, karena itu bisa digunakan untuk apa pun.

Meski sulit, banyak orang terus berupaya mencari hadiah yang paling cocok untuk orang yang mereka sayangi. Mungkin kita tidak selalu bisa memberikan hadiah seperti itu. Tapi, ada empat hal yang bisa kita pikirkan agar hadiah kita benar-benar disukai oleh yang menerimanya.

Keinginan orang itu. Seorang pria di Belfast, Irlandia Utara, mendapat hadiah sepeda balap ketika berumur 10 atau 11 tahun. Baginya, itu hadiah yang terbaik. Kenapa? Dia berkata, ”Saya benar-benar ingin punya sepeda itu.” Ini menunjukkan bahwa kalau sebuah hadiah cocok dengan keinginan seseorang, dia akan menghargainya. Maka, pikirkanlah apa yang dianggap penting oleh orang itu. Sering kali, itu memengaruhi keinginannya. Misalnya, kakek dan nenek biasanya menganggap penting waktu bersama keluarga. Mereka mungkin ingin sering bertemu dengan anak dan cucu mereka. Jadi, kalau mereka diajak berlibur bersama keluarga, mereka pasti menganggap itu lebih berharga daripada hadiah lain.

Supaya kita bisa tahu keinginan seseorang, kita harus mendengarkan baik-baik. Alkitab menasihati kita untuk ”cepat mendengar, lambat berbicara”. (Yakobus 1:19) Sewaktu mengobrol dengan teman atau keluarga Anda, dengarkan baik-baik apa yang dia sukai dan tidak sukai. Dengan begitu, Anda bisa tahu hadiah apa yang mungkin dia sukai.

 Kebutuhan orang itu. Meski hadiah kita sederhana, kalau itu berguna bagi yang menerimanya, dia pasti akan sangat menghargainya. Tapi, bagaimana kita bisa tahu apa yang dia butuhkan?

Sepertinya cara yang paling mudah adalah bertanya langsung kepadanya. Tapi bagi banyak orang, hal itu bisa mengurangi senangnya memberi. Jadi, mereka lebih suka memberikan hadiah kejutan. Selain itu, meski ada orang yang mau memberi tahu kita apa yang mereka sukai atau tidak sukai, sering kali mereka tidak memberi tahu apa yang mereka butuhkan.

Maka, perhatikan keadaan orang itu. Apakah dia muda, tua, lajang, menikah, janda atau duda, bekerja, atau sudah pensiun? Lalu, pikirkan apa yang biasanya dibutuhkan orang yang keadaannya seperti itu.

Untuk memahami apa yang orang itu butuhkan, bertanyalah kepada orang lain yang keadaannya sama. Mereka mungkin bisa memberi tahu apa yang mereka butuhkan, yang umumnya tidak diketahui orang. Dengan begitu, Anda bisa memberikan hadiah yang benar-benar dia butuhkan.

Waktunya. Alkitab berkata, ”Sepatah kata pada waktu yang tepat oh, betapa baiknya!” (Amsal 15:23) Ayat ini menunjukkan bahwa kata-kata kita besar pengaruhnya kalau diucapkan pada waktu yang tepat. Itu bisa membuat orang senang. Begitu pula tindakan kita. Kalau kita memberikan hadiah pada waktu yang tepat, orang yang menerimanya akan bahagia.

Misalnya, ada teman yang akan menikah, anak muda yang sebentar lagi lulus sekolah, atau suami istri yang akan punya anak. Di saat-saat seperti itu, orang sering memberikan hadiah. Ada yang mencatat tanggal-tanggal penting seperti itu untuk tahun berikutnya. Dengan begitu, mereka bisa merencanakan hadiah yang cocok jauh-jauh hari. *

Tentu, Anda bisa memberikan hadiah kapan saja, tidak hanya di kesempatan seperti itu. Tapi, Anda juga perlu berhati-hati. Misalnya, kalau seorang pria memberi seorang wanita hadiah tanpa alasan yang jelas, wanita itu bisa berpikir bahwa pria itu ingin mendekati dia. Kalau memang tidak ada niat seperti itu, lebih baik jangan memberikan hadiah. Yang menerimanya bisa salah paham, dan keadaannya menjadi sulit. Ini menunjukkan bahwa kita perlu memikirkan satu hal penting lagi, yaitu alasan memberikan hadiah.

Alasan memberikan hadiah. Seperti yang ditunjukkan contoh sebelumnya, kita perlu memikirkan apakah orang yang menerima hadiah bisa salah paham. Tapi, yang memberikan hadiah juga perlu memeriksa alasan dia melakukannya. Banyak orang mungkin merasa bahwa mereka memberikan hadiah dengan alasan yang mulia. Tapi, ada yang memberikan hadiah di kesempatan tertentu karena merasa harus melakukannya. Yang lain memberikan hadiah karena ingin mendapat balasan atau perlakuan istimewa.

Apa alasan yang baik untuk memberikan hadiah? Alkitab berkata, ”Semua yang kalian lakukan, lakukanlah dengan kasih.” (1 Korintus 16:14, Bahasa Indonesia Masa Kini.) Kalau Anda memberikan hadiah karena sayang dan peduli kepada seseorang, orang itu akan senang menerimanya. Anda pun akan merasa sangat bahagia karena bermurah hati. Kalau Anda memberi dengan tulus, Anda bisa menyenangkan Bapak kita yang di surga. Rasul Paulus memuji orang Kristen di Korintus ketika mereka dengan senang dan murah hati membantu rekan-rekan Kristen di Yudea. Paulus berkata kepada mereka, ”Allah mengasihi pemberi yang bersukacita.”—2 Korintus 9:7.

Kalau kita memikirkan empat hal tadi, kita bisa memberikan hadiah yang membuat orang lain bahagia. Allah juga membuat pengaturan untuk memberi manusia hadiah yang terbaik. Itu hadiah terbaik karena memenuhi keempat hal tadi, dan hal-hal lain lagi. Bacalah artikel berikutnya untuk mengetahui hadiah yang dimaksud.

^ par. 13 Banyak orang juga memberikan hadiah di hari ulang tahun atau hari raya. Tapi, perayaan seperti itu sering kali tidak sesuai dengan apa yang Alkitab ajarkan. Lihat artikel ”Pertanyaan Pembaca—Apakah Natal Cocok untuk Orang Kristen?” di majalah ini.