Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Sadarlah!  |  November 2015

 TOPIK UTAMA

Apakah Agama Sudah Tidak Penting?

Apakah Agama Sudah Tidak Penting?

Gaffar, yang lahir di Turki, terganggu dengan ajaran agamanya yang mengatakan bahwa Allah itu pendendam. Hediye, istrinya, mulai ragu dengan agamanya saat dia baru sembilan tahun. Dia berkata, ”Saya diajari untuk percaya takdir. Sebagai yatim piatu, saya bingung, ’Apa salah saya sampai jadi begini?’ Saya sering menangis semalaman. Saat umur 15, saya sudah tidak percaya lagi dengan agama saya.”

APAKAH Anda tidak percaya lagi dengan agama? Jika ya, Anda tidak sendiri. Di banyak negeri, semakin banyak orang tidak menjalankan kegiatan agamanya. Ini memperlihatkan masa depan agama yang tidak pasti. Perhatikan contoh dari beberapa negeri berikut.

 Kenapa Ditinggalkan?

Banyak orang kecewa dengan agama karena berbagai alasan. Contohnya, kekerasan dan teror yang didukung atau disetujui agama, skandal seks dari pemimpin agama, dan alasan lain yang kelihatannya kecil tapi bisa berdampak lebih besar. Ini termasuk hal-hal berikut:

  • Kekayaan materi: Global Index of Religion and Atheism berkata, ”Semakin kita kaya, kita semakin tidak peduli dengan agama.” Pengamatan ini benar karena di banyak negeri orang-orang semakin kaya. John V.C. Nye, profesor ekonomi, mengatakan bahwa di beberapa tempat, orang-orang menikmati ”gaya hidup yang bahkan bisa membuat raja terhebat 200 tahun yang lalu iri”.

    APA KATA ALKITAB: Alkitab mengatakan bahwa di ”hari-hari terakhir”, orang akan lebih mencintai uang dan kesenangan daripada Allah dan sesama. (2 Timotius 3:1-5) Karena tahu bahwa kekayaan bisa melemahkan imannya, seorang penulis Alkitab berkata kepada Allah Yehuwa, ”Jangan beri aku kemiskinan ataupun kekayaan.” Mengapa? ”Agar aku tidak menjadi kenyang lalu menyangkal engkau.”—Amsal 30:8, 9.

  • Tradisi dan moral agama: Banyak orang, terutama anak muda, memandang agama sudah tidak penting dan ketinggalan zaman. Yang lain tidak percaya lagi dengan agama. Tim Maguire, yang bekerja di Human Society Scotland berkata, ”Tingkah laku para pemimpin gereja selama beberapa abad membuat orang-orang meninggalkan mereka, karena orang tidak percaya lagi kepada mereka sebagai anutan moral.”

    APA KATA ALKITAB: Mengenai guru-guru palsu, Yesus memperingatkan, ”Dari buah-buahnya kamu akan mengenali mereka. . . . Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, tetapi setiap pohon yang busuk menghasilkan buah yang tidak berguna.” (Matius 7:15-18) ”Buah yang tidak berguna” ini termasuk mencampur agama dengan politik dan menyetujui tindakan yang membuat Allah tidak senang, seperti homoseksualitas. (Yohanes 15:19; Roma 1:25-27) Ini juga termasuk mengganti ajaran Kitab Suci yang bermanfaat dengan ritual dan kebiasaan yang tidak berguna. (Matius 15:3, 9) Padahal, Yesus berkata, ”Berilah makan domba-domba kecilku.” (Yohanes 21:17) Jadi, dia menyebutkan pentingnya memberi makan atau mengajar orang tentang Allah. Tapi, banyak pemimpin agama sekarang tidak begitu sehingga banyak orang kelaparan secara rohani.

  •   Agama dan uang: Menurut Pew Research Center, banyak orang merasa bahwa agama terlalu mementingkan uang. Lebih parah lagi, tidak seperti umat mereka, beberapa pemimpin agama menikmati gaya hidup yang mewah. Misalnya, di sebuah kota di Jerman, banyak anggota gereja bersusah payah mencari nafkah, sedangkan hidup uskup gereja sangat mewah. Gaya hidup ini membuat orang Katolik di sana marah. Majalah GEO melaporkan bahwa di Nigeria, ”ada 100 juta orang yang penghasilannya kurang dari 1 euro (sekitar 14.000 rupiah) per hari. Sedangkan, beberapa pastor hidupnya mewah dan ini mulai membuat masyarakat marah.”

    APA KATA ALKITAB: Penulis Alkitab bernama Paulus berkata, ”Kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah.” (2 Korintus 2:17, Terjemahan Baru) Meski Paulus adalah rohaniwan terkemuka di sidang jemaat Kristen masa awal, dia juga bekerja agar tidak membebani yang lain. (Kisah 20:34) Sikapnya menunjukkan bahwa dia mengikuti perintah Yesus, ”Kamu menerima dengan cuma-cuma, berikan dengan cuma-cuma.”—Matius 10:7, 8.

Sesuai dengan prinsip ini, Saksi Yehuwa tidak meminta sumbangan untuk bacaan atau pelajaran Alkitab. Dan, tidak ada perpuluhan atau kolekte di pertemuan ibadat mereka. Sebaliknya, kebutuhan keuangan terpenuhi melalui sumbangan pribadi secara sukarela.—Matius 6:2, 3.

Agama yang Ditinggalkan Sudah Dinubuatkan!

Beberapa puluh tahun lalu, orang-orang mungkin tidak akan meninggalkan agama. Tapi, Allah sudah memberi tahu dalam Alkitab bahwa ini akan terjadi. Allah menyebut semua agama yang tidak setia kepada-Nya seperti pelacur yang hidup mewah bernama ”Babilon Besar”.—Penyingkapan (Wahyu) 17:1, 5.

Sebutan ini cocok karena agama palsu yang mengaku setia kepada Allah, telah bekerja sama dengan para penguasa dunia. Tujuannya untuk mendapatkan kekuatan dan kekayaan. Penyingkapan 18:9 berkata, ”Raja-raja di bumi . . . melakukan percabulan dengannya.” Istilah ”Babilon” juga tepat karena kota Babilon di zaman dulu, penuh dengan agama palsu dan takhayul. Banyak ajaran dan praktek agama palsu berasal dari sana, seperti ajaran bahwa ada sesuatu yang terus hidup setelah seseorang mati dan allah tritunggal, serta praktek ilmu gaib. *Yesaya 47:1, 8-11.

Babilon yang kuat jatuh saat pasukan Media dan Persia bisa masuk dan menaklukkan kota itu karena air Sungai Efrat yang melindunginya ”menjadi kering”. (Yeremia 50:1, 2, 38) Dan, mereka menaklukkan Babilon dalam satu malam!—Daniel 5:7, 28, 30.

Babilon Besar juga ”duduk di atas air yang banyak”. Alkitab memberi tahu bahwa ini berarti ”kumpulan orang dan bangsa-bangsa”. Mereka adalah jutaan orang yang mendukung agama palsu. (Penyingkapan 17:1, 15) Alkitab mengatakan bahwa air kiasan ini akan mengering. Ini berarti bahwa Babilon di zaman modern akan segera dihancurkan. (Penyingkapan 16:12; 18:8) Tapi, oleh siapa? Oleh teman-teman politik yang awalnya mencintai dia, tapi akan membencinya. Mereka juga akan merampas atau secara kiasan memakan dagingnya.—Penyingkapan 17:16, 17. *

Air yang surut di sekeliling Babilon menggambarkan orang-orang yang meninggalkan Babilon Besar

“Keluarlah dari Dalamnya”!

Karena Babilon Besar akan segera dihancurkan, Allah dengan pengasih memperingatkan, ”Hai, umatku, keluarlah dari dalamnya, jika kamu tidak ingin mengambil bagian bersama dia dalam dosa-dosanya, dan jika kamu tidak ingin menerima bagian dari tulah-tulahnya.” (Penyingkapan 18:4) Perhatikan bahwa kata ”jika” disebutkan dua kali. Jelaslah, peringatan Allah ditujukan bagi mereka yang ingin menyenangkan Allah seperti Gaffar dan Hediye yang disebutkan di awal, yang resah dengan ajaran agama yang mencelakakan.

Sebelum belajar Alkitab, Gaffar menaati Allah hanya karena takut dihukum. Dia berkata, ”Saya lega karena belajar bahwa Yehuwa itu Allah yang pengasih dan Dia ingin kita menaati-Nya terutama karena kasih.” (1 Yohanes 4:8; 5:3) Hediye juga lega karena belajar bahwa Allah tidak menyebabkan dia menjadi yatim piatu dan bahwa keadaannya itu tidak ditakdirkan. Dia terhibur oleh kata-kata Alkitab seperti di Yakobus 1:13 yang mengatakan bahwa Allah tidak mencobai siapa pun. Dia dan Gaffar menerima kebenaran Alkitab dan meninggalkan ”Babilon”.—Yohanes 17:17.

Saat Babilon Besar dihancurkan, mereka yang sudah keluar darinya untuk ”menyembah Bapak dengan roh dan kebenaran” tidak akan celaka. (Yohanes 4:23) Mereka punya harapan untuk melihat bumi yang ”dipenuhi dengan pengetahuan akan Yehuwa seperti air menutupi dasar laut”.—Yesaya 11:9.

Jelaslah, agama palsu dan buahnya yang buruk akan lenyap karena Allah ”tidak dapat berdusta”. (Titus 1:2) Sebaliknya, ibadat yang benar akan ada untuk selamanya!

^ par. 16 Untuk keterangan lebih lanjut tentang Babilon Besar dan pandangan Alkitab mengenai keadaan orang mati, sifat Allah, dan ilmu gaib, lihat buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? Juga tersedia di www.jw.org/id.

^ par. 18 Lihat “Pandangan Alkitab—Akhir Dunia,” dalam artikel Sadarlah! ini.