Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Sadarlah!  |  Juli 2015

 BANTUAN UNTUK KELUARGA | KAUM MUDA

Jika Putus Hubungan

Jika Putus Hubungan

TANTANGANNYA

”Aku pikir aku sudah ketemu orang yang cocok buat aku. Aku pikir aku bisa hidup bahagia selamanya sama dia. Tapi, setelah dua bulan pacaran, aku harus putus. Aku tidak menyangka yang awalnya menyenangkan, ternyata cuma bertahan sebentar!”—Anna. *

”Kelihatannya kami punya banyak persamaan. Aku membayangkan kami pasti akan menikah. Lama-lama, aku mulai menyadari bahwa kami sangat berbeda. Begitu aku sadar bahwa pacaran sama dia adalah kesalahan yang sangat besar, aku putusin dia.—Elaine.

Apakah kamu pernah mengalami hal yang sama? Jika ya, artikel ini bisa membantu kamu mengatasinya.

YANG PERLU KAMU KETAHUI

Putus hubungan bisa menyakitkan, meski kamu yang memutuskannya. Seorang wanita muda bernama Sarah yang berpacaran selama enam bulan dan belakangan putus berkata, “Aku merasa sangat sakit! Dia pernah menjadi bagian hidupku, tapi tiba-tiba dia bukan siapa-siapa lagi. Lalu, waktu aku dengar lagu favorit kami, aku langsung ingat saat-saat yang menyenangkan bersamanya. Saat aku pergi ke tempat-tempat yang spesial buat kami, aku jadi kangen sama dia. Itulah yang aku rasakan meski aku yang putusin dia!”

Walau sakit, putus hubungan bisa menjadi hal yang baik. Elaine berkata, “Kamu tidak mau menyakiti perasaannya. Tapi, kalau sudah tidak cocok dan masih diteruskan, akhirnya pasti dua-duanya yang sakit.” Sarah setuju dan berkata, “Aku pikir, kalau waktu pacaran saja tidak bahagia, apalagi pas nikah nanti. Jadi yang terbaik adalah putus saja.”

Putus hubungan bukan berarti gagal. Masa pacaran bisa dikatakan sukses jika berhasil mencapai keputusan. Dan keputusan itu belum tentu adalah pernikahan. Jika kamu atau pacarmu merasa sangat tidak yakin dengan hubungan kalian, mungkin yang terbaik adalah memutuskan hubungan. Jika itu terjadi, putus hubungan tidak berarti kamu gagal. Bagaimana kamu bisa menghadapi hal ini?

 YANG BISA KAMU LAKUKAN

Terimalah kenyataan. Elaine, yang dikutip di awal, bercerita, “Aku kehilangan seseorang yang lebih dari teman, aku kehilangan sahabat.” Ketika kamu putus hubungan dengan seseorang yang dekat, perasaan sedih itu wajar. Adam, seorang anak muda berkata, “Putus hubungan pasti bikin sakit hati, walaupun kamu tahu inilah jalan terbaik.” Kamu mungkin merasakan hal yang sama seperti Raja Daud dalam Alkitab. Ia menulis sewaktu merasa sakit hati, “Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.” (Mazmur 6:6, Terjemahan Baru) Kadang, cara terbaik untuk menyembuhkan rasa sakit adalah dengan menjalaninya, bukan dengan menghindarinya. Menerima kenyataan bahwa keputusanmu membuat kamu merasa sakit adalah langkah awal agar bisa sembuh.Prinsip Alkitab: Mazmur 4:4.

Bergaullah dengan orang-orang yang menyayangi kamu. Memang, ini tidak mudah. Anna mengakui, “Awalnya aku tidak mau ketemu orang. Aku perlu waktu untuk berpikir dan mengerti apa yang sudah terjadi.” Pada waktunya, Anna menyadari pentingnya bergaul dengan teman-teman dekatnya yang bisa menguatkannya. “Sekarang pikiranku lebih baik dan perasaanku tidak sesedih dulu waktu baru putus.”—Prinsip Alkitab: Amsal 17:17.

Belajar dari pengalaman. Tanyai diri kamu, ‘Dari pengalaman ini, apakah ada hal yang perlu aku tingkatkan? Jika nanti pacaran lagi, apa yang akan aku lakukan dan yang tidak akan aku lakukan?’ Seorang wanita muda bernama Marcia berkata, “Setelah waktu berlalu, aku bisa melihat keadaan dengan lebih baik. Aku perlu waktu untuk berpikir dengan jernih dan tidak hanya menggunakan perasaan.” Adam yang disebutkan sebelumnya, juga memiliki perasaan yang sama. Ia berkata, “Aku perlu satu tahun untuk bisa pulih, bahkan aku butuh waktu lebih lama untuk belajar dari pengalaman ini. Apa yang aku alami membuatku lebih mengenal diriku sendiri, lawan jenis, dan cara menjalani suatu hubungan. Sewaktu putus dulu, perasaanku sakit sekali. Tapi, sekarang perasaanku sudah jauh lebih baik.”

Berdoalah tentang kekhawatiranmu. Alkitab berkata bahwa Allah “menyembuhkan orang-orang yang patah hati, dan membalut bagian-bagian yang sakit”. (Mazmur 147:3) Allah tidak menentukan jodohmu dan Ia juga tidak bisa disalahkan ketika kamu putus hubungan. Tapi, Allah sangat peduli dengan kesejahteraanmu. Curahkanlah isi hatimu kepada-Nya dalam doa.—Prinsip Alkitab: 1 Petrus 5:7.

^ par. 4 Beberapa nama dalam artikel ini telah diubah.