Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Sadarlah!  |  Mei 2015

 BANTUAN UNTUK KELUARGA | MEMBESARKAN ANAK

Mengajar Anak untuk Taat

Mengajar Anak untuk Taat

TANTANGANNYA

Anda sulit mengajar anak Anda yang berumur empat tahun untuk taat, dan akhirnya Anda selalu ikuti kemauannya.

  • Saat Anda minta dia lakukan sesuatu yang tidak dia sukai, dia tidak mau dengarkan Anda.

  • Saat Anda larang dia lakukan hal yang dia inginkan, dia malah merengek.

Anda pikir, ’Apa ini sementara saja? Apa saya tunggu saja sampai dia berubah?’

Anda bisa mengajar anak Anda untuk taat. Sebelum membahas caranya, mari kita lihat mengapa dia bersikap seperti itu.

MENGAPA ITU TERJADI

Ketika anak Anda lahir, tugas utama Anda adalah menjadi pengasuhnya. Anda harus siap setiap waktu. Dia hanya perlu menangis dan Anda langsung mendatanginya untuk cari tahu apa yang dia butuhkan. Tentu saja, ini harus dilakukan. Anak yang baru lahir memang harus terus mendapat perhatian.

Setelah berbulan-bulan diperlakukan seperti itu, wajarlah kalau anak Anda merasa bahwa dirinya adalah raja dan orang tuanya adalah pelayan yang akan selalu memenuhi permintaannya. Sewaktu umur dua tahun, dia mulai menyadari bahwa ”kerajaan kecil” miliknya telah runtuh. Orang tuanya tidak lagi menuruti perintahnya. Sekarang, dialah yang harus menaati perintah orang tuanya. Ini pasti mengejutkan bagi anak-anak! Karena itu, beberapa anak mulai merengek. Yang lain tidak mau taat karena ingin menguji sejauh mana orang tuanya akan memenuhi keinginannya.

Selama waktu yang sulit itu, orang tua perlu mengajar anak untuk menaati mereka. Jadi, orang tua perlu memberikan perintah yang jelas kepada sang anak agar dia tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi, bagaimana kalau sang anak malah mengabaikan atau menolak perintah itu, seperti cerita di awal artikel?

 YANG BISA ANDA LAKUKAN

Tunjukkan wewenang. Anak tidak akan menaati Anda sebagai pemimpin jika Anda tidak menunjukkan wewenang. Jadi, Anda perlu tunjukkan wewenang dengan cara yang seimbang. Beberapa puluh tahun belakangan ini, mereka yang mengaku ahli membuat istilah ”wewenang” terdengar kasar. Ada yang bahkan menganggap wewenang orang tua sebagai hal yang ”tidak etis” dan ”tidak bermoral”. Tapi, sikap serba boleh malah membuat anak bingung, bersikap semaunya, dan merasa berkuasa. Ini membuat mereka tidak bisa menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.—Prinsip Alkitab: Amsal 29:15.

Berikan disiplin. Sebuah kamus mengartikan disiplin sebagai ”pelatihan yang menghasilkan ketaatan dan pengendalian diri, sering kali dalam bentuk peraturan dan hukuman jika ada pelanggaran”. Tentu saja, disiplin tidak boleh berlebihan atau kasar. Di sisi lain, disiplin juga tidak boleh lembek atau tidak jelas karena dapat membuat sang anak tidak mau berubah.—Prinsip Alkitab: Amsal 23:13.

Harus jelas. Beberapa orang tua mungkin memberi perintah dengan cara ”bertanya”. (”Kamu mau kan bereskan kamarmu?”) Mungkin mereka pikir, ini mengajarkan sopan santun. Tapi, cara ini dapat membuat anak merasa bebas memilih lalu memutuskan sesuai kemauannya, sehingga orang tua menjadi pihak yang harus taat. Jadi, daripada menyerah, buatlah perintah yang jelas dalam bentuk pernyataan.—Prinsip Alkitab: 1 Korintus 14:9.

Harus tegas. Kalau Anda bilang tidak, jangan berubah, dan tunjukkan bahwa Anda satu suara dengan teman hidup Anda. Jika Anda sudah menetapkan suatu hukuman untuk tindakan tertentu, jalankan itu. Agar lebih mudah bagi Anda, dan juga anak Anda, jangan berdiskusi panjang lebar tentang mengapa aturan itu dibuat. Hendaknya ”Ya yang kamu katakan berarti ya, dan Tidak, tidak”.Yakobus 5:12.

Pengasih. Kehidupan dalam keluarga tidak diatur dengan cara demokrasi atau dengan cara diktator. Allah telah memberikan bimbingan kepada orang tua agar anak-anak dibesarkan dengan pengasih sehingga mereka menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Dalam menerapkan bimbingan Allah itu, Anda perlu memberikan disiplin agar anak Anda belajar pentingnya untuk taat dan hal itu juga membantu ia merasa dikasihi.