Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Sadarlah!  |  November 2013

 PANDANGAN ALKITAB

Perkawinan

Perkawinan

Apakah perkawinan sekadar hubungan yang disahkan?

”Yang telah Allah letakkan di bawah satu kuk hendaknya tidak dipisahkan manusia.”Matius 19:6.

APA KATA ALKITAB

Di mata Allah, perkawinan bukan sekadar aturan di masyarakat untuk mempersatukan pria dan wanita. Itu adalah ikatan suci. Alkitab mengatakan, ”Sejak awal ciptaan, ’[Allah] menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. Itulah sebabnya seorang pria akan meninggalkan bapak dan ibunya, dan keduanya akan menjadi satu daging’ . . . Oleh karena itu, apa yang telah Allah letakkan di bawah satu kuk hendaknya tidak dipisahkan manusia.” *Markus 10:6-9; Kejadian 2:24.

Kata-kata ”yang telah Allah letakkan di bawah satu kuk” tidak berarti setiap pasangan dijodohkan Allah. Sebaliknya, itu menunjukkan bahwa perkawinan adalah ikatan yang serius, karena penggagasnya adalah Sang Pencipta. Suami istri yang memahami itu pasti akan memandang perkawinan sebagai ikatan yang suci, yang tak boleh diakhiri. Dan, mereka akan semakin bertekad untuk membuat perkawinan mereka bahagia. Perkawinan mereka pun bisa semakin kuat jika mereka menjalankan peran masing-masing sesuai bimbingan Alkitab.

 Apa peran suami?

”Suami adalah kepala atas istrinya.”Efesus 5:23.

APA KATA ALKITAB

Agar urusan keluarga lancar, harus ada satu orang yang menjadi pembuat keputusan. Alkitab memberikan tugas itu kepada suami. Tapi, itu tidak berarti dia boleh menjadi diktator atau bertindak semena-mena. Juga, itu tidak berarti dia boleh seenaknya melempar tanggung jawab kepada istri, sampai sang istri akhirnya tak lagi merespeknya. Sebaliknya, Allah ingin suami bekerja keras memenuhi kebutuhan istrinya serta menghormati dia sebagai sahabat yang tepercaya. (1 Timotius 5:8; 1 Petrus 3:7) ”Suami-suami harus mengasihi istri mereka seperti tubuh mereka sendiri,” kata Efesus 5:28.

Kalau suami benar-benar mencintai istrinya, ia pasti akan menghargai bakat dan kesanggupan istrinya. Ia juga akan mendengarkan pendapatnya, khususnya dalam urusan keluarga. Dia tidak boleh memaksakan kehendaknya hanya karena dia kepala keluarga. Sewaktu Abraham menolak saran istrinya tentang persoalan keluarga, Allah Yehuwa memerintahkan, ”Dengarkanlah perkataannya.” (Kejadian 21:9-12) Akhirnya, karena Abraham dengan rendah hati menaati perintah itu, keluarganya bisa damai, bersatu, dan menikmati berkat Allah.

Apa peran istri?

”Istri-istri, tunduklah kepada suamimu.”1 Petrus 3:1.

APA KATA ALKITAB

Persis sebelum Allah memberi Adam seorang istri, Allah mengatakan, ”Tidak baik apabila manusia terus seorang diri. Aku akan menjadikan seorang penolong baginya, sebagai pelengkap dirinya.” (Kejadian 2:18) Ya, Allah menciptakan Hawa bukan untuk menyamai atau menyaingi suaminya, tetapi untuk menjadi pelengkapnya. Dengan bekerja sama, mereka bisa menjalankan tugas dari Allah, yaitu beranak cucu dan memenuhi bumi. —Kejadian 1:28.

Sewaktu mencipta, Allah telah memperlengkapi wanita secara fisik, mental, dan emosi agar ia bisa menjalankan perannya sebagai pelengkap bagi pria. Jika ia menggunakan karunia itu dengan bijak dan pengasih, perkawinannya akan sukses dan suaminya akan merasa tenteram dan bahagia. Bagi Allah, wanita seperti itu layak mendapat pujian. *Amsal 31:28, 31.

^ par. 5 Alkitab mengizinkan perceraian jika salah satu melakukan perzinaan.Matius 19:9.

^ par. 14 Ada banyak saran bagus tentang perkawinan dan keluarga dalam rubrik ”Bantuan untuk Keluarga” di Sedarlah!