Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Sadarlah!  |  Juni 2013

 BANTUAN UNTUK KELUARGA | PERKAWINAN

Bagaimana Mengakhiri Aksi Mogok Bicara

Bagaimana Mengakhiri Aksi Mogok Bicara

TANTANGANNYA

Bagaimana dua orang yang telah berikrar untuk saling mencintai bisa sampai tidak mau berbicara selama berjam-jam—atau bahkan berhari-hari? ’Paling tidak kami berhenti bertengkar,’ pikir mereka. Namun, persoalannya belum diselesaikan, dan mereka berdua merasa tidak nyaman.

MENGAPA ITU TERJADI

Pembalasan. Ada teman hidup yang mogok bicara untuk membalas dendam. Misalnya, katakanlah suami membuat rencana akhir pekan tanpa berembuk dengan istri. Sewaktu tahu, istri marah dan menuding suami berbuat sesukanya. Suami menanggapi dengan menyebut istri terlalu sensitif. Istri pergi dengan marah dan mogok bicara. Ia seolah berkata, ”Kamu bikin aku sakit hati, jadi aku akan bikin kamu sakit hati juga.”

Manipulasi. Ada yang menggunakan aksi mogok bicara sebagai sarana untuk mendapatkan keinginan mereka. Misalnya, bayangkan suami dan istri sedang merencanakan jalan-jalan, dan istri ingin mengajak orang tuanya. Suami keberatan. ”Kamu nikah sama aku, bukan sama orang tuamu,” katanya. Suami lalu melancarkan aksi mogok bicara, tidak mengacuhkan istri dengan harapan istri akan menyerah dan mengikuti keinginannya.

Tentu, berdiam diri untuk sementara bisa memberi suami istri kesempatan mendinginkan emosi ketika pertengkaran mulai tidak terkendali. Berdiam diri seperti itu bisa bermanfaat. Alkitab mengatakan bahwa ada ”waktu untuk berdiam diri”. (Pengkhotbah 3:7) Tetapi, bila digunakan sebagai sarana untuk membalas atau memanipulasi, aksi mogok bicara tidak hanya memperpanjang konflik tetapi juga mengikis respek suami istri kepada satu sama lain. Bagaimana supaya itu tidak sampai terjadi pada kalian?

 YANG BISA ANDA LAKUKAN

Langkah pertama untuk mengakhiri aksi mogok bicara adalah dengan menyadari apa itu sebenarnya—taktik yang, paling-paling, berhasil untuk sementara waktu. Memang, dengan tutup mulut, Anda bisa memuaskan hasrat untuk membalas atau memaksa teman hidup menyerah pada kemauan Anda. Tetapi, apakah memang begitu caranya Anda ingin memperlakukan seseorang yang kepadanya Anda sudah berikrar untuk mencintai? Ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan konflik.

Miliki pengertian. Alkitab mengatakan bahwa kasih ”tidak terpancing menjadi marah”. (1 Korintus 13:4, 5) Jadi, jangan bereaksi berlebihan terhadap pernyataan emosional seperti ”Kamu enggak pernah dengar aku” atau ”Kamu selalu telat”. Sebaliknya, cobalah pahami maksud di balik kata-kata itu. Misalnya, ”Kamu enggak pernah dengar aku” mungkin sebenarnya berarti ”Aku merasa kamu enggak anggap serius pendapatku”.—Prinsip Alkitab: Amsal 14:29.

Pandang teman hidup Anda sebagai kawan bukan lawan

Rendahkan suara Anda. Pertengkaran cenderung semakin menjadi-jadi kalau itu berlanjut. Di pihak lain, Anda bisa mengubah arah pembicaraan yang memanas. Caranya? Buku Fighting for Your Marriage berkata, ”Melembutkan nada suara Anda dan menerima pendapat teman hidup adalah cara ampuh yang bisa Anda gunakan untuk meredakan ketegangan dan mengakhiri pertengkaran yang memanas. Sering kali, itu saja sudah cukup.”—Prinsip Alkitab: Amsal 26:20.

Pikirkan ”kita” bukan ”aku”. Alkitab berkata, ”Biarlah masing-masing tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri, melainkan bagi orang lain.” (1 Korintus 10:24) Jika Anda memandang teman hidup sebagai kawan bukan lawan, Anda tidak akan gampang tersinggung, bertengkar, lalu menolak untuk berbicara dengan dia.—Prinsip Alkitab: Pengkhotbah 7:9.

Aksi mogok bicara berlawanan dengan pengingat dari Alkitab, ’Hendaklah kamu masing-masing secara perorangan mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri; sebaliknya, istri harus memiliki respek yang dalam kepada suaminya.’ (Efesus 5:33) Bagaimana kalau Anda dan teman hidup membuat kesepakatan bahwa aksi mogok bicara tidak boleh ada dalam perkawinan kalian?