Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Sadarlah!  |  Oktober 2011

 Kaum Muda Bertanya

Siapa Diriku?

Siapa Diriku?

Deni melihat Carlos, dan ia deg-degan. ”Hoi, Den, cobain nih!” kata Carlos. Carlos membuka tangannya, dan Deni melihat apa yang sudah ia duga—lintingan ganja. Ia tidak mau menerimanya, tetapi ia juga tidak mau dibilang kurang gaul. ”Gimana ya,” kata Deni pelan, ”lain kali aja deh . . . ”

Selvi melihat Carlos, dan dia sudah tahu gelagatnya. ”Hoi, Vi, cobain nih!” kata Carlos. Carlos membuka tangannya, dan Selvi melihat apa yang sudah dia duga—lintingan ganja. ”Enggak deh,” kata Selvi dengan yakin. ”Aku enggak mau mati muda. Lagian, . . . masak kamu enggak tahu kalau itu berbahaya!”

DALAM skenario di atas, mengapa Selvi lebih sanggup menolak tekanan? Karena dia punya sesuatu yang tidak dimiliki Deni. Tahukah kamu apa itu? Jati diri. Itu bukanlah kartu identitas yang berisi nama dan fotomu. Jati diri adalah kesadaran tentang siapa dirimu dan apa pendirianmu. Berbekal pengetahuan tersebut, kamu mempunyai kekuatan untuk menolak godaan—untuk memegang kendali atas hidupmu alih-alih membiarkan orang lain yang mengendalikannya. Bagaimana kamu bisa mengembangkan kepercayaan diri seperti itu? Pertama-tama, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.

1 APA SAJA KELEBIHANKU?

Mengapa penting: Kamu akan lebih percaya diri jika kamu tahu apa saja kelebihan dan sifat-sifat positifmu.

Pikirkan: Masing-masing orang punya kelebihan. Misalnya, ada yang berbakat dalam bidang seni atau musik, dan ada yang lebih jago dalam olahraga. Rachel pintar memperbaiki mobil. * ”Sejak umurku 15,” katanya, ”Aku sudah ingin jadi montir.”

Contoh Alkitab: Rasul Paulus menulis, ”Mungkin saya kurang pandai berbicara, tetapi mengenai pengetahuan, saya bukan orang yang bodoh.” (2 Korintus 11:6, Bahasa Indonesia Masa Kini) Karena memiliki pengetahuan yang saksama akan Tulisan-Tulisan Kudus, Paulus sanggup menyatakan pendiriannya sewaktu ditantang orang lain. Ia tidak membiarkan sikap negatif mereka menggoyahkan kepercayaan dirinya.2 Korintus 10:10; 11:5.

Periksa dirimu. Di bawah ini, tulis bakat atau keterampilanmu.

․․․․․

 Sekarang, uraikan sifat baik yang kamu miliki. (Misalnya, apakah kamu penuh perhatian? murah hati? dapat diandalkan? tepat waktu?)

․․․․․

”Aku selalu siap menolong orang. Kalau ada yang ingin bicara pas aku lagi sibuk, aku akan berhenti dulu dan siap mendengarkan.”—Brianne.

Jika kamu sulit mengenali sifat baikmu, pikirkan dalam satu hal apa kamu sudah menjadi lebih baik seraya kamu makin dewasa sekarang, dan tulis di bawah.—Sebagai contoh, lihat  kotak ”Apa Kata Teman-Temanmu”.

․․․․․

2 APA SAJA KEKURANGANKU?

Mengapa penting: Sama seperti sebuah rantai yang kuat bisa putus gara-gara satu mata rantainya yang rapuh, begitu pula jati dirimu bisa rusak jika kamu tidak bisa memegang kendali atas satu saja kekuranganmu.

Pikirkan: Tak ada manusia yang sempurna. (Roma 3:23) Semua orang pasti punya sifat tertentu yang ingin diubah. ”Kenapa ya aku gampang marah?” ujar gadis bernama Seija. ”Cuma hal sepele aja bikin aku jengkel, aku langsung mencak-mencak!”

Contoh Alkitab: Paulus menyadari kekurangannya. Ia menulis, ”Aku, yaitu manusia batiniahku, benar-benar menyukai hukum Allah, tetapi aku melihat dalam anggota-anggota tubuhku suatu hukum lain yang berperang melawan hukum pikiranku dan menjadikan aku tawanan hukum dosa.”Roma 7:22, 23.

Periksa dirimu. Kekurangan apa saja yang perlu kamu kendalikan?

․․․․․

”Biasanya, sehabis nonton film romantis, aku jadi agak sedih dan rasanya ingin jatuh cinta sama seseorang. Sekarang, aku sadar aku harus hati-hati sama hiburan kayak gitu.”—Bridget.

3 APA SAJA TUJUANKU?

Mengapa penting: Bila kamu punya tujuan, kehidupanmu akan terarah dan bermakna. Kamu juga akan cenderung menghindari orang dan situasi yang bisa menyulitkanmu mencapai tujuan yang telah kamu tetapkan.

Pikirkan: Maukah kamu menaiki taksi lalu menyuruh sopirnya terus berputar-putar sampai bensinnya habis? Itu tindakan yang konyol dan mubazir! Dengan punya tujuan, kehidupanmu tidak akan berputar-putar tak menentu. Kamu tahu harus ke mana dan punya rencana untuk mencapainya.

Contoh Alkitab: Paulus menulis, ”Cara aku berlari bukanlah dengan tidak menentu.” (1 Korintus 9:26) Sebaliknya daripada terombang-ambing dan pasrah, Paulus menetapkan tujuan lalu hidup selaras dengan tujuan itu.—Filipi 3:12-14.

 Periksa dirimu. Di bawah ini, tulis tiga tujuan yang ingin kamu raih selama satu tahun ke depan.

  1. ․․․․․
  2. ․․․․․
  3. ․․․․․

Nah, pilih tujuan yang kamu anggap paling penting, dan tulis apa yang akan kamu lakukan dari sekarang untuk mencapainya.

․․․․․

”Kalau aku enggak punya kesibukan, hidupku jadi enggak jelas. Lebih baik punya tujuan dan berupaya meraihnya.”—José.

4 APA SAJA KEYAKINANKU?

Mengapa penting: Tanpa keyakinan, kamu akan menjadi orang yang plinplan. Ibarat bunglon, kamu akan mengubah-ubah warna supaya sama dengan teman-temanmu—yang menunjukkan bahwa kamu tidak punya jati diri.

Pikirkan: Alkitab menganjurkan orang Kristen agar ”menyimpulkan kehendak Allah yang baik dan diperkenan dan sempurna”. (Roma 12:2) Bila kamu bertindak sesuai keyakinanmu, itu berarti kamu memiliki pendirian—tidak soal apa yang orang lain lakukan.

Contoh Alkitab: Sewaktu remaja, nabi Daniel ”bertekad dalam hatinya” untuk menaati hukum Allah, meskipun ia berada jauh dari keluarga dan rekan-rekan seimannya. (Daniel 1:8) Dengan demikian, ia tetap memiliki pendirian. Daniel hidup selaras dengan keyakinannya.

Periksa dirimu. Apa saja keyakinanmu? Misalnya:

  • Apakah kamu percaya kepada Allah? Nah, mengapa? Bukti apa yang meyakinkan kamu bahwa Ia ada?
  • Apakah kamu percaya bahwa standar moral Allah baik bagimu? Kalau ya, mengapa? Misalnya, apa yang meyakinkanmu bahwa dengan menaati hukum Allah sehubungan dengan seks akan membuatmu lebih bahagia ketimbang ikut-ikutan gaya hidup ”bebas” teman-temanmu?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak harus langsung dijawab. Pertimbangkan dahulu alasan kamu memercayainya. Dengan begitu, kamu pun akan lebih sanggup membela keyakinanmu.Amsal 14:15; 1 Petrus 3:15.

”Anak-anak di sekolah suka memanfaatkan kita kalau kita minder, dan aku enggak mau minder soal kepercayaanku. Makanya aku berupaya untuk makin memahami dan meyakini kepercayaanku. Ini bukan soal bilang, ’Enggak deh, itu dilarang agamaku,’ tapi soal, ’menurutku itu enggak benar.’ Itulah yang aku yakini.”—Danielle.

Pada akhirnya, kamu ingin menjadi seperti yang mana—daun gugur yang diembus angin kesana kemari atau pohon yang tahan menghadapi badai yang dahsyat? Perkuat jati dirimu, dan kamu akan menjadi seperti pohon itu. Dan, kamu pun bisa menjawab pertanyaan, Siapa diriku?

Kalau jati dirimu kuat, kamu akan seperti pohon yang akarnya kokoh, sanggup menghadapi badai yang dahsyat

^ par. 8 Beberapa nama dalam artikel ini telah diubah.