Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Sadarlah!  |  September 2011

 Kaum Muda Bertanya

Siapakah Teman Sejatiku?

Siapakah Teman Sejatiku?

”Cindy membuka wawasanku. Bersamanya, aku bisa kenal banyak orang dan mencoba hal-hal baru. Pokoknya seru deh. Persahabatan dengan Cindy benar-benar mengubah hidupku!”—Tara. *

Mustahilkah untuk punya persahabatan seperti itu? Jangan kecil hati. Kamu bisa menemukan teman sejati di sekitarmu. Artikel ini akan membantu kamu.

’TEMANKU banyak, tapi aku enggak punya sahabat.’ Itulah yang dikatakan Shania, 21 tahun, tentang perasaannya berada di antara orang banyak tetapi tidak merasa akrab dengan satu pun dari mereka. Perasaan itu bisa jadi sangat umum di antara orang-orang di jejaring sosial. ”’Daftar teman’ kita bisa jadi panjang banget dan kita kelihatan populer dan gaul,” kata Serena, 22 tahun, ”tapi kenyataannya, isinya cuma nama orang-orang yang tidak benar-benar kita kenal.” *

Mana yang lebih kamu sukai—ratusan nama dalam ’daftar teman’ atau beberapa sahabat sejati? Walau keduanya ada untungnya, teman sejatilah yang bisa membantu kamu melewati kesulitan dan bahkan bisa menganjurkan kamu menjadi orang yang lebih baik. (1 Korintus 16:17, 18) Nah, coba gunakan kriteria berikut untuk membantu kamu menentukan siapa di antara kenalanmu yang mungkin sudah menunjukkan sifat-sifat sahabat sejati.

TEMAN SEJATI DAPAT DIPERCAYA

”Temanku pernah curhat padaku, makanya aku pikir aku juga bisa curhat ke dia. Jadi, aku curhat deh kalau aku pernah naksir satu cowok. Eh, ternyata aku salah besar! Dia langsung cerita ke mana-mana!”—Belinda.

”Kalau sama Alan sih aku bebas cerita apa saja, dan aku yakin dia enggak bakal cerita ke mana-mana.”—Calvin.

Yang mana dari anak muda di atas yang punya teman sejati? Siapa di antara temanmu yang kamu rasa nyaman sebagai tempat mencurahkan perasaan? * Alkitab mengatakan bahwa ”teman sejati penuh kasih setiap waktu”.Amsal 17:17.

 Di bawah ini, tulis nama dua orang teman yang menurutmu bisa dipercaya.

  1. ․․․․․
  2. ․․․․․

TEMAN SEJATI RELA BERKORBAN

”Dalam persahabatan, ada saatnya salah satu menjadi rapuh. Sahabat sejati tahu kapan kita butuh bantuan dan segera turun tangan untuk menolong. Nah, giliran dia yang butuh bantuan, kita pun pasti akan menolongnya.”—Kelly.

”Sewaktu Mama meninggal, aku dapat sahabat baru. Awalnya kami belum begitu akrab, tapi kami sudah punya rencana untuk sama-sama pergi ke acara pernikahan. Ternyata, pemakaman Mamaku bertepatan dengan hari pernikahan itu. Tapi, aku enggak nyangka, dia justru datang ke pemakaman, bukan ke pernikahan. Saat itulah, aku tahu dia sahabat sejati!”—Lena.

Siapa di antara temanmu yang menunjukkan semangat rela berkorban? Teman sejati tidak akan ”mencari keuntungan bagi diri sendiri, melainkan bagi orang lain”.1 Korintus 10:24.

Di bawah ini, tulis nama dua orang teman yang menurutmu terbukti rela berkorban.

  1. ․․․․․
  2. ․․․․․

TEMAN SEJATI MEMBANTUMU JADI ORANG YANG LEBIH BAIK

”Ada yang enggak peduli sama prinsip atau hati nuraniku. Pokoknya aku harus loyal dan setuju-setuju saja. Itu namanya bukan sahabat sejati.”—Nadia.

”Kakakku sahabatku! Dia mendorong aku supaya berani coba hal-hal baru dan membantuku agar lebih supel. Walau kedengarannya enggak enak, dia ngomong apa adanya jika memang perlu.”—Amy.

”Kalau aku lagi punya problem, ada yang cuma nunggu sampai aku menyelesaikan sendiri masalahnya atau berusaha mengalihkan perhatianku. Mereka cuma bilang supaya aku cuekin masalahnya. Tapi, sahabatku justru menyuruh aku untuk tidak melupakan masalahnya; mereka kasih aku nasihat yang terus terang.”—Miki.

”Temanku melihat potensi dalam diriku yang tidak bisa dilihat orang lain dan dia mendorongku untuk meraih cita-citaku. Kalau perlu, dia bisa blak-blakan banget sama aku. Aku suka itu!”—Elaine.

Apakah teman-temanmu membantu kamu menjadi lebih baik, atau kamu malah menurunkan standarmu agar diterima? Amsal 13:20 berkata, ”Ia yang berjalan dengan orang-orang berhikmat akan menjadi berhikmat, tetapi ia yang berurusan dengan orang-orang bebal akan mengalami kemalangan.”

Di bawah ini, tulis nama dua orang teman yang menurutmu telah membantumu menjadi orang yang lebih baik.

  1. ․․․․․
  2. ․․․․․

Lihatlah nama-nama yang kamu tulis pada tiga bagian di atas. Kalau nama seseorang  muncul pada ketiga bagian itu, dialah teman sejati! Sebaliknya, kalau kamu kesulitan memikirkan siapa yang memenuhi kriteria di atas, jangan kecil hati. Boleh jadi calon teman sejatimu ada di sekitarmu. Mungkin hanya soal waktu untuk menemukan mereka. * Sementara itu, berbuatlah sebisa-bisanya untuk menjadi teman yang baik. ”Aku selalu siap menolong teman-temanku,” kata Elena, 20 tahun. ”Kalau mereka lagi butuh sesuatu, aku siap bantu. Kalau mereka lagi butuh teman bicara, aku siap dengar. Kalau mereka lagi sedih, aku siap hibur.”

Memang, kamu mungkin punya banyak kenalan, dan itu lebih baik daripada membatasi diri pada kelompok tertentu. (2 Korintus 6:13) Tetapi, bukankah kamu juga ingin punya beberapa teman sejati yang ”dilahirkan untuk waktu kesesakan”? (Amsal 17:17) ”Enak kenal banyak orang,” kata Jean, 20 tahun, ”tapi itu sama kayak punya lemari penuh baju yang bagus-bagus tapi enggak semuanya pas. Ujung-ujungnya, kita pasti cuma mau pakai baju yang cocok sama kita. Nah, begitu juga dengan teman sejati.”

 

^ par. 3 Beberapa nama dalam artikel ini telah diubah.

^ par. 5 Untuk informasi lebih lanjut tentang jejaring sosial, lihat artikel ”Kaum Muda Bertanya” di Sedarlah! Juli dan Agustus 2011.

^ par. 10 Kadang, menyimpan rahasia itu tidak bijaksana—misalnya, jika seorang teman melakukan kesalahan serius, terpikir untuk bunuh diri, atau terlibat dalam suatu kebiasaan yang merusak diri. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Sedarlah! Desember 2008, halaman 19-21, dan Mei 2008, halaman 26-29.

^ par. 30 Untuk informasi lebih lanjut, lihat artikel ”Kaum Muda Bertanya . . . Apakah Aku Butuh Sahabat yang Lebih Baik?” dalam Sedarlah! Maret 2009.