”Karena itu, matikanlah anggota-anggota tubuhmu yang bersifat duniawi sehubungan dengan percabulan, kenajisan, nafsu seksual, keinginan yang mencelakakan, dan keinginan akan milik orang lain, yang merupakan penyembahan berhala.”​—KOLOSE 3:5.

1, 2. Siasat apa yang Bileam gunakan untuk mencelakakan umat Yehuwa?

SEORANG nelayan pergi ke tempat yang paling disukainya. Ia ingin menangkap jenis ikan tertentu. Ia memilih umpan dan melemparkan pancingnya ke dalam air. Beberapa saat kemudian, tali pancingnya menegang, gagangnya melengkung, lalu ia menarik tangkapannya. Ia pun tersenyum karena umpan pilihannya tepat.

2 Pada tahun 1473 SM, seorang pria bernama Bileam memikir-mikirkan suatu umpan. Tetapi, mangsa yang menjadi sasarannya adalah umat Allah, yang berkemah di Dataran Moab, di perbatasan Tanah Perjanjian. Bileam mengaku diri sebagai nabi Yehuwa, namun ia sebenarnya hanyalah pria tamak yang diupahi untuk mengutuki Israel. Tetapi, melalui campur tangan Yehuwa, Bileam ternyata hanya bisa memberkati Israel. Karena bertekad untuk memperoleh upahnya, Bileam bernalar bahwa mungkin ia bisa membuat Allah mengutuk umat-Nya sendiri, seandainya mereka bisa digoda untuk melakukan dosa besar. Setelah siasat itu mantap, Bileam memasang umpannya, yaitu wanita-wanita muda Moab yang suka merayu.​—Bilangan 22:1-7; 31:15, 16; Penyingkapan 2:14.

3. Sejauh mana siasat Bileam berhasil?

3 Apakah siasat ini berhasil? Ya, sampai suatu taraf tertentu. Puluhan ribu pria Israel terpancing oleh umpan itu dengan melakukan ”hubungan amoral dengan putri-putri Moab”.  Mereka bahkan mulai menyembah allah-allah orang Moab, termasuk Baal Peor yang menjijikkan, yaitu dewa kesuburan, atau dewa seks. Akibatnya, 24.000 orang Israel binasa persis di perbatasan Tanah Perjanjian. Sungguh mengenaskan hasil akhirnya!​—Bilangan 25:1-9.

4. Mengapa ribuan orang Israel menjadi mangsa perbuatan amoral?

4 Mengapa malapetaka ini bisa terjadi? Banyak di antara mereka telah mengembangkan hati yang jahat akibat menjauh dari Yehuwa, Allah yang telah membebaskan mereka dari Mesir, memberi mereka makan di padang belantara, dan membawa mereka dengan aman ke tanah yang dijanjikan. (Ibrani 3:12) Ketika merenungkan hal itu, rasul Paulus menulis, ”Juga janganlah mempraktekkan percabulan, sebagaimana beberapa orang dari antara mereka telah melakukan percabulan, tetapi akhirnya jatuh, dua puluh tiga ribu orang dalam satu hari.” *​—1 Korintus 10:8.

5, 6. Mengapa catatan tentang dosa Israel di Dataran Moab bermanfaat bagi kita dewasa ini?

5 Catatan dalam Bilangan mengandung banyak pelajaran penting bagi umat Allah dewasa ini, yang berada di ambang tanah perjanjian yang jauh lebih unggul. (1 Korintus 10:11)  Misalnya, dunia telah tergila-gila dengan seks, sama seperti orang Moab zaman dulu tetapi dalam skala yang lebih besar. Selain itu, setiap tahun ribuan orang Kristen menjadi mangsa perbuatan amoral​—umpan yang pada dasarnya sama dengan umpan yang telah menjerat orang Israel. (2 Korintus 2:11) Dan, sama seperti Zimri, yang secara terang-terangan menggandeng seorang wanita Midian di depan mata banyak orang Israel memasuki kemahnya sendiri, ada di antara umat Allah dewasa ini yang menjadi pengaruh yang merusak dalam sidang Kristen.​—Bilangan 25:6, 14; Yudas 4.

6 Apakah Saudara melihat diri Saudara di Dataran Moab zaman modern? Dapatkah Saudara melihat pahala Saudara, yaitu dunia baru yang sudah lama ditunggu-tunggu, yang sudah di depan mata? Kalau begitu, berupayalah sebisa-bisanya untuk tetap berada dalam kasih Allah dengan mengindahkan perintah, ”Larilah dari percabulan.”​—1 Korintus 6:18.

Pemandangan di seberang Dataran Moab

APA PERCABULAN ITU?

7, 8. Apa ”percabulan” itu, dan apa yang dituai oleh orang yang melakukannya?

7 Seperti yang digunakan dalam Alkitab, kata ”percabulan” (bahasa Yunani, por·neiʹa) berlaku untuk hubungan seks yang tidak sah di luar pernikahan menurut Alkitab. Hal itu mencakup perzinaan, pelacuran, dan hubungan seks di antara orang-orang yang tidak terikat dalam perkawinan, maupun hubungan seks oral dan anal, serta perbuatan merangsang alat kelamin orang lain yang bukan teman hidupnya demi kepuasan seks. Ini juga termasuk perbuatan yang sama di antara orang-orang sesama jenis maupun bestialitas, atau hubungan seks dengan hewan. *

8 Pernyataan Alkitab sangat jelas: Orang yang melakukan percabulan tidak dapat tetap berada dalam sidang Kristen dan tidak akan menerima kehidupan abadi. (1 Korintus 6:9;  Penyingkapan 22:15) Selain itu, sekarang pun ia sendiri menderita banyak kerugian, yaitu kehilangan kepercayaan orang lain serta harga diri, ketidakharmonisan dalam perkawinan, hati nurani yang terganggu, kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit, dan bahkan kematian. (Baca Galatia 6:7, 8.) Untuk apa kita menempuh jalan yang penuh kesengsaraan? Sayang sekali, banyak yang tidak berpikir panjang sewaktu mengambil langkah pertama yang salah, yang sering sekali berkaitan dengan pornografi.

PORNOGRAFI​—LANGKAH PERTAMA

9. Apakah pornografi tidak berbahaya seperti kata orang? Jelaskan.

9 Di banyak negeri, pornografi dipajang secara terang-terangan di kios-kios majalah, ditonjolkan dalam musik dan televisi, dan hampir membanjiri Internet. * Apakah pornografi tidak berbahaya, seperti kata orang? Betapa kelirunya pendapat tersebut! Orang yang melihat pornografi bisa menjadi terbiasa bermasturbasi dan memupuk ”nafsu seksual yang mendatangkan aib”, yang dapat mengakibatkan kecanduan seks, hasrat yang menyimpang, ketidakharmonisan yang parah dalam perkawinan, dan bahkan perceraian. * (Roma 1:24-27; Efesus 4:19) Seorang peneliti menyamakan kecanduan seks dengan kanker, yang menurutnya ”akan terus bertumbuh dan menyebar, jarang menghilang dengan sendirinya, dan juga sangat sulit diobati dan disembuhkan”.

Menggunakan Internet hanya di ruang terbuka di rumah adalah haluan berhikmat

10. Dengan cara apa saja kita dapat menerapkan prinsip di Yakobus 1:14, 15? (Lihat juga kotak ” Mendapatkan Kekuatan untuk Bisa Bersih Secara Moral”.)

10 Perhatikan kata-kata yang dicatat di Yakobus 1:14, 15, ”Masing-masing dicobai dengan ditarik dan dipikat oleh keinginannya sendiri. Kemudian apabila keinginan itu telah menjadi subur, ia akan melahirkan dosa; selanjutnya apabila dosa telah  terlaksana, ia akan menghasilkan kematian.” Jadi, apabila keinginan yang buruk memasuki pikiran Saudara, segeralah bertindak untuk menyingkirkannya! Contohnya, kalau Saudara tidak sengaja melihat gambar-gambar yang cabul, cepat palingkan muka, atau matikan komputer, atau ganti saluran TV. Lakukan apa saja yang perlu agar Saudara tidak sampai menyerah kepada keinginan amoral, sebelum itu menjadi tak terkendali dan mengalahkan Saudara!​—Baca Matius 5:29, 30.

11. Sewaktu melawan keinginan yang salah, bagaimana kita dapat menunjukkan bahwa kita percaya kepada Yehuwa?

11 Itulah sebabnya, Pribadi yang lebih mengenal kita daripada kita sendiri menasihati, ”Karena itu, matikanlah anggota-anggota tubuhmu yang bersifat duniawi sehubungan dengan percabulan, kenajisan, nafsu seksual, keinginan yang  mencelakakan, dan keinginan akan milik orang lain, yang merupakan penyembahan berhala.” (Kolose 3:5) Memang, melakukan hal itu bisa jadi sulit. Tetapi ingatlah, kita mempunyai Bapak di surga yang pengasih dan sabar yang bisa dimintai pertolongan. (Mazmur 68:19) Maka, cepatlah berpaling kepada-Nya apabila hal-hal yang najis memasuki benak Saudara. Berdoalah meminta ”kuasa yang melampaui apa yang normal”, dan paksa diri Saudara untuk memikirkan hal-hal lain.​—2 Korintus 4:7; 1 Korintus 9:27; lihat kotak ” Bagaimana Saya Dapat Menghentikan Kebiasaan Buruk?”.

12. Apa ’hati’ itu, dan mengapa kita harus melindunginya?

12 Salomo, pria yang berhikmat, menulis, ”Lebih daripada semua hal lain yang harus dijaga, jagalah hatimu, karena dari situlah keluar sumber kehidupan.” (Amsal 4:23) ’Hati’ adalah batin kita, bagaimana kita sebenarnya sebagai pribadi dalam pandangan Allah. Selain itu, penilaian Allah tentang ’hati’ kita​—bukan pandangan orang tentang diri kita—​yang menentukan apakah kita akan menerima kehidupan abadi atau tidak. Hal itu sangat sederhana, juga sangat serius. Ayub yang setia membuat perjanjian dengan matanya agar ia tidak memandang seorang wanita dengan tidak sopan. (Ayub 31:1) Benar-benar teladan yang bagus bagi kita! Sang pemazmur, yang berpikiran sama, berdoa, ”Palingkanlah mataku agar tidak melihat apa yang tidak berguna.”​—Mazmur 119:37.

PILIHAN DINA YANG TIDAK BIJAKSANA

13. Siapakah Dina, dan mengapa ia tidak bijaksana dalam memilih teman?

13 Seperti kita lihat di Pasal 3, pengaruh teman-teman kita bisa sangat kuat, ke arah yang baik atau buruk. (Amsal 13:20; baca 1 Korintus 15:33.) Perhatikan contoh Dina, putri Yakub. Meski telah dididik dengan baik sejak kecil, Dina berlaku tidak bijaksana, berteman dengan gadis-gadis Kanaan. Seperti orang Moab, orang Kanaan terkenal amoral. (Imamat 18:6-25) Di mata pria-pria Kanaan, termasuk Syikhem​—”orang yang paling terhormat” dalam keluarga bapaknya—​Dina kelihatannya adalah mangsa yang jinak.​—Kejadian 34:18, 19.

14. Karena salah memilih teman, hal buruk apa yang dialami Dina?

 14 Hubungan seks mungkin sama sekali tidak terlintas dalam benak Dina ketika ia bertemu dengan Syikhem. Tetapi, Syikhem melakukan apa yang dianggap wajar oleh kebanyakan orang Kanaan jika terangsang secara seksual. Perlawanan Dina pada saat-saat terakhir tidak banyak gunanya, karena pria itu ”membawanya” dan ”menodai kemurniannya”. Kelihatannya, Syikhem belakangan ”jatuh cinta” kepada Dina, tetapi hal ini tidak mengubah apa yang telah ia lakukan atas gadis itu. (Baca Kejadian 34:1-4.) Dan, bukan Dina saja yang menderita sebagai akibatnya. Karena salah memilih teman, terjadilah peristiwa-peristiwa yang mendatangkan aib dan cela ke atas seluruh keluarganya.​—Kejadian 34:7, 25-31; Galatia 6:7, 8.

15, 16. Bagaimana kita dapat memperoleh hikmat sejati? (Lihat juga kotak di  Ayat-Ayat untuk Direnungkan.)

15 Andaikata Dina mendapat pelajaran penting, ia belajar melalui pengalaman pahit. Orang-orang yang mengasihi dan menaati Yehuwa tidak perlu belajar tentang kehidupan melalui pengalaman pahit. Karena mendengarkan Allah, mereka  memilih untuk ”berjalan dengan orang-orang berhikmat”. (Amsal 13:20a) Maka, mereka pun mengerti ”seluruh haluan mengenai apa yang baik” dan menghindari masalah serta kepedihan yang tidak perlu.​—Amsal 2:6-9; Mazmur 1:1-3.

16 Hikmat Allah tersedia bagi semua orang yang mendambakannya dan yang memenuhi keinginan tersebut dengan bertekun dalam doa dan secara teratur mempelajari Firman Allah serta bahan yang disediakan oleh budak yang setia dan bijaksana.  (Matius 24:45; Yakobus 1:5) Yang juga penting adalah kerendahan hati, yang terlihat dalam kerelaan untuk menaati nasihat berdasarkan Alkitab. (2 Raja 22:18, 19) Sebagai contoh, seorang Kristen mungkin pada prinsipnya setuju bahwa hatinya bisa licik dan nekat. (Yeremia 17:9) Tetapi jika ia bertindak tidak bijaksana, apakah ia cukup rendah hati untuk mau menerima nasihat serta bantuan yang tepat dan pengasih?

17. Gambarkan situasi yang boleh jadi timbul dalam sebuah keluarga, dan tunjukkan bagaimana seorang ayah bisa bernalar dengan putrinya.

17 Bayangkan situasi ini. Seorang ayah tidak mengizinkan putrinya pergi berduaan dengan seorang pemuda Kristen tanpa pendamping. Gadis itu menanggapinya dengan berkata, ”Apakah Papa tidak percaya kepada saya? Kami tidak akan melakukan apa yang salah!” Ia mungkin mengasihi Yehuwa dan punya niat baik, namun apakah ia ’berjalan dengan hikmat ilahi’? Apakah ia ’lari dari percabulan’? Atau, apakah ia dengan bodoh ”mempercayai hatinya sendiri”? (Amsal 28:26) Mungkin Saudara bisa menyebutkan prinsip-prinsip lain yang akan membantu ayah tersebut dan putrinya bernalar tentang hal itu.​—Lihat Amsal 22:3; Matius 6:13; 26:41.

YUSUF LARI DARI PERCABULAN

18, 19. Godaan apa yang muncul dalam kehidupan Yusuf, dan bagaimana ia menangani situasinya?

18 Seorang pemuda yang baik yang mengasihi Allah dan lari dari percabulan adalah Yusuf, adik tiri Dina. (Kejadian 30:20-24) Sewaktu masih kecil, Yusuf melihat sendiri akibat kebodohan kakak perempuannya. Pengalaman itu maupun keinginan Yusuf untuk tetap berada dalam kasih Allah tidak diragukan telah melindungi dia di Mesir bertahun-tahun kemudian ketika istri majikannya mencoba merayunya ”dari hari ke hari”. Tentu, sebagai budak, Yusuf tidak bisa meminta berhenti kerja begitu saja dan pergi! Ia harus menangani situasinya dengan bijaksana dan berani. Hal ini ia lakukan dengan berulang kali mengatakan tidak kepada istri Potifar dan, akhirnya, dengan lari darinya.​—Baca Kejadian 39:7-12.

 19 Coba pikirkan sejenak: Seandainya Yusuf berkhayal tentang wanita itu atau terbiasa melamun tentang seks, apakah ia bisa tetap tidak bercela di hadapan Allah? Kemungkinan besar tidak. Daripada terus memikirkan perbuatan dosa, Yusuf sangat menghargai hubungannya dengan Yehuwa, yang nyata dari kata-katanya kepada istri Potifar. ”Majikanku,” katanya, ”sama sekali tidak menahan apa pun dariku kecuali engkau, sebab engkau istrinya. Jadi bagaimana mungkin aku dapat melakukan kejahatan yang besar ini dan berdosa terhadap Allah?”​—Kejadian 39:8, 9.

20. Bagaimana Yehuwa mengatur keadaan Yusuf?

20 Bayangkan sukacita yang pasti Yehuwa rasakan ketika mengamati Yusuf muda, yang jauh dari keluarganya, menjaga diri tak bercela dari hari ke hari. (Amsal 27:11) Belakangan, Yehuwa mengatur keadaan sehingga Yusuf tidak saja dibebaskan dari penjara, tetapi juga dijadikan perdana menteri dan pejabat urusan pangan di Mesir! (Kejadian 41:39-49) Sungguh tepat kata-kata di Mazmur 97:10, ”Hai, orang-orang yang mengasihi Yehuwa, bencilah apa yang jahat. Ia menjaga jiwa orang-orangnya yang loyal; dari tangan orang-orang fasik dibebaskannya mereka”!

21. Bagaimana seorang saudara muda di sebuah negeri di Afrika memperlihatkan keteguhan moral?

21 Demikian pula dewasa ini, banyak hamba Allah memperlihatkan bahwa mereka ’membenci apa yang buruk, dan mengasihi apa yang baik’. (Amos  5:15) Seorang saudara muda di sebuah negeri Afrika mengingat bahwa seorang gadis, teman sekelasnya, pernah dengan berani menawarkan hubungan seks sebagai imbalan jika ia mau membantunya pada waktu ujian matematika. ”Saya segera menolak tawarannya,” katanya. ”Dengan menjaga diri tetap bersih, saya mempertahankan kehormatan dan harga diri saya, yang jauh lebih berharga daripada emas dan perak.” Memang, dosa bisa jadi memberikan ”kenikmatan sementara”, tetapi sensasi murahan seperti itu sering mendatangkan banyak kepedihan. (Ibrani 11:25) Lagi pula, hal tersebut tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang langgeng karena menaati Yehuwa.​—Amsal 10:22.

TERIMALAH BANTUAN DARI ALLAH BELAS KASIHAN

22, 23. (a) Jika seorang Kristen melakukan dosa serius, mengapa ia masih mempunyai harapan? (b) Bantuan apa yang tersedia bagi pelaku kesalahan?

22 Karena tidak sempurna, kita semua berjuang untuk menaklukkan keinginan daging dan melakukan apa yang benar di mata Allah. (Roma 7:21-25) Yehuwa menyadari hal itu, ”Ia ingat bahwa kita ini debu”. (Mazmur 103:14) Namun, kadang-kadang, seorang Kristen mungkin melakukan dosa serius. Apakah tidak ada harapan lagi baginya? Tentu saja ada! Memang, si pelaku kesalahan mungkin menuai buah yang pahit, seperti halnya Raja Daud. Tetapi, Allah selalu ”siap mengampuni” orang yang sangat menyesal dan ’secara terbuka mengakui’ dosa-dosanya.​—Mazmur 86:5; Yakobus 5:16; baca Amsal 28:13.

23 Selain itu, bagi sidang Kristen, Allah dengan baik hati menyediakan ”pemberian berupa manusia”, yaitu para gembala rohani yang matang, yang selain andal juga siap menolong. (Efesus 4:8, 12; Yakobus 5:14, 15) Tujuan mereka adalah membantu pelaku kesalahan memulihkan hubungannya dengan Allah dan, sesuai dengan kata-kata Salomo yang berhikmat, untuk ”memperoleh akal budi” agar ia tidak mengulangi dosanya.​—Amsal 15:32.

 ’PEROLEHLAH AKAL BUDI’

24, 25. (a) Bagaimana pria muda yang digambarkan di Amsal 7:6-23 menunjukkan bahwa ia ”tidak berakal budi”? (b) Bagaimana kita dapat ”memperoleh akal budi”?

24 Alkitab menyebut tentang orang yang ”tidak berakal budi” dan orang yang ”memperoleh akal budi”. (Amsal 7:7) Karena tidak matang secara rohani dan tidak berpengalaman dalam dinas kepada Allah, seseorang yang ”tidak berakal budi” mungkin tidak memiliki daya pengamatan dan pertimbangan yang baik. Seperti pria muda yang digambarkan di Amsal 7:6-23, ia mungkin lebih mudah menjadi korban dosa serius. Tetapi, ”ia yang memperoleh akal budi” memeriksa baik-baik hatinya dengan mempelajari Firman Allah dan berdoa secara teratur. Dan sebisa-bisanya, sejauh yang dapat ia lakukan sebagai manusia yang tidak sempurna, ia menyelaraskan pikiran, hasrat, emosi, dan tujuan hidupnya dengan apa yang Allah perkenan. Dengan begitu, ia ”mengasihi jiwanya sendiri”, atau memperoleh berkat, dan ”akan menemukan yang baik”.​—Amsal 19:8.

25 Tanyalah kepada diri sendiri: ’Apakah saya yakin sepenuhnya bahwa standar-standar Allah itu benar? Apakah saya yakin benar bahwa dengan menaatinya saya akan memperoleh kebahagiaan terbesar?’ (Mazmur 19:7-10; Yesaya 48:17, 18) Jika Saudara memiliki keraguan, meskipun sedikit, berupayalah mengatasinya. Pikirkan baik-baik akibatnya apabila seseorang mengabaikan hukum Allah. Selain itu, ”kecaplah dan lihatlah bahwa Yehuwa itu baik” dengan menerapkan kebenaran dan memasukkan ke dalam pikiran Saudara hal-hal yang sehat​—yaitu yang benar, adil, murni, membangkitkan perasaan kasih, dan bajik. (Mazmur 34:8; Filipi 4:8, 9) Saudara dapat yakin bahwa semakin Saudara mengikuti anjuran itu, Saudara akan semakin mengasihi Allah, mengasihi apa yang Ia kasihi dan membenci apa yang Ia benci. Yusuf bukanlah manusia super. Namun, ia dapat ’lari dari percabulan’ karena ia membiarkan Yehuwa membentuknya selama bertahun-tahun, memberinya akal budi, atau akal sehat. Semoga Saudara melakukan hal yang sama.​—Yesaya 64:8.

26. Topik penting apa yang akan dibahas selanjutnya?

 26 Pencipta kita membuat organ-organ reproduksi bukan untuk dijadikan mainan guna memperoleh sensasi belaka, melainkan agar kita bisa menghasilkan keturunan dan menikmati keintiman dalam perkawinan. (Amsal 5:18) Pandangan Allah tentang perkawinan akan dibahas dalam dua pasal berikut.

^ par. 4 Angka yang disebutkan dalam Bilangan tampaknya mencakup para ”pemimpin rakyat” yang dihukum mati oleh para hakim, yang mungkin berjumlah 1.000 orang, dan orang-orang yang langsung dihukum oleh Yehuwa.​—Bilangan 25:4, 5.

^ par. 7 Untuk pembahasan tentang arti kenajisan dan tingkah laku bebas, lihat ”Pertanyaan Pembaca” dalam Menara Pengawal 15 Juli 2006, diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

^ par. 9 Kata ”pornografi”, seperti yang digunakan di sini, memaksudkan bahan-bahan yang cabul dengan maksud merangsang nafsu seksual, yang disajikan dalam bentuk gambar, tulisan, atau melalui suara. Pornografi bisa berupa gambar seseorang dengan gaya merangsang hingga penggambaran perbuatan seksual yang paling cabul antara dua orang atau lebih.

^ par. 9 Masturbasi dibahas di Apendiks ”Saudara Bisa Menang Melawan Masturbasi”.