Langsung ke konten

Langsung ke menu sekunder

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Indonesia

Jalan Menuju Kehidupan Abadi—Sudahkah Anda Menemukannya?

 BAGIAN 8

Tinggalkan Agama Palsu dan Jalankan Agama yang Benar

Tinggalkan Agama Palsu dan Jalankan Agama yang Benar

1. Pilihan apa yang harus dibuat orang-orang sehubungan dengan ibadat?

YESUS berkata, ”Dia yang tidak di pihakku melawan aku.” (Matius 12:30) Kita memihak Yehuwa atau memihak Setan. Kebanyakan orang berpikir bahwa mereka melayani Allah dengan cara yang benar, tetapi Alkitab mengatakan bahwa Setan ”sedang menyesatkan seluruh bumi yang berpenduduk”. (Penyingkapan [Wahyu] 12:9) Jutaan orang percaya bahwa mereka menyembah Allah, tetapi sebenarnya melayani Setan si Iblis! Jadi, orang-orang harus memilih: melayani Yehuwa, ”Allah kebenaran”, atau Setan, ”bapak dusta”.​—Mazmur 31:5; Yohanes 8:44.

Keluarlah dari Agama Palsu

2. Cara apa yang Setan gunakan supaya orang tidak menyembah Yehuwa?

2 Keputusan untuk melayani Yehuwa adalah pilihan yang bijaksana. Pilihan ini diperkenan Allah. Tetapi, Setan tidak menyukai orang-orang yang melayani Allah; ia mempersulit orang-orang yang melakukannya. Salah satu caranya adalah menggunakan orang lain, bahkan para sahabat atau kerabat untuk mengejek dan menentang kita. Yesus memperingatkan, ”Sesungguhnya, musuh orang adalah orang-orang dari rumah tangganya sendiri.”​—Matius 10:36.

3. Jika keluarga atau sahabat menentang ibadat Anda kepada Allah, apa yang akan Anda lakukan?

3 Kalau Anda mengalaminya, apa yang akan Anda lakukan? Banyak orang takut atau ragu melepaskan ibadat mereka meski tahu bahwa itu keliru. Bagi mereka, meninggalkan ibadat mereka berarti tidak setia atau tidak loyal pada keluarga. Tetapi coba pikir, jika Anda tahu ada  anggota keluarga menggunakan obat terlarang, bukankah Anda akan memperingatkan mereka bahayanya? Anda tentu tidak akan ikut-ikutan menggunakan obat itu, bukan?

4. Apa yang Yosua katakan kepada orang Israel mengenai ibadat di zamannya?

4 Bangsa Israel diingatkan oleh Yosua agar meninggalkan kebiasaan dan tradisi agama yang keliru dari leluhur mereka. Ia berkata, ”Maka sekarang, takutlah akan Yehuwa dan layani dia tanpa cela dan dalam kebenaran, dan singkirkan allah-allah yang dilayani bapak-bapak leluhurmu di seberang Sungai dan di Mesir, dan layanilah Yehuwa.” (Yosua 24:14) Yosua loyal kepada Allah, dan Yehuwa memberkatinya. Jika kita loyal kepada Yehuwa, Ia juga akan memberkati kita.​—2 Samuel 22:26.

Singkirkan Semua yang Berkaitan dengan Ibadat Palsu

5. Mengapa kita harus menyingkirkan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu gaib?

5 Untuk meninggalkan agama palsu, kita harus menghancurkan semua milik kita yang berkaitan dengan ilmu gaib, seperti jimat, cincin atau gelang ”sakti”, atau benda-benda sejenisnya. Ini penting karena dengan melakukannya kita menunjukkan bahwa kita benar-benar percaya pada Yehuwa.

6. Apa yang dilakukan orang-orang Kristen abad pertama terhadap buku ilmu gaib mereka?

6 Perhatikan apa yang dilakukan orang-orang Kristen abad pertama saat ingin menjalankan agama yang benar. Alkitab mengatakan, ”Cukup banyak dari antara mereka yang mempraktekkan ilmu gaib mengumpulkan buku-buku mereka dan membakarnya habis di hadapan semua orang.”​—Kisah 19:19.

7. Apa yang dapat kita lakukan bila diganggu hantu-hantu?

7 Beberapa yang mulai melayani Yehuwa tetapi pernah terlibat langsung dalam ilmu gaib, sihir, dan perdukunan bisa jadi diganggu hantu-hantu. Jika Anda mengalaminya, berteriaklah minta tolong kepada Yehuwa dalam doa dan gunakan nama-Nya. Ia akan menolong Anda.​—Amsal 18:10; Yakobus 4:7.

8. Bagaimana sikap orang Kristen terhadap benda-benda yang dipakai dalam ibadat palsu?

8 Mereka yang ingin melayani Yehuwa tidak boleh menyimpan atau menggunakan patung, lambang, atau gambar yang dipakai dalam ibadat palsu. Orang Kristen sejati ”berjalan dengan iman, bukan dengan apa yang kelihatan”. (2 Korintus 5:7) Mereka mematuhi hukum Allah yang melarangkan penggunaan patung dalam ibadat.​—Keluaran 20:4, 5.

Bergabunglah dengan Umat Yehuwa

9. Apa nasihat Alkitab agar kita bisa berhikmat?

9 Alkitab mengatakan, ”Ia yang berjalan dengan orang-orang berhikmat akan menjadi berhikmat.” (Amsal 13:20) Agar berhikmat, kita perlu berjalan, atau bergabung, dengan Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka adalah orang-orang yang menempuh jalan menuju kehidupan.​—Matius 7:14.

10. Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa membantu Anda melayani Allah?

10 Saksi-Saksi sangat peduli terhadap orang-orang. Pekerjaan mereka adalah membantu orang-orang yang tulus untuk memahami kebenaran Alkitab yang menghasilkan kehidupan abadi. Mereka senang membantu Anda belajar Alkitab tanpa bayaran. Mereka akan menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda dan menunjukkan caranya menjalankan ajaran Alkitab.​—Yohanes 17:3.

11. Bagaimana pertemuan ibadat bisa membantu Anda?

11 Dalam pertemuan ibadat mereka, disebut perhimpunan, biasanya di Balai Kerajaan, Anda akan belajar lebih banyak tentang jalan-jalan Yehuwa. Anda akan semakin ingin menjalankan agama yang benar. Dan, Anda juga akan dilatih agar bisa membantu orang lain mengetahui kebenaran Alkitab.​—Ibrani 10:24, 25.

12. Bagaimana doa bisa membantu Anda melayani Allah?

12 Semakin banyak pengetahuan Anda tentang kehendak dan maksud-tujuan Yehuwa, kemungkinan besar Anda akan semakin menghargai jalan-jalan-Nya yang pengasih. Anda juga hendaknya memupuk keinginan untuk menyenangkan Allah dan tidak menyakiti  hati-Nya. Ingatlah bahwa Anda bisa mendekat kepada Yehuwa dalam doa dan meminta-Nya membantu Anda melakukan yang benar dan menghindari yang salah.​—1 Korintus 6:9, 10; Filipi 4:6.

Bagaimana menjalankan ibadat yang benar?

13. Bagaimana Anda bisa membuat hati Yehuwa bersukacita?

13 Seraya Anda terus belajar, Anda akan tahu perlunya membaktikan diri dan dibaptis sebagai Saksi Yehuwa. Dengan bergabung bersama umat Yehuwa, Anda akan membuat hati Yehuwa bersukacita. (Amsal 27:11) Anda akan berada di antara umat yang berbahagia, yang tentangnya Allah mengatakan, ”Aku akan berdiam di antara mereka dan berjalan di antara mereka, dan aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatku.”​—2 Korintus 6:16.