Langsung ke konten

Langsung ke daftar isi

Saksi-Saksi Yehuwa

Pilih bahasa Indonesia

Rusia: Mengabar di Moskwa

 HAL-HAL MENARIK PADA TAHUN LALU

Laporan Hukum

Laporan Hukum

Pengakuan Hukum

Mendapat pengakuan secara hukum bukanlah hal utama bagi Saksi-Saksi Yehuwa dalam melakukan kegiatan keagamaan. Tapi, hal itu mempermudah kita untuk memiliki atau menyewa tempat untuk beribadat dan untuk mengirim bacaan kita.

  • Pada tahun 2014, pengadilan Rusia membubarkan badan hukum Saksi-Saksi Yehuwa di Moskwa. Akibatnya, saudara-saudari kita di Moskwa diperlakukan dengan semakin buruk. Polisi mengganggu mereka, orang-orang menyerang sewaktu mereka menginjil di tempat umum, dan para pemilik tempat pertemuan membatalkan kontrak sehingga saudara-saudari kita tidak memiliki tempat untuk beribadat. Pada tahun 2010, sebuah keputusan dari Mahkamah Eropa untuk Hak Asasi Manusia (ECHR) menyatakan bahwa Rusia telah melanggar hak asasi  Saksi-Saksi Yehuwa di Moskwa dan memerintahkan agar badan hukum mereka dipulihkan kembali. Kami senang melaporkan bahwa pada tanggal 27 Mei 2015, Departemen Kehakiman Federasi Rusia mendaftarkan kembali Organisasi Keagamaan Saksi-Saksi Yehuwa di Moskwa.

Pajak

Badan hukum Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia umumnya bebas pajak, sama halnya dengan organisasi amal dan keagamaan lainnya. Namun, ada juga pemerintahan yang membebankan pajak untuk organisasi kita.

  • Di Swedia, kalangan berwenang menyatakan bahwa Betel adalah perusahaan komersial yang anggotanya adalah ”karyawan”, dan bukan suatu komunitas keagamaan dari pelayan sepenuh waktu khusus. Pemerintah telah membebankan pajak sebesar ratusan juta rupiah untuk pajak perusahaan dan perorangan kepada Betel dan anggota Betel. Untuk menangani masalah ini, para Saksi di Swedia mengajukan gugatan ke pengadilan setempat dan menyerahkan enam permohonan berbeda kepada ECHR.

Kenetralan dan Penolakan Dinas Militer atas Dasar Hati Nurani

Saksi Yehuwa memandang serius perintah Alkitab untuk ”menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak” dan tidak ”belajar perang lagi”. (Yes. 2:4) Mereka tetap mempertahankan kenetralan meski beberapa pemerintahan tidak menyediakan dinas sipil alternatif.

  • Undang-undang yang berlaku di Korea Selatan tidak mengakui hak untuk menolak dinas militer atas dasar hati nurani. Selama 60 tahun terakhir ini, lebih dari 18.000 saudara telah dipenjarakan karena menolak dinas militer. Hampir setiap Saksi di negeri itu memiliki teman atau anggota keluarga yang pernah dipenjarakan. Pada tahun 2004 dan 2011, Mahkamah Konstitusi Korea Selatan menyatakan bahwa pemenjaraan itu sesuai dengan undang-undang. Namun pada Juli 2015, Mahkamah itu  mengadakan dengar pendapat untuk memeriksa lagi masalah tersebut. Saksi-Saksi Yehuwa di seputar dunia berdoa agar keputusan untuk masalah yang berkepanjangan ini akan membuat saudara-saudara muda di Korea Selatan tidak lagi dipenjarakan karena iman mereka.

  • Tiga Saksi Yehuwa di Eritrea telah menjalani 22 tahun masa tahanan mereka karena menolak dinas militer atas dasar hati nurani. Paulos Eyassu, Negede Teklemariam, dan Isaac Mogos tidak pernah dituntut secara resmi atau memiliki kesempatan untuk membuat pembelaan di pengadilan. Bersama dengan 50 saudara-saudari lainnya, mereka tetap mempertahankan kesetiaan meski diperlakukan dengan kasar dan ditahan dalam kondisi penjara yang mengenaskan. Kami yakin Yehuwa akan ’mendengar keluh kesah’ mereka yang dipenjarakan karena iman mereka dan akan bertindak demi mereka.Mz. 79:11.

  • Di Ukraina, Vitaliy Shalaiko menerima panggilan untuk dinas militer pada Agustus 2014. Ia menolak panggilan itu karena alasan hati nurani, namun ia bersedia untuk menjalankan dinas sipil alternatif. Jaksa menggugat Saudara Shalaiko karena menolak panggilan militer, namun baik pengadilan maupun pengadilan banding menyatakan bahwa ia tidak bersalah. Pengadilan banding menjelaskan bahwa masalah keamanan Negara  tidak bisa dijadikan alasan untuk membatasi hak asasi yang telah dijamin dan ”hak untuk menolak dinas militer berdasarkan hati nurani tidak bisa dibatasi meski ada masalah keamanan nasional”. Sang jaksa mengajukan banding lagi. Pada 23 Juni 2015, Pengadilan Tinggi untuk Kasus Pidana dan Perdata Ukraina mendukung keputusan pengadilan sebelumnya. Ini menegaskan bahwa hak berdasarkan hati nurani dan dinas alternatif berlaku bahkan saat keamanan negara terancam.

Ukraina: Vitaliy Shalaiko sedang mengabar

Mengenai hasil yang bagus dalam kasus ini, Saudara Shalaiko berkata, ”Saya dikuatkan oleh kata-kata di Yeremia 1:19. Saya siap apa pun keputusannya karena yang terpenting adalah tetap setia kepada Yehuwa. Saya yakin bahwa Dia tidak akan meninggalkan saya dan Dia akan menguatkan saya. Dan ternyata, hasilnya sangat mengejutkan. Saya dinyatakan tidak bersalah dalam tiga kasus pengadilan tersebut. Dan selama pemeriksaan, saya merasakan dukungan dari saudara-saudari. Saya tidak pernah merasa ditinggalkan.”

Kenetralan dan Upacara Patriotik

Upacara patriotik merupakan tantangan lain bagi kenetralan Kristen. Anak muda khususnya menghadapi tantangan yang menguji kesetiaan mereka kepada Yehuwa, karena pihak sekolah memaksa para muridnya untuk menyanyikan lagu kebangsaan atau memberi salut kepada bendera.

  • Di Karongi, sebuah Distrik di Rwanda, pihak sekolah menuduh beberapa murid Saksi tidak menghormati lagu kebangsaan karena mereka menolak untuk menyanyikannya. Para murid dikeluarkan dari sekolah dan bahkan dipenjarakan. Pada 28 November 2014, Pengadilan Karongi membebaskan para murid tersebut dan memutuskan bahwa menolak menyanyikan lagu kebangsaan bukanlah tindakan yang tidak menghormati lagu itu. Di negeri-negeri Afrika lainnya seperti Guinea Ekuatorial, Kamerun, Malawi, dan Republik Demokratik Kongo, anak muda Saksi menghadapi masalah yang sama dan dalam beberapa kasus mereka juga dikeluarkan dari sekolah. Saudara-saudara kita di negeri ini berupaya  menjelaskan kepada pejabat pemerintah dan pihak yang berwenang di sekolah tentang kenetralan Saksi Yehuwa.

  • Honduras: Mirna Paz dan Bessy Serrano akhirnya mendapatkan ijazah mereka

    Pada Desember 2013, sebuah sekolah di Lepaera, Honduras, tidak mau memberikan ijazah SMA kepada dua orang pelajar Saksi karena mereka menolak untuk menyanyikan lagu kebangsaan dan bersumpah setia pada bendera. Untuk menyelesaikan masalah ini, dua pengacara yang adalah Saksi Yehuwa menemui seorang wakil dari Departemen Pendidikan dan menyampaikan kepadanya contoh kasus hukum dari negeri-negeri lain yang mendukung pendirian para pelajar Saksi. Wakil dari departemen itu bersikap baik dan ia setuju agar kedua murid tersebut dan orang tua mereka menyampaikan masalah ini secara tertulis kepada kepala bagian hukum di Departemen Pendidikan Honduras. Setelah memeriksa permohonan mereka, ia mengeluarkan keputusan pada tanggal 29 Juli 2014, yang menyatakan bahwa pendidikan ”harus tersedia untuk [semua] kalangan tanpa ada diskriminasi apa pun”, dan ia memerintahkan agar para pelajar Saksi itu mendapatkan ijazah mereka.

Diskriminasi Pemerintah

Di semua negeri, sebagai Saksi Yehuwa, kita menaati perintah Yesus untuk memberitakan kabar baik Kerajaan kepada sesama  kita, untuk beribadat bersama rekan seiman, dan untuk mempelajari Firman Allah secara teratur. Kita juga memandang serius perintah Alkitab untuk menanamkan hukum Yehuwa ke dalam hati anak-anak kita dan untuk ”menjauhkan diri . . . dari darah”. (Kis. 15:20; Ul. 6:5-7) Kadang, menaati perintah ini bisa menimbulkan masalah dengan pemerintah karena mereka tidak memahami pendirian kita.

  • Di negara bagian Florida, AS, seorang hakim memberikan hak sepenuhnya kepada seorang ibu yang bukan Saksi Yehuwa untuk memberikan pendidikan agama kepada ketiga anaknya. Sang ayah yang adalah Saksi, diperintahkan untuk tidak memberikan pendidikan agama apa pun yang bertentangan dengan iman Katolik. Sang ayah mengajukan banding, dan pada 18 Agustus 2014, pengadilan banding membatalkan keputusan pengadilan sebelumnya. Berdasarkan contoh kasus yang sudah ada, pengadilan menyatakan, ”Pembatasan hak orang tua yang tidak mendapatkan hak asuh dalam mengajarkan kepercayaan agama kepada anaknya telah dibatalkan selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kegiatan agama tersebut akan membahayakan sang anak.”

    Keputusan ini membuat anak-anak tersebut memiliki hak untuk mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Yehuwa tanpa dibatasi. Mereka membuat kemajuan rohani yang bagus karena bergaul dengan sidang setempat. Sang ayah berkata, ”Bertahan menghadapi situasi ini membuat saya menjadi orang yang lebih baik. Saya mengalami cobaan yang menguji iman, tapi Yehuwa membantu saya tetap teguh! Saya tahu kalau kita memilih untuk melayani Yehuwa, kita pasti mengalami cobaan.”

  • Namibia: Efigenia Semente dengan ketiga anaknya

    Saudari Efigenia Semente, ibu tiga anak di Namibia, menghadapi ujian iman yang berat. Saat berada di rumah sakit untuk melahirkan anaknya yang ketiga, ia mengalami komplikasi. Beberapa petugas medis serta keluarganya yang bukan Saksi berhasil mendapatkan persetujuan dari pengadilan untuk memberinya transfusi darah. Saudari Semente berjuang mati-matian untuk menolak transfusi tersebut dan mengambil tindakan hukum  untuk membela haknya dalam memilih perawatan kesehatannya. Pada 24 Juni 2015, Mahkamah Agung Namibia meneguhkan permohonan Saudari Semente, dengan menyatakan bahwa ”hak untuk memilih apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap tubuh seseorang, entah dia adalah orang tua [sedang hamil] atau bukan, merupakan hak asasi yang tidak bisa diganggu gugat”. Saudari Semente berkata, ”Kami sungguh merasakan bantuan tangan Yehuwa. Betapa luar biasa bisa menjadi anggota persaudaraan ini. Yehuwa sungguh peduli.”

  • Para Saksi telah melakukan kesaksian di tempat umum di jalanan kota-kota besar di Swiss. Tapi, pemerintah kota Jenewa melarang penggunaan ”stan untuk menyebarkan informasi yang bersifat agama secara langsung atau tidak langsung di tempat umum”. Para Saksi mengajukan keberatan ke pengadilan. Mereka menandaskan bahwa larangan untuk menyebarkan informasi agama menggunakan stan ”merupakan pelanggaran serius atas kebebasan beragama dan berpendapat”. Pengadilan setuju, dan para Saksi berhasil bekerja sama dengan pemerintah setempat dalam menentukan tempat dan waktu yang cocok untuk kesaksian di tempat umum menggunakan stan.

  •   Pemerintah Azerbaijan meningkatkan tekanan mereka terhadap kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa. Kementerian Pertahanan Nasional sering memanggil para Saksi untuk ditanyai. Kementerian ini juga menggeledah rumah para Saksi untuk mencari bacaan keagamaan yang dilarang masuk ke Azerbaijan. Pada Februari 2015, dunia internasional terkejut sewaktu petugas dari Kementerian Pertahanan Nasional menahan dua Saksi, Irina Zakharchenko dan Valida Jabrayilova, hanya karena membagikan ajaran Alkitab kepada tetangga mereka. Walaupun kita sedih atas perlakukan buruk tersebut, kita senang karena para penyiar di Azerbaijan tetap bersemangat dan berani dalam membagikan ”kabar baik kerajaan” kepada orang-orang.Mat. 24:14.

  • Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa di Rusia terus menerus mendapat gangguan dari pemerintah. Sampai sekarang, ada 80 bacaan keagamaan dari Saksi-Saksi Yehuwa yang dinyatakan ”ekstremis” oleh Federasi Rusia. Artinya, siapa pun dilarang untuk membagikan atau memiliki bacaan yang dinyatakan ”ekstremis”, contohnya Buku Cerita Alkitab. Lalu, pada Desember 2014, situs Web kita, jw.org, juga dinyatakan ”ekstremis” oleh Mahkamah Agung Federasi Rusia. Seluruh penyedia internet di Rusia telah memblokir akses ke jw.org. Dan, memperkenalkan situs itu adalah tindakan yang melanggar hukum. Sejak Maret 2015, bea cukai melarang bacaan Saksi untuk masuk ke Rusia. Bahkan, Alkitab dan bacaan yang dinyatakan tidak ekstremis juga dilarang masuk.

Tindakan hukum terus berlanjut di kota Taganrog, di mana pemerintah menuduh 16 penyiar telah melakukan ”kejahatan” yaitu mengatur dan menghadiri pertemuan ibadat. Di kota Samara, pemerintah setempat mendapatkan perintah dari pengadilan untuk membubarkan badan hukum kita karena dinyatakan ”ekstremis”. Meskipun menghadapi banyak tantangan, saudara-saudari di Rusia bertekad untuk membayar ”perkara-perkara Allah kepada Allah”, dengan tidak menyerah kepada tantangan tersebut.Mat. 22:21.