Terang Kebenaran Mulai Bersinar

Kabar baik mencapai Sierra Leone pada 1915 sewaktu beberapa penduduk setempat kembali dari Inggris dan membawa pulang publikasi Alkitab. Sekitar bulan Juli tahun itu, tibalah Alfred Joseph. Dia adalah Saksi terbaptis yang pertama datang ke Freetown. Dia berusia 31 tahun dan berasal dari Guyana, Amerika Selatan. Pada awal tahun itu, dia dibaptis di Barbados, Hindia Barat, dan mendapat kontrak kerja di Freetown sebagai teknisi kereta api. Alfred tinggal di mes perusahaannya di Cline Town, sekitar tiga kilometer dari Pohon Kapas Freetown. Dia segera menceritakan berita Alkitab kepada teman-teman kerjanya.

Pada tahun berikutnya, mantan teman kerja Alfred di Barbados, Leonard Blackman, datang ke Freetown. Ibunya, Elvira Hewitt, adalah orang yang memberitakan kabar baik kepada Alfred. Leonard menjadi tetangga Alfred, dan mereka berdua rutin berdiskusi Alkitab. Mereka juga membagikan publikasi Alkitab kepada teman-teman dan para peminat.

Alfred dan Leonard melihat bahwa ladang di Freetown ”sudah putih dan siap untuk dipanen”. (Yoh. 4:35) Pada 1923, Alfred menyurati kantor pusat di New York, mengatakan, ”Ada banyak orang yang berminat pada Alkitab di sini. Apa bisa dikirim seseorang untuk membantu mereka dan membantu pengabaran di Sierra Leone?” Dia menerima balasan, ”Kami akan kirim seseorang!”

William ”Bible” Brown dan istrinya, Antonia

”Beberapa bulan kemudian, pada Sabtu malam, saya menerima telepon yang tidak diduga-duga,” kenang Alfred.

”’Apakah Saudara orang yang menulis ke Lembaga Menara Pengawal untuk meminta penginjil?’ tanya suara di ujung telepon.

 ”’Ya,’ jawab saya.

”’Saya yang mereka kirim,’ seru suara itu dengan lantang.

”Itu adalah suara William R. Brown. Dia dan istrinya, Antonia, serta putrinya tiba di Freetown pada hari itu dan menginap di Hotel Gainford.

”Esok paginya, ketika saya dan Leonard sedang mengadakan pembahasan Alkitab mingguan, tiba-tiba seseorang bertubuh besar muncul di pintu. Itu adalah William R. Brown. Dia sangat bersemangat sampai-sampai langsung mau menyampaikan khotbah umum esok harinya. Kami segera menyewa Wilberforce Memorial Hall, tempat pertemuan terbesar di Freetown. Lalu, kami menjadwalkan serangkaian empat khotbah umum, dan khotbah pertama disampaikan pada Kamis malam.

”Kelompok kecil kami jadi sibuk mengiklankan khotbah itu melalui koran, selebaran, dan dari mulut ke mulut. Kami penasaran akan reaksi penduduk setempat, tapi ternyata kami tidak perlu khawatir. Sekitar 500 orang memenuhi  ruangan itu, termasuk banyak pendeta di Freetown. Kami sangat bersukacita!”

Selama khotbah satu-jamnya, Saudara Brown banyak mengutip Alkitab dan menggunakan proyektor slide untuk menampilkan ayat-ayat Alkitab. Di saat yang sama, dia berulang kali mengatakan, ”Bukan kata Brown, tapi kata Alkitab.” Para penonton terpukau, dan mereka bertepuk tangan setiap kali suatu pokok selesai disampaikan. Yang membuat mereka takjub bukanlah kemampuan berkhotbah Saudara Brown, melainkan bukti Alkitab-nya yang kuat. Seperti yang dikatakan seorang mahasiswa sekolah teologi, ”Pak Brown kenal betul Alkitab-nya!”

1930

Khotbah-khotbah Saudara Brown mengguncang kota itu dan orang-orang berdatangan untuk mendengarkan. Pada hari Minggunya, tempat itu kembali penuh dengan orang-orang yang mendengarkan khotbah berjudul ”Ke Neraka dan Kembali—Siapa yang Berada di Sana?” Kebenaran ampuh yang disampaikan Saudara Brown pada malam itu bahkan membuat beberapa anggota terkemuka gereja mengundurkan diri dari gereja mereka.

Khotbah keempat dan terakhir dalam rangkaian khotbah itu, yang berjudul ”Jutaan Orang yang Sekarang Hidup Tidak Akan Pernah Mati”, menarik perhatian banyak sekali penduduk Freetown. Belakangan, seorang penduduk mengatakan, ”Gereja-gereja harus membatalkan ibadat malam mereka karena semua anggota mereka pergi ke khotbah Saudara Brown.”

Karena Saudara Brown selalu menggunakan Alkitab dan menunjukkan bahwa itu adalah wewenang tertinggi, orang-orang pun memanggil dia ”Bible” Brown (Brown Si Alkitab). Sebutan itu terus melekat pada dirinya dan terkenal di seluruh Afrika Barat. Sampai akhir kehidupannya di bumi, William R. Brown menyandang nama itu dengan bangga.