Suatu hari, ketika Hawa sendirian, seekor ular berbicara kepadanya. Ular itu bertanya, ’Apa benar Allah melarang kalian makan buah dari semua pohon?’ Hawa menjawab, ’Kami boleh makan buah dari semua pohon, tapi ada satu yang tidak boleh. Kalau kami makan buah itu, kami akan mati.’ Ular itu berkata, ’Kalian tidak akan mati. Malah, kalau kalian makan, kalian akan jadi seperti Allah.’ Apa itu benar? Tidak, itu bohong. Tapi Hawa percaya. Dia terus melihat buah itu dan semakin ingin memakannya. Akhirnya, dia makan buah itu dan memberikannya kepada Adam. Adam tahu bahwa mereka akan mati kalau tidak taat kepada Allah. Tapi, Adam tetap memakannya.

Sorenya, Yehuwa bertanya kepada Adam dan Hawa kenapa mereka tidak menaati Dia. Hawa menyalahkan ular itu, dan Adam menyalahkan Hawa. Karena Adam dan Hawa tidak taat, Yehuwa mengusir mereka dari taman itu. Supaya mereka tidak masuk lagi, Dia menaruh pedang api di pintu masuknya dan menyuruh malaikat menjaga pintu itu.

Yehuwa berkata bahwa yang membohongi Hawa juga akan dihukum. Yang berbicara kepada Hawa sebenarnya bukan ular. Yehuwa tidak membuat ular yang bisa berbicara. Ada malaikat jahat yang memakai ular itu untuk menipu Hawa. Malaikat itu disebut Setan atau Iblis. Supaya Setan tidak menipu orang lagi untuk berbuat jahat, Yehuwa akan memusnahkan dia.

”Iblis . . . menjadi pembunuh sejak dia mulai menyimpang . . . dia itu pendusta.”​—Yohanes 8:44