Mahkamah Agung Israel dan polisi setempat menjunjung kebebasan beragama dengan melindungi hak Saksi-Saksi Yehuwa untuk beribadah. Dalam keputusan baru-baru ini, Mahkamah Agung mewajibkan kota Ra’anana untuk menghormati kontraknya dengan Saksi-Saksi Yehuwa. Para Saksi menyewa Metro West Sports Center di kota itu untuk mengadakan dua kebaktian agama. Tapi, karena tekanan dari beberapa kelompok agama lain, kota madya itu akhirnya membatalkan kontrak 36 jam sebelum kebaktian itu dimulai.

Pengadilan Tinggi Menolak Pembatalan oleh Kota Madya Karena Diskriminasi

Saksi-Saksi Yehuwa telah menandatangani kontrak dengan kota Ra’anana untuk mengadakan kebaktian pada tanggal 18 April dan 2 Mei 2015. Para Saksi mulai curiga bahwa kebaktian itu akan dibatalkan ketika, pada tanggal 15 April, direktur jenderal kota itu menyatakan kekhawatirannya tentang keamanan acara pada tanggal 18 April mendatang. Kepala polisi kota sudah menjamin keamanan acara itu, tapi kota Ra’anana secara sepihak tetap membatalkan kontrak itu keesokan harinya. Media berita melaporkan bahwa kota itu menyerah pada tekanan dari anggota dewan agama, yang mengancam akan menarik dukungan politik mereka untuk kota itu, jika para Saksi diizinkan untuk mengadakan kebaktian.

Para Saksi segera mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Lod untuk mewajibkan kota itu agar menghormati kontrak. Tapi karena tidak cukup waktu, kebaktian pada tanggal 18 April tetap dibatalkan. Para Saksi akhirnya menemukan tempat lain untuk mengadakan kebaktian, tapi mereka harus membayar enam kali lipat dibandingkan dengan harga gedung olahraga itu.

Pada tanggal 29 April, Pengadilan Negeri Lod mengeluarkan perintah agar kota itu menghormati kontraknya. Perintah itu menyatakan bahwa ”Kota Madya [Ra’anana] melanggar hak-hak konstitusional [Saksi-Saksi Yehuwa], seperti kebebasan beragama dan beribadah, kebebasan berserikat dan berkumpul, hak untuk dihormati dan memiliki kebebasan, dan hak kesetaraan di hadapan hukum”. Kota itu segera mengajukan penangguhan terhadap permohonan para Saksi, tapi Mahkamah Agung menolaknya pada tanggal 1 Mei. Permohonan naik banding lainnya ditolak, dan keputusan pengadilan negeri tetap berlaku.

Polisi Melindungi Para Saksi

Mahkamah Agung mengeluarkan perintah yang tepat waktu, sehingga Saksi-Saksi Yehuwa bisa tetap mengadakan kebaktian pada tanggal 2 Mei. Para pemimpin agama setempat, termasuk pemimpin rabi kota itu dan anggota organisasi ultraortodoks yang dikenal dengan taktiknya yang jahat, mengatur agar ada sesi ”doa bersama” yang diikuti oleh 1.500 orang. Mereka berkumpul di depan gedung olahraga ketika 600 Saksi mulai datang untuk menghadiri kebaktian. ”Doa bersama” ini segera berubah menjadi protes massal. Beberapa pengunjuk rasa menyerang para Saksi, termasuk wanita dan anak-anak. Mereka menghina, meludahi, mencemooh para Saksi, membuat gerakan-gerakan cabul, dan merusak kendaraan pribadi. Polisi segera menghentikan para pengunjuk rasa itu. Dengan bantuan polisi, para Saksi bisa menikmati kebaktian dengan tenang dan kembali ke rumah dengan aman saat kebaktian selesai.

Saksi-Saksi Yehuwa di Israel berterima kasih kepada pemerintah Israel yang bertindak melawan ketidakadilan dan diskriminasi agama, dengan membela hak mereka untuk beribadah secara damai.